
Suasana dalam aula semakin tegang, karena pertarungan antara kyai Sarwa, Madi, dan yang lainnya masih bertarung dengan makhluk tak kasat mata. Madi sendiri,berusaha menghalau penghuni pohon tua yang ingin menguasai tempat mereka tinggal.
Meski Madi sempat lengah, karena pikirannya terpecah, antara ingin membantu kyai Sarwa dan melawan penghuni pohon tua yang sedang mengusiknya. Namun, akhirnya, Madi mampu juga melepaskan diri dari pengaruh was-was itu. Bahkan kini Madi sudah lebih siap menerima serangan yang dilayangkan pemimpin penghuni pohon tua itu.
“Sekarang, enyahlah dari hadapanku, hai Makhluk Tak Kasat Mata!” seru Madi, sembari membalas serangan makhluk tersebut. Tampak adu kekuatan yang luar biasa antara Madi dan penghuni pohon tua itu.
Sementara, kyai Sarwa juga melancarkan tinju yang berisi hijib pada pemimpin jin yang berwujud tinggi besar itu, meski ketika menyerang, kyai Sarwa harus mempertajam mata batinnya, mencari bagian kepala makhluk itu yang terletak jauh di atas.
Jin itu, menggeram marah, tak menerima, jika diserang oleh kyai Sarwa. Dentuman terdengar begitu keras, saat kakinya menghantam lantai aula, membuat guncangan gempa. Mengakibatkan tubuh kyai Sarwa dan yang lainnya bergetar.
Kyai Sarwa segera membisikkan sesuatu di telinga para muridnya tersebut. Bisikan berupa semangat agar mereka tak perlu takut dengan serangan jin tersebut. Mereka pasti akan dapat mengusir makhluk-makhluk dimensi lain yang suka mengganggu manusia tersebut.
Belum lagi hilang, akibat serangan jin itu, tiba-tiba saja, demit, menyerupai nenek tua itu, memukul ,teman Bayu. Mungkin, dedemit itu mengira, kalau, para santri itu adalah sumber
kelemahan kelompok kyai Sarwa.
“He … he … sudah saatnya kali ini, kalian menyrah, hai manusia-manusia busuk!” Suara demit itu terdengar menggelegar, begitu mengerikan. Seiring itu, desiran angin memancarkan hawa negatif terasa begitu kuat, pertanda serangan demit itu dimulai.
“Diamlah, Demit! Aku tak akan membiarkan kalian menguasai dan merusak ketentraman pondok ini!” Kali ini kyai Sarwa bertindak tegas. Tak mau kehilangan kesempatan menyelamatkan pondok dari perbuatan makhluk-makhluk tak bertanggung jawab ini.
Pertahanan pun semakin diperkuat, dengan terus mendengungkan zikir, amalan dan hijib yang dialirkan ke kepalan tinju, menyerang jin, demit, sejenis kuntilanak, dan makhluk nenyerupai ular dan harimau itu.
__ADS_1
Bayu dan ustad Amir yang bisa menyaksikan sosok makhluk tepung itu, juga tak mau ketinggalan, ikut melancarkan serangan, membalas pukulan para makhluk tersebut. Meskipun kemampuan mereka berdua, tak setangguh kyai Sarwa ataupun Madi, tapi sudah sangat membantu dalam situasi seperti ini.
Kibaran rambut kuntilanak berwajah sangat cantik itu, terlihat begitu kontrras dengan wajahnya yang cantik dan dingin. Dia mencoba mendekati lingkaran yang telah dibuat kyai Sarwa, memberikan satu serangan. Namun, sekali ini, ustad Amir lebih cepat menyerang terlebih dahulu, membuat kuntilanak itu berrteriak kepanasan.
“Rasakan, hai, kuntilanak! Lebih baik sekarang, pergilah dari sini!” gertak ustad Amir.
Kuntilanak itu bergerak mundur, mengambil ancang-ancang, menyerang kembali, tapi, segera ditahan oleh makhluk jadi-jadian setengah ular dan setengah harimau. Kedua makhluk itu, kemudian mengambil alih serangan. Menyerang para santri dan ustad yang kini bergabung membentuk
lingkaran pertahanan yang mumpuni.
“Masih belum cukupkah, kalian menerima kekalahan?” tanya kyai Sarwa sembari mengeluarkan kembali satu pukulan
dari kepalan tinju yang sudah berisi hijib.
