Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Mrnyimpan Amarah


__ADS_3

Madi dan Aulia kembali menjalani kehidupan sehari-harinya, sama seperti dulu. Membuka kembali kios di pasar dan menempati rumah mereka di sekitar pohon tua. Tetangga di sekitar rumah mereka pun terlihat senang dengan kepulangan mereka kembali. Rumah mereka tak lagi suram karena ada aktivitas di sana.


"Kang, hari ini hari pertama kembali kita buka kios sayuran di pasar," ucap Aulia sembari memasukkan beberapa bekal untuk makan siang nanti. Mereka harus bergegas ke pasar pagi ini, karena pasokan sayuran untuk mengisi kios, sebagian masih ada di pedagang pengumpul.


"Iya, Dik. Semoga berkah. Ayo, kalo sudah siap, kita segera pergi." Aulia mengangguk mendengar ucapan suaminya. Mobil pun perlahan melaju meninggalkan rumah. Di sekitar pohon tua itu terdapat tatapan dingin makhluk-makhluk penghuninya. Memancarkan aura negatif. Sesajrn berupa kembang tujuh rupa juga banyak terdapat di sekitar pohon tua dan besar itu.


Bau kemenyan dan dupa juga menyelubungi daerah sekitar pohon tua itu. Sungguh pemandangan yang membuat miris. Makhluk-makhluk itu seperti menunggu saat yang tepat untuk beraksi.


"Kang, suasana di sekitar pohon tua itu, masih mencekam sampai sekarang?" ucap Aulia, sesaat mereka sudah berada cukup jauh dari pohon tua itu.


"Iya, Dik. Benar. Semoga saja tak akan ada lagi korban yang jatuh akibat ulah para penghuni pohon tua itu."


Aulia mengangguk. Sudah ada beberapa nyawa yang melayang akibat kelakuan makhluk-makhluk astral tersebut. Meski sudah beberapa kali pula para warga mencoba mengusir dan menebang pohon tua itu, tapi bukannya bisa ditebang, malahan orang yang berniat menebang jadi kesurupan. Kerasukan arwah makhluk-makhluk itu.


"Kang, jangan lupa mampir di tempat Kang Bejo, ambil sayuran untuk ngisi kios."


Madi tersenyum, mengangguk. Mereka menang sudah berjanji akan mengambil beberapa keranjang sayuran segar, untuk dijual kembali. Kang Bejo adalah salah satu prdagang brsar tempat prdagang pengecer seperti Madi mengambil sayuran.


"Dik, itu rumah Kang Bejo, sudah nampak di ujung jalan!" seru Madi sembari memadukkan mobil ke halaman rumah kang Bejo. Di dana sudah tampak berkumpul beberapa pedagang lain.


"Ngambil sayuran juga, Kang?" tanya seseorang pada Madi.


"Iya. Udah langganan," jawab Madi ringan, tersenyum lalu menuju gudang sayuran milik Kang Bejo.


"Madi, itu keranjang sayuran bagianmu ada di sebelah kiri gudang. Ada tiga keranjang besar sayuran segar dan beberapa kotak tomat, kentang dan aneka sayuran lainnya."

__ADS_1


Madi mengangguk, kemudian perlahan mengangkat satu per satu keranjang berisi sayuran ke atas mobil. Hari masih terlihat sedikit gelap, ketika semua keranjang sayuran sudah berhasil dinaikkan Madi ke atas mobil.


Usai berbincang sejenak bersama kang Bejo dan pedagang pengecer lain, Madi pamit untuk berangkat terlebih dahulu ke pasar.


"Akang tadi perhatikan nggak, ada satu orang yang terus memperhatikan Akang,"


Madi memandang heran ke arah isterinya itu. Alis matanya bergerak naik, merasa bingung dengan ucapan Aulia.


"Apa iya, Dik? Kok Akang nggak merasakannya," jawab Madi, menggeleng-geleng tak mengerti.


"Benar, Kang. Tatapan matanya itu, bikin Adik takut. Seperti ingin menelan bulat-bulat!"


