Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 102


__ADS_3

Wanita itu mondar-mandir dengan wajah kesal, meminta penjelasan kepada sang tunangan untuk mengatakan yang sebenarnya. "Kenapa beberapa hari ini kamu menolak untuk bertemu denganku, Ray?" Sepertinya sedang menanyakan pada Rayhan perihal beberapa hari terakhir saat ia menolak untuk bertemu dengannya. Rayhan sudah menjelaskan bahwa dirinya sedang sibuk, namun Ana tidak percaya begitu saja. "Kamu bohong Ray. Beberapa hari yang lalu ayahmu menghubungi aku Ray, mengatakan kalau kamu pulang ke rumah dalam keadaan babak belur."


Kali ini Ana mengangkat kepala Rayhan agar laki-laki itu melihatnya. "Ini lebamnya masih nampak Ray. Kamu berkelahi?" Tanyanya curiga. "Aku sudah menjelaskan, Ana. Aku jatuh, tidak sengaja menginjak kulit pisang," jawab Rayhan. Dia tidak akan mengatakan yang sebenarnya pada Ana, bukan karena masalah harga diri, melainkan untuk menjaga jangan sampai Ana menyalahkan Emely atas apa yang terjadi. Karena semua ini murni kesalahan Rayhan. Mengapa juga dia harus menemui Emely malam itu? Jika saja dia tidak memaksa mencium Emely, mungkin Emely tidak akan sebegitu marah padanya. Setiap kali Rayhan menghubungi Emely untuk minta maaf, jangankan maaf, Emely bahkan tidak pernah mengangkat telepon darinya.


Tentang pria itu, Rayhan tidak akan pernah takut dengannya. "Awas aja yah Ray, kalau kamu sampai bohong," kata Ana. Meski tidak sepenuhnya percaya pada tunangannya itu, Ana memilih mempercayai apa yang dikatakan Rayhan. Di sisi lain, Ana yakin perubahan Rayhan pasti karena bertemu lagi dengan Emely. "Tidak ada yang berubah dari aku, Ana. Kamu yang berubah," kata Rayhan. "Aku yang berubah?" tanya Ana sambil menunjuk dirinya. "Kamu yang berubah, Ray," jawab Ana kesal. "Kamu terlalu mengekang, posesif, dan tidak bisa menghargai orang lain." Semakin Rayhan mengenal Ana, semakin ia tahu karakter Ana yang sebenarnya. Dulu saat mendekati Rayhan, Ana terlihat tulus seperti Emely. Namun, nyatanya Ana tidak sebaik itu. "Aku melakukan semua itu karena aku mencintaimu Ray," kata Ana. Namun, dia tidak tahu, jika apa yang dilakukannya selama ini justru bisa menjauhkannya dari Rayhan. "Sepertinya itu bukan cinta, Ana, melainkan obsesi. Jadi, sebelum hubungan kita lebih jauh lagi, pastikan saja dulu apa itu cinta atau hanya obsesi semata," kata Rayhan. Sebenarnya, bukan hanya Ana, Rayhan pun sepertinya baru menyadari bahwa yang dirasakannya kepada Ana selama di London bukan cinta. Hanya saja waktu itu Ana datang di saat hatinya sedang rapuh. "Maksud kamu apa, Ray?" tanya Ana, mencari kejelasan dari hubungannya dengan Rayhan. "Untuk sementara kita break dulu," kata Rayhan. "Apa?" tanya Ana tidak percaya. "Itu artinya kamu ingin hubungan kita berakhir, Ray?" "An, kita hanya break sementara. Aku hanya memberikan kamu ruang dan waktu untuk berpikir, untuk kamu menyadari bahwa yang kamu rasakan ke aku itu cinta, obsesi atau karena faktor lain. Begitu juga sebaliknya, An," jelas Rayhan. Kali ini Rayhan mendekati Ana, menatap lekat mata wanita yang sudah menjadi tunangannya itu, memberi pengertian agar Ana mengerti, semua ini Rayhan lakukan demi kebaikan mereka berdua. Ana menghempaskan tangan Rayhan. "Nggak Ray, aku tahu kamu mengatakan ini karena kamu ingin kembali lagi kepada Emely kan?" "Ini bukan tentang Emely, An, ini tentang kita," kata Rayhan lagi. Lagi-lagi Rayhan mencoba memberi pengertian kepada Ana. Namun Ana sepertinya tidak akan sepakat dengan apa yang dipikirkan Rayhan. "Kamu bohong Ray. Ini semua pasti gara-gara perempuan itu. Semenjak ketemu dia, kamu berubah Ray. Aku tahu itu," ujarnya sambil menangis.