“Bayu, Amir, sebaiknya, kalian berdua, lebih berhati-hati mulai sekarang. Kedua makhluk jadi-jadian itu, bukan lawan yang sembarangan!” Terdengar bisikan kyai Sarwa, memperingatkan Bayu dan ustad Amir.
Mereka berdua pun mengerti dengan bisikan kyai Sarwa. Sekarang mereka lebih kuat berzikir, membaca beberapa ayat juga hijib yang memang diperuntukkan untuk melawan dan mengusir makhluk-mkhluk tak kasat mata seperti yang mereka hadapi saat ini.
“Sekarang, pergilah, hai makhluk jelek! Kalian tak punya tempat di sini!” Ustad Amir berteriak sembari mengarahkan sebuah pukulan hijibnya pada salah stu makhluk halus berwujud setengah harimau.
“Aum … beraninya kalian menyerang kami. Apa kalian tak tau berhadapan dengan siapa!” tantang makhluk jadi-jadian itu.
__ADS_1
Kyai Sarwa tersenyum lebar, mendengar gertakan makhluk jadi-jadian itu. Bukannya takut, malah, pimpinan pondok pesantren itu terlebih dahulu menyerang kedua makhluk jadi-jadian itu, disusul oleh ustad Amir dan Bayu. Para santri and ustad lainnya tetap berzikir, memperkuat searngan dan pertahanan kelompok ini.
Makhluk jadi-jadian bertubuh
setengah ular itu, segera mengibskan ekornya yang sangat panjang ke arah Bayu. Dengan cepat kyai Sarwa menangkap sabetan ekor ular yang sangat panjang itu. Dengan zikir, dan hijib, kyai Sarwa kemuduan memukul makhluk tersebut.
“Hm, ternyata kuat juga kau, Orang Tua!” seru makhluk jadi-jadian berbentuk setengah ular itu. “Tapi, kami belum kalah,”ucap makhluk jadi-jadian yang berwujud setengah harimau itu.
“Sudahlah, tak ada gunanya, kalian menyerang kami!” tegur kyai Sarwa, mencoba mengusir mereka secara halus. Namun, dasar jin dan demit, mereka tak mau mendengar perintah kyai Sarwa. Para makhluk tak kasat mata itu, masih terus menyerang Kyai Sarwa dan pengikutnya.
Sementara di depan rumah Madi,beberapa penghuni pohon tua yang tadi berjejer, kemudian membiarkan pemimpin mereka untuk menyerang terlebih dahulu. Pukulan yang dilakukan penghuni pohon tua itu juga sangat berbahaya. Madi terpaksa harus berjuang keras agar terhindar dari serangannya.
“Masih belum mau menyerah juga, Anak Muda?” ejek demit perempuan berbentuk kuntilanak itu.
Madi menggeleng, tak mau menyerah sedikit pun. Sepasang makhluk cebol yang tadi juga mengincar Madi, kembali bersiap, membantu pemimpin mereka menghadapi Madi.
“Sampai sekarang, kalian masih belum bisa menjatuhkanku, hai, makhluk-makhluk penghuni pohon tua!” seru Madi, berusaha membuat para penghuni pohon tua itu gusar.
“Ha … ha … sampai kapan kau akan bertahan! Sekarang, bersiap saja, sebentar lagi pagar gaib rumahmu akan hilang,” jawab demit perempuan tersebut. Madi hanya tersenyum, dia berhasil mengulur waktu, menambah kekuatan dengan zikir yang sedari tadi didawamkannya dalam hati. Sebuah hijb yang telah lama diasahnya dengan berpuasa, kemudian dialirkannya ke kepalan tinju siap ditujukan ke semua makhluk tersebut.
Seperti sebuah kilat yang melesat cepat, hijib yang diarahkan Madi pada penghuni pohon tua itu, seketika membuat pemimpin dan anak buahnya seketika memekik kepanansan, tak kuat menerima hijb yang dilayangkan Madi.
__ADS_1
“Panas … pukulan apa itu tadi?” demit perempuan tadi berteriak, tak tahan menerima serangan Madi.
“Sekarang, kalian menyingkirlah dari sana. Kalau tidak, kalian akan merasakan lagi serangan hiijibku!” gertak Madi, merasa puas.