Madi mencoba mengingat-ingat laki-laki yang mana yang dimaksud Aulia tadi. Di sana ada beberapa orang yang berkumpul. Apa mungkin orang yang dimaksud Aulia tadi adalah orang yang memakai topi berwarna hitam tadi? Ah, Madi menjadi bertambah gelisah.


Madi mencoba mencari jawaban dari isterinya Aulia. Hanya tampang pria itu yang menyangkut dalam benaknya.


"Benar, Kang. Kenapa, ya, dia kok memandang Akang dengan tatapan seperti orang marah gitu?"


"Entahlah, Dik. Akang merasa nggak mengenal orang itu," sahut Madi. Pandangan mata bathinnya bergejolak. Sepertinya orang itu menyimpan niat yang kurang baik pada mereka berdua.


Akhirnya, perbincangan mengenai seseorang yang memandang penuh amarah tadi, harus mereka tinggalkan. Mobil sudah memasuki halaman pasar. Beberapa kuli panggul langganan mereka berdua sudah bersiap hendak mengangkat keranjang berisi sayuran.


Suasana kios dalam pasar pun terlihat mulai ranai oleh pembeli yang akan mengisi warung atau untuk keperluan warung makan.


Bu Paria dan beberapa pedagang dekat kios mereka juga sudah bersiap menggelar dagangan mereka. Dengan cekatan, Aulia membantu menata letak sayuran menurut jenisnya. Kol, sawi, kangkung, bayam, timun dan aneka sayuran lain terasa sejuk di pandang. Hijau dan segar.

__ADS_1


Ketika mereka sedang asyik berjualan dan melayani pembeli, tahu-tahu Aulia mencubit lengan Madi. Mencoba menunjuk ke satu arah, di mana orang aneh bertopi hitam itu, berdiri di salah satu kios di depan kios mereka. Memandang dengan tatapan penuh kebencian. Matanya terlihat seperti mengeluarkan kilatan dendam dan amarah.


"Kang, lihat orang aneh itu. Dari tadi dia perhatikan kita terus!"


Madi berusaha menenangkan Aulia, isterinya. Dia menepuk punggung tangan Aulia agar tetap tenang.


"Ya, sudah. Nggak apa-apa, Dik. Tenang saja. Untuk saat ini, dia nggak akan berani bertindak macam-macam. Percayalah."


Madi terus menenangkan Aulia. Raut wajah khawatir yang tadi diperlihatkan Aulia lambat laun mulai memudar. Sesekali, Aulia masih melirik melalui ujung mata ke arah orang itu.


Beruntung saja, keberadaan orang itu tak terlalu lama di sana. Seorang pemilik kios yabg kenal debgan Madi terlihat menegur orang itu. Apalagi saat orang itu mrmandabg tak berkedip ke arah kios Madi dan Aulia sambil mulutnya merapal sesuatu.


Madi pun tak tinggal diam, serta merta dia mencoba berzikir, menutup serangan gaib yang baru saja dilancarkan orang aneh bertopi hitam tersebut. Beruntung Aulia tak mengalami gangguan yang berarti.


Setelah pelanggan mereka satu per satu mulai pulang. Madi segera meminta segelas airbputih pada Aulia. Dia bermaksud mrmbacakan beberapa doa kr dalam grlas berisi air itu untuk diminumkannpada Aulia dan disemprotkan ke beberapa titik.


"Bagaimana sekarang, Dik. Udah merasa legaan?" tanya Madi usai melihat Aulia menengggak habis air putih berisi doa itu.


"Iya Kang. Siapa sih orang itu? Kok sepertinya sangat benci pada kita?"


Madi menggeleng, karena memang tidak tahu siapa orang itu. Dia pun sepertinya baru melihat orang itu berada di pasar.


"Ya, sudah, kita makan saja dulu, mumpung pembeli sudah mulai sepi. Nanti, Akang coba cari informadi pada akang-akang yang punya kios di barisan depan itu."


Aulia juga mengangguk, mengambil bekal makan siang mereka dari dalam keranjang, mengeluarkannya dan menaruh di atas meja. Ada sayur asem, goreng tempe dan tahu, sambal terasi, kerupuk dan goreng ayam. Mereka berdua pun lantas makan dengan nikmatnya. Banyak kios di sekitar mereka sudah mulai menutup kios.

__ADS_1


__ADS_2