
Emely melihat jam diponselnya. Sudah hampir setengah jam Emely menunggu pria itu. Namun Davino belum juga datang ketempat dimana mereka bertemu.
" Dia tadi yang ngotot ingin ketemu disini, tapi malah dia yang nggak datang. " Emely berniat pergi dari tempat itu. Namun suara seseorang menghentikan langkahnya
"Emely... " Teriak seseorang yang baru saja turun dari dalam mobilnya.
"Ray. " Bukan Davino melainkan Rayhan yang datang menghampirinya.
" Ray, kamu kok bisa ada disini? " Emely melihat kearah belakang Rayhan, seperti mencari seseorang. " Ana mana? " Tanya Emely tidak mendapati Ana sahabatnya. Biasanya Rayhan selalu dengan tunangannya itu setiap kali pergi.
" Aku sendiri Mel. " Emely yakin situasi tidak akan baik, jika Ana sampai tahu dirinya bertemu dengan Rayhan ditaman seperti ini. Walaupun mereka memang tidak sengaja bertemu.
"Oh, kalau begitu aku pergi dulu Ray. " Emely hendak meninggalkan Rayhan. Namun pria itu, malah menahan pergelangan tangannya.
" Mel, kamu ngehindarin aku? " Tanya Rayhan menatap Emely.
"Nggak kok Ray. " Melepaskan tangannya dari genggaman Rayhan. Walaupun iya, Emely memang menghindarinya.
" Saat kamu datang kesini aku memang sudah akan pergi. " Emely mengambil jarak. Rayhan bisa menyadari bahwa gadis itu memang berusaha menghindari dirinya.
"Aku pergi dulu yah Ray. " Emely cepat - cepat berjalan meninggalkan Rayhan. Tanpa menunggu jawaban Rayhan.
"Woi Onta. " Teriak Rayhan, seketika panggilan itu menghentikan langkah Emely. Emely bergeming ditempatnya. Ingatannya menerawang jauh, kenangannya bersama Rayhan tiba - tiba menghampiri. Rayhan sudah berlari kearahnya dan memeluknya.
" Aku rindu. " Ucap Rayhan jujur. Emely baru menemukan kembali kesadarannya ketika Rayhan memeluknya. Baginya semua ini tidaklah benar. Rayhan bukan Rayhan miliknya dulu. Tapi milik Ana, sahabatnya.
"Rayhan apa yang kau lakukan? " Emely mendorong tubuh Rayhan menjauh.
" Apa kau tidak dengar, aku merindukanmu Mel. " Kenapa rasa rindu yang terucap dari bibir Rayhan, membuat hatinya sakit. Apakah karena laki - laki itu sudah menyakiti hatinya? Sudah pergi meninggalkannya disaat dia membutuhkannya?
__ADS_1
" Aku tidak dengar. " Emely menutup telinganya. Berjalan kembali meninggalkan Rayhan. Namun Rayhan, lagi - lagi mengejarnya, menahan pergelangan tangan Emely dan kali ini Rayhan mencium bibir Emely. Emely mendorong tubuh Rayhan dan menampar pria itu. Bukannya berhenti Rayhan malah menarik tubuh Emely, merapatkannya dan kembali mencium bibir Emely. Emely berusaha mendorong tubuh Rayhan, namun laki - laki itu semakin menekan tengkuk Emely. Tidak melepaskan ciumannya.
"Sialan... " Seseorang menarik kasar tubuh Rayhan dan melayangkan satu pukulan ke wajah Rayhan. Emely terkejut, melihat Rayhan jatuh tersungkur. Namun laki - laki itu tidak berhenti sampai disitu, dia kembali melayangkan satu pukulan ke wajah Rayhan.
"Brengsek. " Teriaknya sambil tetap memukul Rayhan. Sudah berusaha menahan emosinya dari rumah, sampai ditaman dia melihat pemandangan yang membuat amarahnya semakin tersulut.
"Davi... Sudah hentikan. " Emely berusaha meraih tubuh Davino menjauhkannya dari Rayhan. Namun Davino seperti seorang yang kesetanan.
Dia masih menahan tubuh Rayhan dan kembali memukulnya.
