Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 34


__ADS_3

Malam ini Davino datang kerumahnya, memenuhi permintaan ayahnya untuk makan malam bersama Rossa anak dari salah satu kolega ayahnya.


Rossa Andini


Berprofesi sebagai seorang model yang pastinya memiliki proporsi tubuh yang bagus, berwajah cantik dengan balutan make up yang cukup tebal. Anak dari seorang pengusaha di bidang properti.


"Why your face Davi? " Tanya sang ayah Fransisco Swam. Karena pukulan Alex tadi siang, meninggalkan bekas kemerahan disisi pipi kanan dan sobekan kecil dibibir Davino. Untung saja Alex tidak terlalu keras memukul wajahnya. Sehingga ketampanannya tidak berkurang sama sekali.


" Biasalah Dad, urusan anak muda. Aku merebut pacar orang, terus aku dihajar sama pacarnya. " Davino hanya ingin memberi kesan buruk dihadapan wanita yang akan dijodohkan dengannya itu. Walaupun keluarganya tahu bahwa seorang Davino tidak akan kekurangan seorang wanita sehingga dia harus merebut seorang wanita dari pria lain.


" Kamu ini ada - ada saja. Disini ada gadis cantik yang masih single, kamu malah ngejar pacar orang. " Rossa tersenyum malu dengan penuturan ayah Davino barusan.


" Aku tidak suka wanita lain, selain dia Dad. " Senyum Rossa ikut memudar mendengar ucapan Davino barusan. Secara tidak langsung, Davino menolaknya dengan kalimat yang dia ucapkan barusan.


"Davi, kamu ngomong apa sih nak. Hargai Rossa nak. " Ini suara ibunya Magdalena Swam. Ibunya memang seorang yang lemah lembut dan paling menghargai orang lain.


" Mom, Davi ngomong apa adanya. " Melihat dengan lembut kearah ibunya.


"Sudah... sudah tidak perlu dibahas lagi. Kita makan sekarang. " Fransisco memotong.


Mereka pun makan malam dalam hening, tidak ada pembicaraan lagi di meja makan itu.


***


Setelah makan malam selesai, keluarga itu sedang berbincang - bincang santai diruang keluarga. Rossa tentu juga ada di sana, dia memang menyukai Davino sejak setahun yang lalu, sejak Davino datang ke perusahaan ayahnya bersama Fransisco. Jadi saat inilah kesempatannya untuk lebih mendekatkan diri pada Davino dan keluarganya. Walaupun Davino sedari tadi tidak menatapnya dan lebih fokus dengan ponselnya. Namun Rossa cukup senang karena Davino juga masih duduk diruang yang sama dengannya.


"I have to go. " Ucap Davino mulai berdiri dari duduknya.


"Kenapa secepat itu nak. " Magdalena mendekati putra sulungnya.


"Aku ada janji sama Alex dan Haizel mom. " Alasan yang dibuat Davino. Padahal dia sama sekali tidak membuat janji dengan kedua sahabatnya itu.


"Davi, sekalian aja antar Rossa pulang. " Ayahnya mengusulkan.

__ADS_1


"Kamu bawa mobil kan? " Davino menatap kearah Rossa yang masih duduk.


"Iya. " Jawab Rossa.


"Dia bawa mobil dad, Davi juga bawa mobil. Jadi Davi tidak perlu antar dia kan? " Kecewa sudah pasti. Rossa hanya bisa mengepalkan tangannya mendengar penolakan Davino.


"Biar mobilnya diantar sama supir daddy. " Sepertinya ayahnya benar - benar niat menjodohkan Davino dengan Rossa. Tanpa disadari Rossa tersenyum. Kali ini Davi tidak akan menolak bukan?


" Kenapa tidak sekalian supir daddy aja yang anterin dia? " Kenapa ada manusia sedingin ini sih, tidak mengerti apa kalau ayahnya sedang berusaha mendekatkannya dengan gadis bergaun merah itu.


Davino melirik jam ditangannya, seolah dia sudah dikejar waktu. "Davi pergi dulu. " Tanpa menunggu jawaban dari orangtuanya, Davino berlalu pergi meninggalkan Fransisco, Magdalena dan Rossa yang tampak berusaha menahan kekesalannya.


"Maaf nak. Davino memang keras kepala. " Rossa hanya berusaha memberikan senyum termanisnya mendengar ucapan maaf dari ayah Davino. Padahal dalam hati dia bersumpah akan membuat Davino bertekuk lutut padanya.


