
Davino memarkirkan mobilnya sembarang. Keluar mobil dan berlari ke arah dimana ibumu Emely dikuburkan. Davino berharap wanita itu belum pergi kemana - mana.
Davino bersyukur ketika dari jauh dia bisa melihat sosok kekasihnya itu. Menyadari kedatangan Davino, Emely mencoba pergi dari sana. Namun kaki panjang Davino mampu mengejar wanita itu. Menahan pergelangan tangan Emely, Davino mencoba menahan wanita itu.
"Lepas Davi. " Emely berusaha melepaskan genggaman tangan itu. Bukannya melepaskan, Davino malah menarik tubuh wanita itu, memeluknya.
"Aku nggak bakal lepasin kamu Mel." Ucapnya lirih. Ada ketakutan dihatinya.
"Aku bisa gila, kalau kamu pergi begitu aja kayak tadi. "
" Lepas Davi. Aku nggak mau gara - gara aku kamu ribut sama keluarga kamu. "
"Nggak Mel, nggak. Aku nggak bakal lepasin kamu. " Ucapnya tegas.
" Davi, lepasin aku. Kumohon. " Emely masih berusaha melepaskan pelukan itu. Namun sia - sia. Davino semakin mengeratkan pelukannya.
"Aku bakal lepasin kamu. Tapi kamu harus janji, kamu nggak bakal pergi kayak tadi. " Emely mengangguk dan Akhirnya Davino melepaskan pelukan itu.
"Kamu pulang aja Davi. Aku masih mau disini sama ibu. " Sebentar lagi hari sudah mulai gelap. Davino tidak akan mungkin meninggalkan Emely di sana sendirian.
" Kalau kamu disini, aku akan tetap disini nemanin kamu. " Walaupun Emely tidak membahas masalah di Restoran tadi, namun Davino tahu wanita itu terluka dengan ucapan David adiknya.
"Kamu pulang aja Davi. Aku bakal baik - baik aja. Ada ibu disini yang jagain aku. "
__ADS_1
"Aku yang nggak baik - baik aja kalau ninggalin kamu sendiri Mel. " Davino memang masih takut, takut kalau Emely akan berubah pikiran. Takut kalau apa yang dikatakan David tadi, akan berdampak pada hubungannya dengan Emely.
Emely tidak lagi angkat suara. Karena dia mengenal Davino. Laki - laki itu, tetap pada pendiriannya.
"Mel, ini udah hampir malam. Kita pulang yah. " Bujuk Davino pada Emely yang masih memeluk nisan sang ibu. Menyadari suasana makam yang sudah mulai sepi dan sinar matahari mulai tak nampak lagi, Emely akhirnya mengiyakan ajakan Davino.
***
Davino mengantar Emely pulang ke rumah.
"Kamu nggak usah ikut turun. Ini udah malam. " Ucapan Emely menghentikan Davino yang baru saja turun dari dalam mobil mengikuti wanita itu.
"Yah udah, besok aku jemput yah. "Emely bahkan sudah lupa kalau mulai besok dia akan bekerja di Restoran yang dilamarnya tadi.
"Tidak usah Davi, aku bisa pergi sendiri."
"Aku masuk yah, kamu pulang aja. " Entah mengapa Davino bisa merasakan kalau Emely berusaha menghindarinya. Atau ini hanya perasaan dia saja. Kali ini Davino membiarkannya dulu, karena Davino tahu bagaimana perasaan Emely saat ini.
Davino akhirnya pulang ke apartemen. Sesampainya di apartemen sudah ada ibunya di sana. Mungkin David yang memberitahu sang ibu password apartemennya.
"Kamu dari mana aja? Sedari tadi Mommy menunggu kamu disini." Ucap ibunya yang sudah berdiri dari sofa yang didudukinya, sejak setengah jam yang lalu. Berjalan mendekati Davino yang baru saja masuk meletakan sepatunya dan mengganti dengan sandal rumahan.
"Davi ada urusan diluar Mom. " Ucap Davino, kali ini berjalan kearah sofa yang diduduki ibunya tadi. Sang ibu ikut duduk disampingnya.
__ADS_1
"Kamu marah sama mommy?" Tanya sang ibu.
Melihat kearah sang ibu, Davino tersenyum. Lalu menggeleng.
"Tapi kenapa kamu nggak pernah menghubungi Mommy. Telpon Mommy juga nggak pernah kamu angkat. " Semenjak kejadian di rumah waktu itu, Davino memang tidak pernah mengangkat telpon sang ibu dan juga David adiknya. Davino seperti memutuskan hubungan dengan keluarganya.
"Davi sibuk Mom. " Memberi alasan yang menurut sang ibu tidak masuk akal. Karena setahu ibunya, Davino tidak pernah lagi pergi dan mengurus perusahaan. Urusan pekerjaan di perusahaan dihandle sang ayah dari rumah dan dibantu Rony sang asisten yang dipercaya Davino dan juga dipercaya Fransisco sang ayah.
"Oh yah, Mommy ngapain kesini? Tanya Davino tanpa basa - basi.
"Emang Mommy nggak boleh datang ngeliatin anak tertua Mommy. " Ucap wanita yang tetap cantik diusianya yang tidak muda lagi itu. Davino hanya berekspresi seperti biasa saat ibunya mengatakan hal itu. Karena memang begitulah seorang Davino yang dikenal keluarganya.
"Gimana David? " Davino ingat seberapa keras tadi dia memukul adiknya. Davino memilih bertanya karena Davino tahu, kejadian tadi di Restoran sudah sampai ditelinga keluarganya, dengan atau tanpa David memberitahu keluarganya.
" Dia baik - baik aja. " Menarik nafas kasar sang ibu menatap Davino lekat.
"Kata David, kamu mukulin dia karena membela seorang gadis. " Davino tahu David pasti sudah memberitahu hal itu pada sang ibu. Ibunya pasti menanyakan hal itu pada David dengan mendetail dan akhirnya David tidak memiliki pilihan lain selain menceritakan semua kejadian tadi.
" Sekarang Mommy yakin, kalau anak Mommy beneran jatuh cinta. " Bukannya memarahi atau melarang Davino pacaran dengan gadis yang belum ditemuinya itu, Namun sang ibu sepertinya tidak keberatan dengan hubungan Davino dengan Emely.
"Mommy nggak marah aku pacaran sama Emely? " Davino bertanya antusias.
"Oh, jadi namanya Emely. " Ucap sang ibu. Walaupun waktu itu Davino pernah menyebutkan nama itu didepan sang ayah dan ibunya namun sepertinya sang ibu melupakan nama gadis itu. "Jadi kalian memang sudah resmi pacaran. " Sang ibu mangut - mangut.
__ADS_1
" Iya Mom, namanya Emely. Dia gadis yang baik, sederhana dan yang pasti cuma dia yang bikin aku jatuh cinta. " Kali ini sang ibu yakin kalau putranya benar - benar mencintai gadis itu. Selama ini Davino tidak pernah mengatakan apapun tentang seorang gadis, karena menurut rumor yang beredar diluar sana, Davino memang suka gonta - ganti pacar dan dia tidak pernah serius menjalin hubungan. Namun kali ini Davino terdengar yakin dengan perasaannya pada Emely.
Berdiri dari duduknya, sang ibu mengambil tas miliknya. "Berjuanglah untuk itu. " Ucapnya kemudian dan berlalu meninggalkan Davino. Dari kalimat ibunya, Davino yakin ibunya tidak melarang dirinya pacaran dengan Emely. Berdoalah semoga yang disemogakan bakal terwujud sesuai dengan waktu yang ditentukanNya.