"Pukul aku brengsek. Asal kau tahu, Emely itu masih cinta padaku. " Emely berharap Rayhan menutup mulutnya. Bukan karena dirinya, tapi karena Davino pasti bisa membunuhnya.
"Apa kau bilang? " Itukan, Davino lagi - lagi memukulnya. Kali ini Davino berdiri, hendak mengijak Rayhan. Namun Emely cepat - cepat memeluk Davino.
"Hentikan Davi, kumohon. "Melihat kearah Emely yang sudah ketakutan. Davino berhenti. Lalu yang ia lakukan sekarang, menarik tangan Emely, membawanya kedalam mobil. Meninggalkan taman tadi.
Sepanjang perjalanan Davino bergeming. Namun Emely yakin Davino sedang mencoba menahan amarahnya. Dapat terlihat dari rahangnya yang mengeras.
"Davi kau menyakitiku. " Davino hanya memberi Emely waktu sebentar untuk bernafas dan kesempatan itu digunakan Emely mengatakan hal itu. Namun Davino tidak berhenti. Bayangan Rayhan yang mencium bibir gadis itu, membuat Davino kalang kabut. Berusaha menghapus bekas ciuman Rayhan dibibir gadis itu.
Emely menggigit bibirnya hingga berdarah, Davino yang menyadari itu langsung melepaskan ciumannya dan melepaskan tangan gadis itu.
"Apa yang kau lakukan Emely. Kau menyakiti dirimu sendiri. " Ucap Davino meraih wajah Emely. Namun gadis itu menepisnya.
"Kau yang menyakitiku. " Emely terduduk dilantai sambil menangis.
"Oh, shit. " Umpat Davino sambil menjambak rambutnya frustasi. Dia baru sadar apa yang dilakukannya barusan, akan membuat Emely kembali takut padanya.
Menurunkan tubuhnya mensejajarkannya dengan tubuh gadis yang masih menangis terisak itu. Lebih mudah baginya menyelesaikan banyaknya angka dalam laporan keuangan perusahaannya. Dibandingkan harus menghadapi gadis yang menangis didepannya ini.
__ADS_1
"Mel. " Kembali ingin menyentuh wajah Emely, namun lagi - lagi Emely menepisnya.
" Mel... Maaf. " Menarik nafasnya kasar. Sungguh Davino tidak bermaksud menyakiti gadis itu.
"Aku salah Mel. " Menunduk.
"Aku cinta sama kamu Mel. Aku hanya tidak ingin ada orang lain yang menyentuhmu. " Emely masih menangis, namun sudah tidak terisak.
" Terserah kau mau percaya atau tidak Mel. Sebrengsek - brengseknya aku, aku belum pernah jatuh cinta. Kau cinta pertamaku. " Emely berhenti menangis.
Apakah benar yang dikatakan Davino barusan? Bukankah laki - laki itu tidak kekurangan satu wanita pun.
"Mel. " Kembali mengangkat wajah Emely, agar pandangan mereka bertemu. Kali ini Emely tidak menepis tangannya. Emely menatap mata Davino mencari kebenaran ucapan pria itu.
"Aku cinta sama kamu Mel. Aku mohon beri aku kesempatan untuk bisa berubah dan memperbaiki semua kesalahanku yang pernah aku lakukan dulu maupun sekarang Mel. " Menjeda ucapannya.
" Tidak apa - apa kau tidak membalas cintaku Mel. Tapi biarkan aku mencintaimu dengan caraku. " Ucapnya lirih.
"Mencintaiku dengan cara menyakitiku? " Kali ini Emely membuka suara. Davino menggelengkan kepalanya.
" Nggak Mel. Aku janji nggak bakal nyakitin kamu lagi. "
"Jangan menjanjikan sesuatu yang nantinya akan kamu ingkari Davi. "
"Beri aku kesempatan untuk membuktikannya Mel. " Pintanya dengan tulus.
"Baiklah. Aku akan memberimu kesempatan itu. " Davino berbinar.
"Jadi kau menerima cintaku Mel? " Meraih tangan Emely. Emely mengangguk.
__ADS_1
"Makasih yah Mel. " Hendak memeluk Emely, namun tidak jadi karena takut Emely akan berubah pikiran.