***


Sepulang dari kediaman orangtuanya, Davino langsung menuju apartemennya. Davino meraih ponselnya, membuka pesan semalam. Pesan antara dirinya dan Emely. Walaupun isi pesan itu tidak penting, namun entah mengapa begitu istimewa dihatinya.


" I miss you, when i can't sleep. " Masih menatap layar pesan di ponselnya.


Dia harus mencari cara agar Emely datang saat ini juga. Tapi apa? Berpikirlah Davino. Sesekali dia menarik rambutnya, mencari sebuah ide. Sampai dia menjentikkan jarinya, mendapat ide tepatnya.


Mengetik sesuatu dan mengirimnya.


***


Emely yang baru saja selesai mandi, mengambil ponselnya karena ada notifikasi pesan yang masuk dilayar ponselnya.


Seseorang yang diberi nama Devil dikontak ponselnya, mengirim sebuah pesan padanya.


Emely membukanya.


"Kenapa kau tidak mencuci pakaianku?" Apakah itu ide yang didapat Davino, benar - benar tidak masuk akal.

__ADS_1


Emely memang tidak mencuci pakaian kotor milik laki - laki itu. Karena keranjang pakaian kotor milik Davino, ada didalam kamar laki - laki itu. Emely tidak mungkin masuk kedalam kamarnya dan mengambilnya bukan?


" Besok aku akan mencucinya. Tapi tolong letakkan itu didepan pintu kamar, sebelum kau pergi. " Emely meletakkan ponselnya setelah mengirim pesan itu. Lalu ia mengeringkan rambutnya dengan sebuah handuk kecil. Kembali ia meraih ponsel itu karena sepertinya laki - laki itu masih mengiriminya pesan.


" Aku akan memakai baju itu besok. " Apaan sih maunya nih orang. Emang dia tidak memiliki pakaian lain selain pakaian kotornya. Alasannya tidak masuk akal.


"Apakah kau tidak memiliki pakaian lain? " Emely bahkan sangat kesal dengan laki - laki itu. Tidak mungkin kan, seorang pemilik perusahaan properti tidak memiliki stok pakaian di lemarinya.


" Itu baju keberuntungan aku. Pemberian dari almarhum kakek buyut aku. Besok aku akan menanda tangani proyek besar. Aku butuh memakai baju itu. " Syukur Emely tidak tahu kalau kakek buyut Davino sudah meninggal sebelum Davino lahir ke dunia ini. Jadi tidak ada baju pemberian dari kakek buyutnya. Itu alasan Davino saja.


" Aku tidak perduli. " Sepertinya Emely sudah kehabisan sabar. Alasan apa coba, baju keberuntungan. Tidak masuk akal.


"Ok. Jika besok proyek itu gagal, maka jangan salahkan aku jika mencabut beasiswa adikmu. Bukan hanya adikmu tapi semua mahasiswa penerima beasiswa di kampus aku, yang akan kehilangan beasiswa mereka. " Kenapa sih selalu mengancam. Emely melemparkan ponselnya.


"Aku akan menjemputmu. " Satu pesan terakhir dari Davino. Davino yakin Emely tidak akan membiarkan adiknya kehilangan kesempatan untuk kuliah disalah satu kampus terbaik di negara ini. Emely juga tidak akan tega, jika karena dirinya ada beberapa mahasiswa yang harus menghentikan impian mereka untuk bisa kuliah.


Beberapa saat kemudian.


" Aku didepan rumahmu, keluarlah. " Emely memasukkan ponselnya di tas miliknya sebelum melangkah keluar kamar, setelah membaca satu pesan yang dikirim Davino padanya.


"Kakak mau kemana? " Tanya Eduar yang sedang menonton diruang tengah rumah mereka.


"Kakak mau keluar sebentar. " Jawab Emely.


"Baiklah. Hati - hati kak. " Emely mengangguk dan meninggalkan Eduar yang masih sementara asyik menonton pertandingan sepak bola.


Sementara pria dibalik kemudi, tersenyum melihat seorang gadis yang baru saja keluar dari pintu rumahnya. Walaupun dengan wajah juteknya, Emely terlihat menggemaskan menurut Davino.


Merekapun menuju apartemen...


B E R S A M B U N G


_____________________

__ADS_1


__ADS_2