
Davino meraih kunci mobil, ketika tubuh gadis itu sudah menghilang dari balik pintu. Menyalakan mesin mobil, menyusul Emely. Davino yakin gadis itu akan menaiki bis, itulah sebabnya Davino melajukan mobilnya kearah halte bis. Benar dugaannya, dari jauh dia melihat sosok Emely yang sesekali memeluk tubuhnya karena kedinginan.
Emely terkejut melihat sebuah mobil menghadangnya.
" Naik. " Ucap Davino pada Emely. Namun gadis itu tidak mendengarkan perintah Davino. Memilih berjalan dari samping mobil Davino.
"Emely naik. " Baru kali ini Emely mendengar laki - laki itu menyebut namanya. Bahkan suaranya sudah meninggi.
"Apa kau mau aku gendong sampai kedalam mobil? " Emely pikir laki - laki itu hanya menggertaknya, tapi siapa sangkah laki - laki itu sudah akan turun dari dalam mobil. Melihat hal itu Emely langsung mengitari mobil itu, masuk ke kursi penumpang. Sebelum laki - laki itu benar akan menggendongnya.
***
Pagi sudah menyapa, Emely menggeliat dalam tidurnya. Membuka mata perlahan ketika mendengar suara ketukan pintu.
"Kak Emely, kakak tidak pergi bekerja? " Suara Eduar terdengar dibalik pintu kamarnya. Emely meraih ponselnya, melihat jam dilayar ponsel. Emely seketika turun tergesa - gesa dari ranjang. Sudah hampir jam 8 pagi dan jam kerja di apartemen Davino dimulai jam 8 tepat, sesuai kesepakatannya dengan Davino kemarin.
Membuka pintu kamar "Astaga kak Emely kesiangan dek. " Berlari kecil kearah kamar mandi disamping kamarnya. Eduar hanya menggeleng melihat kakak perempuannya yang bisa dibilang baru kali ini terlambat bangun. Biasanya Emely selalu bangun pagi - pagi sekali. Waktu kerja di bar kak Boy sampai dini haripun Emely tetap bangun pagi. Tumben - tumbennya dia telat bangun hari ini.
***
Sambil menjijing sepatunya Emely berlari kecil, kearah dapur. Sudah ada ibunya dan Eduar yang duduk dimeja makan. "Ibu Emely pergi dulu. " mengecup pipi kanan ibunya sambil berjalan tergesa - gesa kearah depan.
"Kamu nggak sarapan dulu nak? "
"Emely udah telat bu, Emely pergi dulu. " Dia mengucapkannya sambil berlalu meninggalkan rumahnya.
Dalam perjalanan menggunakan transportasi umum, Emely sesekali melirik jam tangan yang melingkar cantik ditangannya. Sudah pasti dia sangat telat. Karena tinggal beberapa menit lagi, waktu menunjukkan pukul 09 pagi. Emely berharap laki - laki itu sudah berangkat bekerja.
__ADS_1
***
Disaat Emely akan menekan pass key apartemen Davino, pintu apartemen itu sudah terbuka lebih dulu. Sosok laki - laki menyebalkan muncul didepan pintu, sambil kedua tangannya dia lipat diatas dada.
"Sudah menyusahkan aku semalam, hari ini juga datang terlambat. " Emely memicingkan matanya. Dia tidak salah dengarkan? Menyusahkan? Bukannya kebalikan. Laki - laki menyebalkan itu yang menyusahkannya semalam.
Davino melangkah masuk, disusul Emely yang masih menggerutu dibelakang Davino.
"Menyusahkan apaan? Bukannya dia yang menyusahkan aku semalam. Mencuci bajulah, sakit perutlah. " Sumpah Emely mengatakannya sangat pelan bahkan hampir tidak bisa didengar. Siapa sangkah laki - laki itu bisa mendengarnya. Karena barusan Emely yang menggerutu, tidak sadar jika Davino berhenti dan akhirnya dia membentur punnggung Davino.
Emely mundur kebelakang, sebelum Davino berbalik menatapnya. "ck, menyusahkan apaan? menjeda ucapnnya. " Kau lupa atau tidak sadar? semalam kau ketiduran dimobilku, aku sudah membangunkanmu beberapa kali tapi kau tidur seperti kerbau dan akhirnya harus aku yang mengendongmu kedalam rumah. " Emely menggaruk kepalanya, berusaha mengingat kejadian semalam. Sial, dia benar - benar tertidur semalam dimobil laki - laki itu.
Kejadian semalam.
