
Andai dirinya tidak sakit, mungkin saat ini dia bisa menghadiri pesta pertunangan sahabatnya. Biar bagaimanapun Ana adalah sahabatnya. Jika diberi pilihan untuk memilih Rayhan dan Ana, Emely akan memilih Ana.
"Mereka pasti bahagia. " Membayangkan senyum bahagia diwajah sang sahabat dan juga senyum bahagia diwajah sang mantan kekasih. khayalannya buyar ketika suara histeris seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangannya. Siapa lagi kalau bukan Sisilia sahabatnya.
"Mel, kenapa sih kamu nggak bilang kalau kamu sakit? " Berjalan mendekati Emely yang mulai mengambil posisi duduk diranjangnya.
"Apa kamu udah nggak anggap aku sahabat kamu? " Berdiri disamping ranjang. Memajukan bibirnya sambil melipat kedua tangannya didada.
"Sil, kok kamu ada disini? " Tidak mengubris pertanyaan Sisil. Malah balik bertanya kepada sahabatnya itu. Emely yakin acara pesta dirumah Ana belum selesai. Itu berarti Sisil menemuinya disaat pesta masih berlangsung?
Eduar tiba - tiba ikut masuk keruangannya.
"Kalian barengan kesini? " Tanya Emely, bergantian menatap adik dan juga sahabatnya.
" Eduar yang ajak kak Sisil kesini kak. " Sisilia menatap Eduar.
"Dia menyebutku apa tadi? Kak Sisil? " Tidak terima. Tadi saja dia pake aku kamu. Sekarang sebutannya sudah berubah, didepan sang kakak. Sisil ingin minta dilahirkan kembali. Berharap Eduar yang lahir duluan.
"Apa pestanya udah selesai? " Bingung menjawab apa. Kalau jawab belum selesai Emely pasti marah. Tapi kalau jawab yang sejujurnya, Emely pasti juga marah sama Eduar.
"Oh yah Mel, kamu sakit apa? " Kali ini Sisilia berusaha menyelamatkan Eduar. Mengalihkan pembicaraan dan itu berhasil. Emely pun menjelaskan kepada Sisilia, mengapa dia sampai harus dirawat dirumah sakit.
" Oh. Jadi begitu ceritanya. Apa calon suamimu itu tidak tahu kalau kamu alergi sama kacang almond? " Haruskah Emely terus membohongi Sisilia tentang hubungannya dengan Davino. Haruskah dia boleh menjelaskan sekarang kalau Davino bukanlah calon suaminya?
" Tapi tunggu, dimana calon suami kamu itu Mel? Kok kamu sendiri disini? " Emely harus menjawab apa? Satu pertanyaan saja belum ia jawab.
__ADS_1
"Calon suami? " Eduar kali ini yang bertanya.
Rasanya Emely ingin pura - pura pingsan saja.
" Iya. Calon suami kakak kamu. " Sisilia menjawab.
"Sih... Dav.. " Baru ingin menyebutkan namanya, Emely cepat - cepat menutup mulut Sisilia.
" Berhentilah bicara. Aku masih sakit kepala. " Mencari alasan.
"Eduar antarkan Sisil pulang. " Hanya itu yang boleh Emely lakukan saat ini. Mengusir sahabatnya.
"Sil, kamu pulang yah. Aku butuh istirahat. Kepalaku tiba - tiba sakit. " Memegang kepalanya, seperti menahan sakit.
"Yah udah Mel. Kamu istirahat yah. Aku pulang dulu. " Emely mengangguk.
"Maaf Sil. Aku harus bohong. Aku bahkal jelasin sama kamu setelah aku keluar dari rumah sakit atau sampai Ana dan Rayhan balik lagi ke Jerman. " Emely kembali menidurkan tubuhnya diatas ranjang rumah sakit.
"Ini semua gara - gara Davino. "
"Kenapa dia harus mengaku sebagai calon suami aku sih? "
"Dasar, manusia gila. " Sambil tiduran tapi masih mengumpat.
" Siapa yang kamu bilang gila? " Emely terkejut mendapati pria yang masih dengan setelan jas hitamnya, berdiri di pintu ruangannya.
__ADS_1
"Ummm... "Berusaha memutar otak, mencari alibi.
" Kenapa kamu datang kesini? " Mengalihkan pembicaraan. Jurus baru yang selalu Emely gunakan, disaat situasi tertentu. Untuk menyelamatkan diri dari pertanyaan konyol.
" Aku bisa datang kesini, kapanpun aku mau. " Mulai lagi sikap seenaknya sendiri. Dia masih kesal, karena Emely mengabaikan pesannya. Emely memutar bola matanya malas. Malas berdebat maksudnya.
"Terserah. Aku mau tidur. " Menarik selimut, menutupi kepalanya. Dapat Emely dengar suara pintu ruangan tertutup.
"Apakah dia sudah pergi? " Namun masih enggan menurunkan selimut. Tunggu beberapa saat lagi, pikirnya. Bisa saja Davino masih ada diruangannya.
Beberapa saat kemudian, Emely menurunkan perlahan selimut yang menutupi kepalanya. Berharap Davino sudah pergi dari ruangannya. Karena tidak ada lagi suara terdengar.
Mengangkat sedikit kepalanya, Emely bisa melihat pria itu tertidur di bed sofa ruangannya.
"Kenapa dia tidur disitu? Apa malam ini dia akan menjagaku lagi? " Semalam Davino juga menjaganya, walaupun dia tidak tidur diruangannya karena ada Elisa ibunya dan Eduar. Sesekali Davino datang keruangannya, mengecek keadaannya. Bahkan laki - laki yang tertidur itulah yang menolongnya semalam.
Emely turun dari ranjang. Mengambil kain yang dibawah ibunya semalam. Berjalan perlahan kearah sofa. Menatap sekilas wajah Davino yang terlihat letih. Davino sebenarnya sangat lelah dan belum istirahat sejak semalam. Pagi tadi saat meninggalkan rumah sakit, ia hanya pergi membersihkan tubuhnya di apartemen dan langsung menghadiri meeting penting bersama sang ayah. Selesai meeting, diminta sang ayah memantau pembangunan resort diluar kota, dengan memakan waktu tiga jam perjalanan.
Sudah dipaksa menginap, oleh sang asisiten. Namun Davino memilih pulang malam itu hanya untuk menemui gadis yang tengah menatapnya saat ini.
Menutupi tubuh Davino dengan kain. Sebelum beranjak ke ranjangnya, lagi - lagi Emely menatap pria itu.
"Andai saja kita bisa bertemu dengan cara baik - baik. Mungkin aku tidak akan membencimu sebanyak ini. " Menghapus air mata yang hendak jatuh dari ujung matanya. Emely kembali ke ranjangnya.
Disaat Emely menutup matanya untuk beristirahat. Davino perlahan membuka matanya. Ada sebagian hatinya yang terluka mendengar ucapan Emely barusan.
__ADS_1
" Kau adalah kesalahan yang selalu aku benarkan. " Davino pun menutup matanya karena sungguh dia sangat lelah dan mengantuk.