
Like dulu sebelum baca yah...
____________________________
Setelah mendengar bahwa terjadi sesuatu di rumah Emely, Davino juga ikut kuatir. Apalagi Emely pergi dengan tergesa - gesa. Memilih menghubungi Emely untuk memastikan semua baik - baik saja, namun sayangnya gadis itu tidak mengangkat telpon darinya.
Davino lebih yakin bahwa semuanya tidak baik - baik saja. Memilih memastikan sendiri, Davino segera melajukan mobilnya menuju kediaman Emely.
Disinilah sekarang pria itu, diambang pintu rumah Emely. Entah mengapa melihat ketidakberdayaan gadis yang berlutut didepan pria, yang tak lain adalah rentenir tu membuatnya tidak terima.
"Kamu temani saya malam ini. " Satu kalimat yang keluar dari bibir pria itu membuat kemarahan Davino tersulut. Rahangnya mengeras, tangannya terkepal. Berani - beraninya pria itu mengajak wanitanya untuk menghabiskan malam bersama.
Wanitanya? sejak kapan Emely jadi wanitanya. Tapi biarlah, dia memang sudah memilih Emely untuk menjadi wanitanya. Urusan Emely mau atau tidak, itu urusan belakangan. Yang penting dia harus mengurus pria kurang ajar itu lebih dulu.
"Berdiri. " Teriak Davino. Mendengar suara tegas itu, membuat semua orang yang berada didalam rumah itu, melihat kesumber suara. Kecuali Emely, dia hanya menunduk. Ibu Elisa ingat, dia adalah pria yang pernah diundang Eduar untuk makan malam dirumah mereka. Sebagai bentuk ucapan terima kasih karena telah memberi Eduar beasiswa. Pria yang menawarkan pekerjaan untuk Emely.
"Berdiri aku bilang. " Ucapnya tegas. Dia menarik tangan Emely untuk berdiri. Dia menatap pria yang ada dihadapannya dengan sorot mata yang menakutkan. Pria didepannya juga tak kalah menatap dirinya.
Kembali melihat kearah Emely yang masih menunduk.
"Kau harus ingat satu hal didalam hidupmu. Kau hanya boleh menunduk kepada tiga hal saja."
"Kepada Tuhanmu. "
"Kepada ibumu. " Menatap kearah ibu Elisa.
"Dan terakhir kepada suamimu. "
__ADS_1
Emely langsung mengangkat kepalanya, menatap lurus kepada Davino yang ada disampingnya itu. Begitupun Davino menatapnya dengan tatapan yang Emely tidak bisa artikan.
"Apa dramanya sudah selesai tuan muda? " Ucap rentenir itu sambil tertawa. Diikuti gelak tawa kedua pria yang ada dibelakangnya.
" Hei, cepat katakan kau mau menemaniku malam ini atau tidak? " Teriaknya kepada Emely.
" Jaga ucapanmu dan jangan pernah sekalipun mencoba bertanya hal menjijikan seperti itu didepannya. Jangankan bertanya, berfikir pun aku melarangmu. Jika kau berani melakukan yang kukatakan tadi, maka kau akan berurusan denganku. " Davino mengangkat satu jarinya memperingati.
Rentenir itu lagi - lagi tertawa. "Wow, aku jadi takut. Kau berani mengancamku anak muda? " Mendekatkan wajahnya tepat didepan wajah Davino.
Kali ini Davino tersenyum menyerigai. " Ini bukan ancaman tuan, ini peringatan. " Davino bahkan menekan dada rentenir itu dengan jarinya. Sambil kalimat terakhir itu dia bisikan tepat ditelinga rentenir yang sudah terlihat geram itu.
" Baiklah, aku ingin melihat bagaimana kau mengatasi ini. " Ucap rentenir itu. Tangannya terangkat ingin menyentuh wajah Emely. Sepertinya rentenir itu pikir Davino hanya menggertaknya saja. Tapi sepertinya dia juga belum tahu, siapa Davino.