Davino beberapa kali melihat Emely menguap. Sepertinya gadis itu benar -benar kelelahan. Ditambah jalanan yang sedikit macet, walau sudah hampir tengah malam. Membuat Emely merasa bosan dan mengantuk. Namun Emely menahan kantuknya, karena biar bagaimana pun dia tetap harus waspada pada laki - laki dibalik kemudi itu. Bisa saja dia mengantarnya ke kuburan atau menjualnya ke tempat pelelangan wanita. Tapi pertahanan yang dia coba bangun, runtuh begitu saja ketika matanya sudah tidak mampu diajak berperang bersama. Dia tertidur.
"Maaf telah menyusahkanmu. Aku hanya ingin mencari alasan untuk bisa bersamamu. " Tangan yang satunya dia pakai memegang setir dan yang satunya dia pake mengelus pipi gadis yang sementara tertidur itu.
Sesampainya dihalaman rumah Emely, terlihat Eduar keluar dari dalam rumah. Ketika mendengar suara mesin mobil. Begitulah Eduar, dia akan menunggu kakak perempuannya, yang hanya pamitan sebentar padanya namun tak kunjung kembali. Kalau Emely pamit bekerja, Eduar tidak akan menunggunya seperti saat ini.
"Oh jadi kak Emely pergi sama kak Davi? " Sudah berjalan kearah mobil Davino.
"Kak. " Eduar berusaha membangunkan kakak perempuannya.
"Kak Emely kenapa? " Ingin menggoyangkan tubuh kakak perempuannya. Namun Davino melarangnya.
Davino turun dari dalam mobil, mengitari mobilnya dan berdiri disamping Eduar yang hendak mengangkat kakak perempuannya.
__ADS_1
"Kakak kamu ketiduran pas dijalan tadi. "
" Biar kak Davi aja yang angkat. " Meraih tubuh Emely dengan hati - hati. Mengikuti langkah Eduar yang mendahuluinya, membuka pintu depan dan membuka kamar kakaknya. Dengan hati - hati Davino menaruh tubuh Emely diranjang. Bahkan laki - laki itu dengan santainya memakaikan selimut ditubuh Emely. Tentu saja Eduar bertanya - tanya dalam hati, ada hubungan apa diantara kakak perempuannya dan Davino. Davino terlihat sangat perhatian pada kakak perempuannya. Padahal mereka berdua baru dua kali bertemu. Disaat makan malam dan hari ini.
"Kak Davi pamit pulang dulu. " Pamitnya dan diiyakan oleh Eduar.
Kejadian sekarang
Emely salah tingkah sendiri ketika menyadari betapa bodohnya dan dengan gampangnya dia bisa tertidur di mobil laki - laki itu. Namun dia berusaha memasang wajah seolah dia lupa dengan kejadian semalam.
"Aku tidak ingat. Yang kuingat waktu kau mengantarku semalam, aku turun dari dalam mobil dan kamu mengantarku hanya sampai halaman rumah saja. " Mengarang saja dulu, dari pada laki - laki itu besar kepala nantinya.
Davino berdecak "Ya sudah kerja sana. " Emely melangkah kedapur. Laki - laki itu pasti akan sarapan sebelum pergi bekerja. Tapi tunggu jam segini dia masih menggunakan pakaian rumahan.
"Aku akan membuatkanmu roti, supaya kamu tidak menunggu sarapannya terlalu lama atau setidaknya kau bisa memakannya dalam perjalanan ke kantor. "
Emely tidak sadar bahwa ucapannya barusan seperti sebuah perhatian kecil pada laki - laki itu. Toh, bodoh amatlah jika laki - laki itu tidak sarapan sebelum ke kantor.
"Aku masih sakit, jadi tidak akan ke kantor. Buatlah sarapan tapi jangan roti. " Emely bergerak gugup. Berarti selama pekerjaannya belum selesai, dia akan menghirup udara yang sama dengan laki - laki itu. Emely harus menyelesaikan pekerjaannya secepat mungkin, agar dia bisa secepatnya pergi dari apartemen itu. Tapi apakah laki - laki itu sakit? tidak mungkin. Dia terlihat sehat, segar dan bawel.
B E R S A M B U N G
________________________
Yang sering protes, kok dikit thor. Ya ampun ini itu udah 1000 lebih kata. Itu udah banyak para pembacaku sayang. Makanya kalau baca dinikmatin, perlahan nggak buru - buru. Supaya nggak cepat berasa abis ceritanya.
Aku suka pada yang ngevote, diam aja. menikmati alurnya tanpa protes.
__ADS_1
Kan udah dibilang, buat kalian yang baca itu hanya beberapa menit buat nyelesain satu bab. Buat yang ngarang bisa berjam - jam menyelesaikan satu bab. Jadi sabar napa. hehehe maaf kalau ada salah kata.