"Sudah ku katakan, Ana, ini bukan tentang Emely," kata Rayhan dengan suara tinggi. Dia terus memberi pengertian kepada Ana yang berkali-kali tidak bisa memahami. "Kamu bohong Ray, lihat saja aku akan membuat perhitungan dengan Emely," kata Ana sambil langsung mengambil tasnya dan pergi meninggalkan Rayhan. Rayhan tidak mengejar Ana karena percuma untuk menjelaskan kepada Ana, wanita itu selalu ingin menang sendiri.

__ADS_1


Rayhan jadi ingat Emely saat mengejarnya dulu di area rumah sakit. Seharusnya dia memberikan kesempatan pada Emely untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Rayhan mengambil ponselnya, menghubungi Emely, namun seperti biasa tidak diangkat oleh wanita itu. Sepertinya Rayhan harus menemui Emely langsung, meminta maaf, dan kalau ada kesempatan, Rayhan akan meminta Emely menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Meski mungkin dia tidak punya hak untuk itu atau bisa saja semuanya sudah terlambat.


 


Rayhan memilih pergi ke kampus setelah pertengkarannya dengan Ana. Ada beberapa dokumen yang harus dia selesaikan di akademik kampus lamanya. "Swam," Rayhan melihat logo perusahaan Davino di ruang akademik kampus. Sepertinya dia baru menyadari bahwa pria yang dekat dengan Emely itu adalah pemilik kampus itu. Sudah benar, dia pindah dari kampus itu. Dari pada dia harus menghadapi pria arogan itu. Rayhan meninggalkan ruang akademik dan melewati taman di mana dia dan Emely menghabiskan waktu bersama, membuatnya kembali mengingat Emely. "Mampir aja dulu jika mau," kata Sisil, salah satu mahasiswa yang sama-sama kuliah di kampus itu. Sisil baru saja keluar mencari udara segar setelah hampir dua jam di dalam kelas dan melihat sosok Rayhan yang baru saja keluar dari ruang akademik kampus. Sedari tadi, Sisil mengejar Rayhan dan memanggil namanya. Namun karena terburu-buru, Rayhan tidak mendengar panggilan Sisil. Di saat berhenti tadi, barulah Sisil bisa mengejar Rayhan. "Kamu dari mana, Ray?" tanya Sisil sambil membuka botol minuman yang dibelinya di ujung koridor kampus. "Ada beberapa dokumen yang aku ambil di akademik. Kalau kamu, masih ada jam kuliah?" tanya Rayhan.


"Kamu bawa mobil?" tanya Rayhan. Jika tidak, Rayhan akan memberikan tumpangan pada Sisil.

__ADS_1


"Iya, aku bawa. Oh ya, Ana ada di mana?" tanya Sisil, mencari sahabatnya yang biasanya ikut jika ada Rayhan.


"Aku tidak tahu, Sil. Ana ada di mana-mana," jawab Rayhan dengan malas.


"Mereka bertengkar ya?" tanya Sisil.


"Iya, begitulah adanya," ucap Rayhan sambil mengangkat bahunya.

__ADS_1


"Sil, apakah kamu punya waktu sekarang?" tanya Rayhan. Ia ingin tahu bagaimana Emely dan Davino bertemu dan memulai hubungan mereka. Sayangnya, Sisil harus segera bertemu seseorang, sehingga mereka berdua harus menunda pembicaraan mereka hingga waktu lain.


__ADS_2