Rentenir itu seketika meringis, belum juga tangannya sampai didepan wajah Emely. Davino sudah menahannya dan memutarnya, hingga menimbulkan suara. Lalu mendorong pria itu kebelakang. Untung saja kedua temannya dapat menahan tubuh pria itu.
"Sialan. Hajar dia. " Ucap rentenir itu, memerintahkan kedua anak buahnya untuk menghajar Davino. Namun sebelum kedua pria itu maju. Davino tiba - tiba mengatakan sesuatu yang menghentikan langkah kedua pria besar itu.
"Tunggu.... tunggu. " Ucapnya sambil mengakat tangannya.
"Apa kita tidak bisa bicara baik - baik? " Tambahnya. Apa yang dia bilang? bicara baik - baik? Apakah mematahkan tangan seseorang terlebih dulu baru bicara baik - baik? Ada - ada aja Davino ini.
Rentenir itu yakin, Davino sudah ketakutan. Namun dia tidak akan membiarkan Davino kali ini. Tangannya mungkin patah tulang. Lihat saja bahkan tangannya terkulai seperti tidak ada penyanggah. Setidaknya dia harus mematahkan kedua tangan pria yang masih terlihat santai didepan sana. Sedangkan Emely dia juga sudah mulai takut. Apakah Davino bisa mengatasi pria - pria itu? Emely kuatir Davino bisa terluka. Kuatir Davino terluka? Entahlah, mungkin dia hanya merasa kalau semua masalah ini terjadi karena dirinya.
" Kau pasti ketakutan kan? Aku tidak akan membiarkanmu keluar dalam keadaan hidup dari tempat ini. Habisi dia... " Ucap rentenir itu lagi.
"Emely bahwa ibumu keluar. " Ucap Davino. Emely langsung mendekati ibunya dan membawanya keluar.
__ADS_1
"Berhati - hatilah. " Sebelum Emely keluar, dia mengucapkan itu pada Davino. Davino hanya tersenyum mengangguk.
Emely dan ibunya merasa ketakutan langsung menghubungi polisi dan juga Eduar.
Emely berharap tidak terjadi sesuatu yang buruk pada Davino. Biar bagaimana pun Davino terlibat masalah karena dirinya. Apalagi kata - kata rentenir itu masih terngiang - ngiang ditelinga. "Habisi dia. "
"Polisinya lama sekali sih bu, kalau mereka terlambat dan Davino.... " Emely mondar mandir didepan rumahnya. Tetangganya juga jam segini sudah pada pergi bekerja. Jadi satu - satunya harapan mereka hanya menunggu polisi dan adiknya untuk membantuh Davino.
Emely dan ibunya bersyukur ketika Eduar sudah datang. Bahkan dari jauh juga terdengar sirine mobil polisi.
"Kak, ibu... " Eduar menghampiri kedua orang yang dikuatirkannya sedari tadi itu.
"Apa yang terjadi? Kalian tidak apa - apa, kan? " Emely dan ibunya menggeleng secara bersamaan.
"Tapi Davino..." Menunjuk kedalam rumah. Disaat bersamaan mobil polisi sampai didepan rumah mereka.
"Pak tolong teman saya. " Ucap Emely mendekat kearah beberapa pria lengkap dengan seragam coklat itu. Eduar ikut masuk dengan para polisi itu. Sedangkan Emely dan ibunya disuruh menunggu diluar.
Polisi terlihat keluar sambil membopong kedua pria bertubuh kekar itu. Mereka babak belur dan sesekali meringis memegang tangan mereka. Emely bergidik ngeri. bagaimana nasib Davino. Dapat Emely lihat polisi kembali membawa satu orang, tapi keadaannya lebih parah. Dia bahkan sudah tidak sadarkan diri dan butuh brangkar untuk membawanya.
Emely berlari kedalam, karena Davino belum juga muncul. Bagaimana keadaan pria itu bahkan Emely tidak bisa membayangkannya. Mengingat dia hanya seorang diri melawan ketiga orang tadi. Keadaan ketiga orang tadi saja begitu mengenaskan, bagaimana dengan keadaannya? Emely kuatir.
B E R S A M B U N G
___________________
Jangan lupa tinggalkan jejak.
__ADS_1