Penghuni Pohon Tua

Penghuni Pohon Tua
Mencoba beristirahat


__ADS_3

Setelah berhasil mengusir Nang dan sekutunya, Madi dan kyai Sarwa, kembali ke rumah, masuk kembali ke dalam raga masing-masing.


Sementara di luar, Bayu dan ustad Amir, juga baru saja berhasil mengalahkan kedua makhluk yang dikirim oleh Jaka. Meskipun, kondisi fisik kedhanya semakin.menurun setelah pertarungan tadi.


"Kalian, ndak apa-apa?"


Kyai Sarwa mendatangi mereka berdua, mencoba memeriksa kondisi fisik dan mental, Bahh dan ustad Amir. Siapa tahu, masih ada aura negatif yang mungkin ditinggalkan oleh kedua makhluk tadi.


"Alhamdulillah, Kyai. Kami, baik-baik saja," jawab Bayu.


"Benar, Kyai. Paling, capek saja. Maklum, kondisi kami juga belum fit seratus persen." Ustad Amir juga ikut menimpali.


Kyai Sarwa, mengangguk, cukup puas dengan jawaban keduanya. Kalau dilihat sepintas, keadaan mereka berdua memang tak mengkhawatirkan. Namun, kyai Sarwa tetap bersikeras, meminta Bayu dan ustad Amir, masuk dalam rumah, berniat membersihkan aura negatif yang mungkin tertinggal dan melekat di tubuh mereka.


"Masuklah, Bayu, ustad Amir. Saya, ke balakang dulu, bikin teh hangat."


Bayu dan ustad Amir, mengangguk, mengiyakan ajakan Madi dan kyai Sarwa. Kon disi badan mereka, sangat letih, mana malam sudah sangat larut. Minum teh hangat manis, bisa mengembalikan energi yang tadi terkuras.


Usai, mereka masuk dan duduk di kursi rotan, Madi segera berlalu menuju dapur. Walaupun, tubuhnya sendiri, juga merasa sangat penat, Madi masih mampu membuatkan beberapa gelas teh buat mereka semuanya.


"Kyai, Bayu, Ustad, ayo diminum tehnya. Mumpung masih hangat!"


"Makasih, Kang!" ucap Bayu.


Madi hanya tersenyum, dan mulai menyeruput teh manis hangat miliknya. Perlahan, rasa hangat mulai mengalir dalam pembuluh darah, membuat tenaganya mulai pulih perlahan.


"Malam ini, kita berhasil menyelesaikan, tugas kita nasing-masing!"


Kyai Sarwa, mulai membuka pembicaraan. Madi mengangguk, sembari memperhatikan Bayu. Ada sesuatu yang membuatnya tiba-tiba terus menerus memperhatikan santri itu.


Memang awalnya, Bayu terlihat sangat tenang, menikmati teh manis hangat buatan Madi dengan santai. Namun, entah kenapa, lama kelamaan, sikapnya berubah, menjadi lebih gelisah sekarang.


"Bayu, ada apa denganmu?"


Madi yang mulai curiga melihat perubahan sikap Bayu, akhirnya bertanya. Bayu sendiri hanya menunduk, tak menjawab pertanyaan Madi.


Ekspresi wajahnya juga tiba-tiba datar, dan dingin. Seperti ada sesuatu yang merasuki jiwanya.

__ADS_1


Melihat kondisi Bayu yang bertingkah aneh tersebut, kyai Sarwa segera mengambil tindakan. Membacakan beberapa ayat, sembari mendekati santri yang mulai terlihat gelisah.


Bola mata Bayu terlihat mulai membesar, membelalak, dan suaranya pun terdengar berat dan serak.


"He ... he ..."


Tiba-tiba, Bayu tertawa. Suaranya menyerupai kakek-kakek. Entah, makhluk apa yang merasuki Bayu.


"Siapa, kau, yang berani-beraninya masuk dalam tubuh santriku?" kyai Sarwa memandang, tajam sekali pada Bayu.


"Aku adalah jin yang disuruh seseorang untuk mengganggu bocah ini!"


"Siapa pun yang menyuruhmu, lebih baik pergi sekarang. Jangan coba-coba sakiti anak ini!" Madi juga ikut menyuruh makhluk itu keluar.


"Ha ... ha ..., aku juga tak ingin berlama-lama, tubuh anak ini tak nyaman untuk dijadikan tempat tinggal!"


"Kalau begitu, keluarlah, sebelum kami bertindak!"


Kyai Sarwa, semakin geram melihat ulah jin yang berada dalam tubuh Bayu. Sekarang, santri itu, tampak seperti orang kebingungan.


