Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 97


__ADS_3

Sudah dua jam Davino sampai Apartemen, namun hingga fajar mulai menyingsing Davino tidak bisa memejamkan matanya.


Arlan sudah tahu bahwa Emely adalah kekasihnya. Di satu sisi Davino tidak kuatir dengan hal itu karena dia sudah menempatkan 4 orang yang bergantian menjadi tamu di Restoran itu. Hanya untuk menjaga Emely dari hal - hal yang tidak bisa wanitanya itu atasi. Mereka memastikan sampai Emely pulang ke rumah nya.


Masalah Rossa waktu itu, sudah sampai di telinga Davino. Davino sudah memperingatinya semalam.


Flash back


"Jika sekali lagi kau berani menyentuh atau mencium ku, akan ku pastikan bagian tubuh yang menyentuhku itu, tidak akan berada pada tempatnya. " Saat hendak meninggalkan Rossa, Davino kembali berucap " Jangan lakukan lagi. " Rossa menatap Davino meminta penjelasan lebih dari kalimat yang Davino ucapkan barusan.


"Jangan mencari masalah dengan wanita ku, jika hal itu terjadi aku tidak akan memandang bahwa kamu hanya seorang wanita. " Kemudian Davino berlalu meninggalkan Rossa yang tidak suka mendengar kalimat yang di ucapkan Davino padanya.


Flash back end


Davino mencari ponsel di balik celana jeans yang di pakainya. Mengirim beberapa pesan di sana, sebelum akhirnya dia memutuskan untuk istirahat. Karena sungguh pria itu butuh istirahat.


***


Waktu menunjukan pukul 6 pagi saat Emely sedang mengumpulkan kesadarannya. Emely memijat dahi, ia masih sedikit pusing. Memilih duduk sebentar di pinggiran ranjang, sebelum dia melangkahkan kaki menuju pintu kamar dan kemudian menuju dapur kecil keluarganya.

__ADS_1


Sampai di dapur ternyata ayahnya sudah ada di sana. Seperti biasa membuat sarapan untuk Emely dan Eduar. Hal yang dulunya biasa dilakukan oleh ibu mereka.


"Selamat pagi sayang. " Sapa sang ayah, saat melihat Emely.


Emely memilih diam, tidak menjawab sapaan sang ayah. Diamnya Emely tidak akan membuat sang ayah menyerah untuk mendapatkan pengampunan dari putrinya.


" Roti lapis coklat untuk putri kesayangan ayah. " Ayah Emely meletakkannya tepat di depan Emely yang saat ini tengah duduk di meja makan. Saat bersamaan Eduar juga baru muncul ke arah dapur.


"Kayaknya ini enak ayah. " Saat hendak mengambil sepotong roti, ayahnya memukul pelan tangan Eduar.


"Itu buat kakakmu. " Saat ayahnya hendak mengambil lagi roti coklat untuk Eduar, Emely kali ini angkat suara.


" Makan aja kak, Eduar mau ambil yang itu aja, kayaknya lebih enak. " Eduar langsung mengambil sepiring roti lapis coklat yang tadi diambil ayahnya. Eduar hanya ingin hubungan Emely dan ayahnya kembali seperti dulu. Ayahnya pun berharap demikian. Walau mungkin semua nya tidak akan sama seperti dulu, saat ibu mereka masih ada.


" Tu kan, perut kak Emely udah keroncongan. " Eduar dan ayahnya mendengar jelas suara yang berasal dari perut Emely. Saat bangun tadi, Emely memang sangat lapar. Semalam sepertinya dia melewatkan makan malamnya. Itulah sebabnya dia langsung menuju dapur. Niatnya ingin memasak sesuatu, tak di sangka sang ayah sudah ada di sana.


Akhirnya Emely, Eduar dan ayahnya sarapan bersama. Walaupun hanya Eduar dan ayahnya yang terlihat banyak bicara. Emely hanya menjawab seadanya jika di tanya Eduar.


"Nak, sepertinya pria itu sangat mencintaimu. " Satu kalimat yang membuat Emely menghentikan gigitan pada rotinya.

__ADS_1


"Siapa maksud ayah? " Yang pasti ini bukan Emely yang bertanya. Melainkan Eduar adiknya.


" Pria yang mengantar kakakmu semalam. " Eduar tahu yang mengantar Emely semalam adalah Davino.


" Kak Davi? " Tanya Eduar memastikan.


" Ayah belum tahu siapa nama pria itu. " Jawab sang ayah.


" Apa benar kak Davi mencintai kakak ? " Kali ini Eduar yang angkat suara. Walau sebenarnya sudah sejak lama Eduar bisa melihat kalau Davino sangat perhatian kepada kakak perempuan nya itu.


Emely diam, kemudian meletakkan sisa roti yang tadi sempat di gigit nya ke atas piring.


"Eduar, kak Emely belum ingin membahas masalah itu. " Sebenarnya cepat atau lambat Eduar harus tahu bahwa Davino adalah pacar nya. Namun ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan masalah hubungannya dengan Davino.


" Jika memang kalian sudah punya ikatan, suruh lah pria itu untuk datang ke rumah. Ajaklah dia makan malam dan undangan juga keluarganya. " Emely seketika menatap ayahnya.


" Hubungan kami belum se jauh itu. " Maksud Emely, dia belum memikirkan kelanjutan hubungannya dengan Davino, apalagi sampai mengundang keluarganya Davino yang sudah jelas menjodohkan Davino dengan gadis lain.


"Kalian sering terlihat bersama. Sudah saatnya kamu memikirkan masa depanmu. " Entah mengapa Emely tidak suka mendengar apa yang di katakan ayahnya. Jika dulu ayahnya bertahan bersama mereka, mungkin dirinya tidak akan mengambil resiko dengan bekerja di Bar dan kejadian itu tidak akan pernah terjadi padanya.

__ADS_1


"Aku tidak akan mengambil keputusan secepat itu menyangkut pasangan hidupku. Aku tidak ingin nasibku sama seperti ibuku. " Setelah mengatakan itu Emely memutuskan meninggalkan meja makan. Ayahnya hanya menarik nafas berat mendengar perkataan Emely. Sedangkan Eduar memilih diam.


__ADS_2