
Emely perlahan sudah mengiklaskan kepergian ibunya itu. Benar kata Davino, ibunya sudah senang disana. Tiga hari setelah kepergian ibunya, Davino selalu datang menghiburnya, memberi dukungan. Begitu juga dengan Sisilia sahabatnya. Ana dan Rayhan juga datang dihari ibunya dimakamkan.
Hari ini Sisilia tidak bisa datang karena harus menemani sang ibu ke dokter. Eduar sudah masuk kerja. Sedangkan Emely gadis itu lebih memilih mengunjungi makam sang ibu.
Jam istirahat kantor digunakan Davino untuk menemui Emely. Mengajak gadis itu makan siang bersama. Melajukan mobilnya, Davino menuju kediaman Emely. Sesampainya disana, Davino tidak menemukan keberadaan gadis itu. Memilih menghubungi Emely namun tak kunjung diangkat gadis itu.
"Dimana kamu Mel? " Davino masih berdiri didepan pintu rumah Emely. Memikirkan dimana keberadaan gadis itu.
"Aku tahu harus cari kamu kemana Mel. " Naik kedalam mobil, Davinopun melajukan mobilnya ke pekuburan dimana Elisa ibu Emely dimakamkan.
***
"Ibu, Emely datang. Emely kangen sama ibu. " Sambil menaburkan bunga yang dibelinya didepan makam tadi.
" Apa ibu bahagia disana? " Ucapnya dengan lirih. "Emely harap ibu bahagia disana. " Gadis itu menghapus airmata yang lolos dari pelupuk matanya.
" Apa ayah tahu ibu udah nggak ada? " Biar bagaimanapun ayahnya harus tahu, kalau ibunya sudah meninggal. Biar ayahnya bisa datang ke makam ibunya. Tapi Emely bahkan tidak tahu dimana keberadaan ayahnya.
"Mel. " Emely menoleh kearah suara yang sudah sangat dihafalnya itu.
"Davi. " Ucapnya. "Kamu kok tahu aku disini. " Davino menghampirinya. "Aku tahu kamu pasti kesini. " Ucap Davino dengan tersenyum kearahnya.
"Kamu udah makan? " Emely menggeleng. Dia memang belum sempat makan siang sebelum datang ke makam ibunya. Davino meraih tangannya. " Ayo kita pulang, sebelum itu kita bisa mampir makan siang dulu. " Emely mengangguk. Setelah itu Davino mengajaknya kedalam mobil dan pergi dari situ.
***
Sepanjang makan siang mereka, Emely kadang terlihat murung. Seperti memikirkan sesuatu.
"Kamu kenapa? " Davino memilih bertanya.
" Aku nggak apa - apa. Aku hanya kepikiran ayah. Apa ayah tahu kalau ibu udah meninggal? " Jawabnya sambil tetap mengaduk - aduk makanannya.
"Kenapa kamu tidak menemui ayah kamu langsung Mel. " Kalau Emely tahu dimana ayahnya, dia pasti sudah menemui ayahnya itu. "Aku nggak tahu dimana ayah sekarang. " Ucapnya lirih.
" Aku tahu dimana ayahmu tinggal Mel." Emely menatap Davino tidak percaya. Bagaimana Davino tahu dimana ayahnya berada? Sedangkan pria itu, bahkan tidak pernah sekalipun bertemu dengan ayahnya.
__ADS_1
"Ayah kamu tinggal sama wanita sialan yang udah ngejual kamu ditempat pelelangan. " Emely membulatkan matanya. Sungguh kali ini dia tidak akan meragukan ucapan Davino. Karena memang ayahnya pergi bersama wanita itu. Tapi bagaimana Davino tahu kalau ayahnya bersama wanita yang menjualnya? Tunggu, apakah Davino sudah tahu kalau Emely dijual bukan menjual diri dipelelangan itu? Bagaimana pria itu tahu segalanya tentang dirinya.
Emely ingin bertanya, tapi Emely menundanya lebih dulu. keberadaan ayahnya saat ini lebih penting. Emely ingin ayahnya mengunjungi makam sang ibu. Agar setidaknya ibunya bisa senang, jika ayahnya datang berziarah.
"Davi, bisakah antarkan aku menemui ayah? " Davino mengiyakan. Karena apapun yang bisa membahagiakan Emely, Davino akan melakukan dan mengabulkannya.
***
Setelah menempuh perjalanan hampir sejam, Davino kemudian memarkirkan mobilnya diperumahan elit yang tidak jauh dari kota.
"Disini ayahmu tinggal. " Ucapnya pada Emely. Sambil menunjuk salah satu rumah disitu. Emely langsung membuka pintu mobil, berjalan mendekat kearah pagar rumah dimana ayahnya tinggal. Menekan bel beberapa kali, akhirnya muncul wanita yang menjualnya waktu itu.
"Kamu tidak pernah kapok yah. " Ucap wanita itu ketika melihat siapa yang bertamu dirumahnya.
" Tante dimana ayah saya? " Tanya Emely yang masih berdiri diluar pagar. Pasalnya wanita itu tidak membukakan pintu untuknya.
Menyilangkan tangannya diatas dada wanita itu menjawab sambil memalingkan wajahnya dari Emely. " Ayah kamu tidak ada disini. "
"Tante jangan bohong, ayah saya pasti ada didalam. " Emely berteriak memanggil ayahnya. Beberapa saat ayahnya keluar menyusul wanita itu.
" Emely. " Ucap sang ayah ketika melihat Emely dibalik pagar rumah.
Sang ayah membukakan pintu pagar itu, walaupun dilarang oleh wanita yang menjadi simpanannya itu.