"Aku hanya ingin menyampaikan pesan dari orang yang telah mengirimku!"


Kyai Sarwa terus mendesak jin itu untuk segera keluar. Kasihan Bayu, energinya akan semakin terkuras. Itu bisa membahayakan jiwanya.


"Tenang saja, orang tua! Tak usah takut. Aku akan segera pergi, setelah pesan ini kusampaikan!"


"Kalau begitu, segeralah sampaikan! Kalau tidak, aku akan membuatmu keluar drngan caraku!"


Kyai Sarwa mulai tak sabaran, tak ingin berkompromi lebih lanjut.


"Jika seluruh santri dan penghuni di pondok ini, mau selamat, kau harus segera pergi dari pondok, orang tua. juga, orang-orang di sekitarmu, seperti dia!"


Bayu tiba-tiba saja menunjuk Madi. Sepertinya, pesan itu berasal Jaka. Tak ada seorang pun yang paling menginginkan kyai Sarwa lengser, selain Jaka.


"Sampaikan saja pada, tuanmu. Aku tak akan mundur, demikian juga dengan orang-orangku. Kalau, kau, tak mau keluar, aku akan memaksamu pergi sekarang!"


Kyai Sarwa pun bergerak cepat memukul jin yang mendiami tubuh Bayu. Madi juga melakukan hal yang sama.

__ADS_1


Jin yang merasa terjepit, tak mampu lagi bertahan lebih lama dalam tubuh Bayu. Setelah menjerit panjang, jin itu pun keluar.


Tubuh Bayu segera melayang, terhempas ke lantai. Beruntung, ustad Amir segera menyambar Bayu, kalau tidak, kepalanya akan menghantam lantai.


Madi, segera berlari ke dalam, mengambil segelas air, memberikannya pada kyai Sarwa. Kemudian, kyai Sarwa pun membacakan beberapa doa dan zikir, dan ditiupkan pada segelas air putih tersebut. Lantas, diberikan pada Bayu.


Sontak, Bayu muntah-muntah, mengeluarkan semua aura negatif yang tadi menempel. Entah dari mana datangnya makhluk tadi. Benar-benar mengerikan si Jaka itu sekarang.


Dia sudah benar-benar tak lagi memperhitungkan akibatnya kalau bersekutu dengan jin dan makhluk-makhluk halus lainnya.


"Apa yang kau rasakan, sekarang, Bayu?"


"Alhamdulillah, Kyai. Bayu sudah lebih baik sekarang?"


Kyai Sarwa tersenyum, sangat lega mendengar jawaban Bayu.


"Benar, sudah tak apa-apa lagi?" tanya pemimpin pondok pesantren itu lagi. Sekalian memeriksa kembali badan Bayu. Sepertinya, apa yang dikatakan Bayu memang benar.


"Benar, Kyai. Bayu, sudah tak apa-apa lagi!"


"Syukurlah, kalo kau ndak apa-apa lagi."


Bayu mengangguk, ikut merasa lega karena bisa terlepas dari pengaruh jin yang hanya mampir sebentar dalam tubuhnya.


"Apa yang harus kita lakukan selanjutnya, Kyai?" tanya Madi, sesaat kyai Sarwa selesai memeriksa Bayu.


Pemimpin pondok pesantren itu terlihat menarik napas panjang. Ada kesedihan di raut wajahnya. Bagaimana tidak? Beban tanggung jawab berat berada di pundaknya kini.


Apalagi, kondisi pondok dalam keadaan genting sekarang. Kalau, tak berhati-hati, korban bisa berjatuhan.


"Pokoknya, kita harus siaga, mulai dari sekarang!"


Ucapan kyai Sarwa sangat tegas. Ini seperti sebuah perintah. Tegas dan harus dilaksanakan.


"Kami, selalu siap, Kyai. Apa pun perintah Kyai kami akan laksanakan!"


Madi mengatakan hal itu, untuk meringankan beban kyai Sarwa. Pasti, mulai saat ini, kyai Sarwa akan mengerahkan seluruh perhatian dan kekuatan, untuk mencegah semakin meluasnya serangan Jaka.

__ADS_1


Keempat orang ini pun melewatkan malam, berdiskusi dan beristirahat secara bergantian.Ancaman Jaka ini tak bisa ditanggapi main-main.


Udara di sekitar pondok mulai terasa sangat dingin. Lebih dingin dari biasanya. Suasana semakin mencekam, dengan beberapa suara yang bisa menegakkan bulu roma. Semoga saja situasi seperti malam ini bisa segera dihentikan.


__ADS_2