Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Malam yang Panjang


__ADS_3

Kondisi bu Ningsih, sudah mulai berangsur membaik, tak lagi muntah-muntah. Pak Parman akhirnya bisa bernapas lega sekarang.


“Kyai, Madi, terima kasih banyak atas bantuannya. Saya tidak  bisa bayangkan kalau Kyai tidak menolong tadi, entah apa yang terjadi dengan Ningsih, isteri saya.”


Kyai Sarwa hanya melempar senyum, sembari menyeruput segelas kopi panas yang dibuatkan oleh ibu Parman.  Madi juga ikut menyeruput kopi yang telah dihidangkan di hadapannya. Cuaca tidak lagi sedingin tadi. Sudah berangsur normal.


“Semua ini atas pertolongan Allah, Parman. Bersyukur Allah masih melindungi kita semua,” jawab kyai Sarwa lembut. Pak Parman sendiri juga nampak sangat lega melihat keadaan isterinya telah terlepas dari gangguan jin yang menguasainya.


Untuk beberapa saat mereka masih terus berbincang-bincang, sementara hari sudah semakin larut. Sebenarnya kyai Sarwa ingin segera kembali ke pondok, tapi, seperti ada firasat kurang baik, menahannya untuk tetap tinggal sampai subuh tiba.


“Parman, malam ini biarkan kami menginap di sini. Lagi pula hari sudah terlalu larut, kau pasti letih harus bolak-balik mengantar kami ke pondok.” Pak Parman kelihatannya sangat


senang saat kyai Sarwa mengutarakan niatnya untuk menginap di rumahnya.


“Baik, Kyai. Kami malah senang kalau Kyai dan Madi mau menginap di sini. Besok setelah salat subuh, saya akan antar kyai pulang kembali ke pondok.”


Kyai Sarwa mengangguk mendengar jawaban Parman. Madi tiba-tiba merasakan ada seseorang yang tengah mengintai mereka. Ketika  Madi ingin meraba dengan mata bathinnya, bayangan itu seperti terselubung oleh kabut hitam yang sangat tebal.


“Kyai dan Madi bisa istirahat di kamar tamu. Itu yang di sebelah ruangan ini.” Pak Parman menunjukkan letak kamar tempat beristirahat nanti. Letak kamar itu memang di sebelah ruang tamu, jadi tidak akan mengganggu keluarga pak Parman ketika beristirahat.


“Kamar mandinya ada di dalam kamar, Kyai, kalau mau mengambil wudhu atau untuk bersih-bersih. Nanti saya taruh handuk dan pakaian bersih di sana.” Pak Parman melanjutkan ucapannya.


Madi dan kyai Sarwa hanya mengangguk. Mereka memang tidak membawa persiapan pakaian untuk menginap. Karena sesuai perjanjian dengan pak Parman, setelah mengobati isterinya, akan segera diantar pulang.


“Kalau begitu kami istirahat dulu, Parman. Hari juga sudah tengah malam. Sebaiknya, kau juga istirahat!” Kyai Sarwa akhirnya memutuskan untuk segera beristirahatt. Pak Parman pun bergegas mengambil handuk dan pakaian bersih berupa sarung dan kaus, kemudian menaruhnya dalam kamar tamu.

__ADS_1


Sementara kyai Sarwa dan Madi masuk ke dalam kamar, setelah pak Parman keluar.Sambil tersenyum dia mengucap salam dan berlalu.


Ruangan kamar tamu itu cukup luas. Sebuah ranjang dengan ukuran sedang terdapat di sana. Cukup untuk memuat dua orang. Madi segera menuju kamar mandi membersihkan diri dan mengambil wudhu. Kyai Sarwa menunggu sambil membaringkan diri di ranjang.


Ketika sedang berada dalam kamar mandi, kembali Madi seperti melihat kelebatan bayangan. Ia pun segera mempercepat


mengambil wudhu dan keluar kamar mandi. Sementara kyai Sarwa sudah duduk di


pinggir ranjang sambil mulutnya bergerak seperti merapal sesuatu. Pasti, Kyai


Sarwa juga melihat kelebatan bayangan itu.


“Madi sudah selesai bersih-bersih dan mengambil wudhu, Kyai.” Madi berkata sembari duduk di pinggir ranjang bersebelahan sisi.”