"Kamu mau ngomong apa? " Tanya sang ayah, menatap anak perempuannya.
"Ini tentang ibu." Ucap Emely lirih.
"Ibu? Kamu masih bisa memanggil dia ibu? " Emely menatap ayahnya butuh penjelasan. Apa maksud ucapan ayahnya.
"Kalau kamu datang kesini hanya untuk membicarakan Elisa, lebih baik kamu pulang saja. " Ada sorot kebencian dimata ayahnya saat mengucapkan nama ibunya.
"Tapi ayah, ibu itu istri ayah. Ibu dari anak - anak ayah. "
" Apa Elisa tidak mengatakan kepada kalian, kalau beberapa hari yang lalu ayah menemuinya? " Emely terkejut, sungguh dia tidak tahu. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?
__ADS_1
" Ayah datang memberinya surat gugatan perceraian dari pengadilan. Jadi sebentar lagi ayah akan berpisah dari ibumu itu. Sebentar lagi dia tidak akan menjadi istri ayah." Emely mengepalkan tangannya, disaat wanita yang ada dibelakang sang ayah tersenyum bahagia.
" Bagaimana mungkin dia membiarkan putrinya, rela menjual diri dipelelangan wanita hanya untuk membuatnya sembuh. " Apa maksud ucapan ayahnya? Emely butuh penjelasan.
"Apa maksud ucapan ayah? "
" Ibu kamu itu telah memaksamu untuk menjual diri ditempat pelelangan wanita, agar supaya kamu bisa membawanya berobat bukan? "
"Apa ayah mengatakan semua ini pada ibu? " Emely hanya ingin memastikan. Walaupun Emely sudah mulai mendapat titik terang, mengapa sampai ibunya drop dan akhirnya meninggal dunia. Namun disatu sisi Emely berharap, ayahnya tidak sampai hati mengatakan hal itu pada ibunya.
" Iya ayah mengatakannya. Ayah mengatakan bahwa ayah menyesal pernah mencintai ibumu yang tidak punya hati. Ibu mana yang tega menjual anak gadisnya demi untuk kepentingannya sendiri. Itulah sebabnya ayah menceraikannya Emely. "
"Stop. " Emely berteriak. Davino yang memang disuruh Emely menunggu didalam mobil, langsung turun dari dalam mobil, menghampiri Emely.
"Mel, kamu tidak apa - apa? " Tanya Davino kuatir.
"Ibu tidak pernah menjual Emely. " Ucap Emely dengar air mata yang menumpah dari pelupuk matanya. "Ibu akan memilih mati dari pada harus menjual Emely. " Ucapnya lirih.
" Lalu jawab ayah dengan jujur, mengapa kamu bisa sampai ditempat pelelangan wanita? " Emely menatap wanita yang sudah mulai ketakutan namun bersikap cuek. Karena ketika Emely mengatakan dirinya yang menjual Emely, maka Emely tidak memiliki bukti.
"Emely memang berada ditempat itu. Tapi ayah tahu siapa yang menjual Emely? " Emely menunjuk kearah wanita yang ada dibelakang ayahnya. " Dia. " Tidak terima, wanita itu maju mendekat kearah ayah Emely. "Kamu jangan asal tuduh. " Ucapnya pada Emely.
"Sayang, aku tidak mungkin melakukannya. Lagi pula kapan aku bertemu anakmu ini. Dia berusaha menfitnaku sayang, biar kamu membenciku. " Menangis terisak dilengan ayah Emely.
"Mel, jika kamu tidak suka ibu bersama ayahmu, setidaknya tolong jangan fitnah ibu seperti itu. " Wanita itu seperti ratu drama yang sudah memenangkan beberapa penghargaan karena berakting sangat baik.
"Kamu bukan ibuku. Aku jijik mendengar kau menyebut dirimu seorang ibu. Kamu yang menjual aku, ditempat terkutuk itu. " Emely melihat kearah ayahnya. "Ayah percayakan sama Emely? "
" Ayah bukan tidak percaya sama kamu Mel, tapi benar kata tante Siska, dia tidak mungkin menjual kamu ditempat itu. " Wanita yang ternyata bernama Siska itu tersenyum kearah Emely.
"Lalu ayah pikir, sangat mungkin untuk ibu ngejual Emely? " Ayahnya terdiam. Emely menangis, sungguh yang didepannya ini, bukan ayahnya yang dulu.
"Wanita itu yang menjual Emely ditempat pelelangan. " Kali ini Davino yang angkat suara.
" Kamu jangan asal tuduh yah. " Perempuan itu membentak Davino. "Lagi pula kamu siapa, ikut campur urusan keluarga kami. " Ayah Emely menambahkan.
__ADS_1
Davino tertawa terbahak. "Aku orang yang akan selalu melindungi Emely, dari siapa saja yang menyakitinya. Termasuk orang terdekatnya sekalipun. " Ucapnya kemudian.
Davino kemudian pergi kedalam mobilnya mengambil map coklat yang selalu dibawanya. Melemparnya kewajah perempuan itu. " Aku rasa, kamu kenal orang yang ada didalam foto itu. " Ayah Emely mengambil map itu dari tangan Siska dan melihat isi didalamnya. Bukti transaksi pembayaran saat perempuan itu menjual Emely dan beberapa lembar foto saat perempuan itu mendatangi Sweet Room bersama Emely. Merem*s foto itu dan melemparnya diwajah Siska, Ayah Emely lantas menampar perempuan itu. "Jelaskan semua ini padaku. " Ucapnya kemudian. Wanita itu bergeming dan memilih lari kedalam rumah.