“Betul, Kyai. Tadi, Madi melihat seperti ada kelebatan bayangan melintas di kamar mandi.” Kyai Sarwa mengangguk, memebenarkan penglihatan Madi.


“Kalau begitu, malam ini kita harus siaga, Madi. Mungkin mereka menyerang lagi malam ini!” Kyai Sarwa memberikan isyarat agar berjaga—jaga malam ini.


“Apa sebaiknya kita membuat pagar gaib di sekeliling rumah pak Parman, Kyai. Sebagai penjagaan agar tidak ada serangan lagi.’ Madi mencoba mengusulkan membuat pagar gaib, seperti yang sering mereka lakukan di pesantren atau di rumah mereka.


“Kita coba sebisanya, walau itu butuh waktu. Madi duluan saja membuat pagar gaib, Kyai mau mengambil wudhu dulu. Tipis saja dulu, tidak mengapa, asal merata ke seluruh penjuru rumah!” Madi mengangguk, pertanda mengerti perintah kyai Sarwa barusan.


Sementara kyai Sarwa bergerak ke kamar mandi, Madi meletakkan sebuah sejadah menghadap kiblat dan memulai salat hajat. Dia memohon kekuatan dan diberi bimbingan untuk mneghadapi musuh yang belum diketatahui siapa.


Setelah salat, Madi, Madi tetap duduk di atas sajadah. Mulai berzikir dan membaca amalan untuk membuat pagar gaib di sekeliling rumah. Surat dari Al-quran seperti Al-fatihah, Al-baqrah, seperti ayat kursi, juga ayat pendek seperti An-naas, Al-Falaq dan AIkhlas, perlahan dibacakan berulang.  Di samping beberapa amalan lain yang pada intinya juga mengambil ayat suci Al-Quran sebagai pedomannya.

__ADS_1


Selagi khusyuk membuat pagar gaib, kyai Sarwa yang telah selesai salat sunah ikut membantu Madi, sekaligus mempertebal pagar gaib yang telah dibuat Madi. Beberapa kelebat bayangan tiba-tiba menerobos masuk, melewati pagar gaib yang belum sempurna itu.


Ada sekitar 5 makhluk yang tadi berupa bayangan, berdiri di hadapan Madi dan kyai Sarwa. Wajah mereka biasa saja, tidak terlalu menyeramkan, dengan fisik sedikit berbeda. Hanya saja tatapan mereka dipenuhi dengan


sorot kemarahan dan hawa negatif yang sangat kuat.


“Siapa kalian, dan mau apa kalian di sini?” Kyai Sarwa mencoba mengajak komunikasi makhluk itu.


Sesosok bertubuh paling besar dan berwibawa menjawab pertanyaan kyai Sarwa dengan muka datar, tanpa ekspresi. Hanya sorot matanya saja yang tajam memperhatikan gerak-gerik kyai Sarwa dan


Madi.


“Kami adalah jin yang disuruh untuk mengganggu isi rumah ini. Mengapa kalian ingin mengacaukan rencana kami?” Pimpinan jin itu menjawab pertanyaan kyai Sarwa sambil mengucapkan perkataan seolah menyesalkan kehadiran Kyai Sarwa dan Madi.


“Kalian adalah jin yang berasal dari dunia lain. Tidak sepatutnya mengganggu umat manusia. Sebaiknya kalian pergi saja. Kami  tidak ingin bertempur malam ini!” Kyai Sarwa mencoba mengusir gerombolan jin itu secara


halus.


Namun, namanya saja jin. Mana mau mereka pergi dengan sukarela sebelum melaksanakan tugas yang diberikan pada


mereka.


“Kami akan pergi, setelah melaksanakan tugas yang  telah dibebankan tuan kami. Menghancurkan keluarga ini, dan menjadikan rumah ini sebagai sarang kami.” Pemimpin jin itu kembali menolak permintaan kyai Sarwa untuk pergi, meninggalkan rumah pak Parman. Sepertinya, mereka sudah merasa nyaman berada di sini.


“Keluarga ini, salatnya rajin. Tidak akan mudah bagi kalian untuk mendiami rumah ini.” Kembali kyai Sarwa memberi pandangan agar mereka segera keluar, dan meninggalkan rumah pak Parman dengan baik-baik. Tanpa menimbullkan keributan.

__ADS_1


__ADS_2