Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 74


__ADS_3

Mengarahkan tubuhnya kearah Emely, Davino memeluknya. "Sebentar aja Mel. " Ucap Davino, ketika Emely berusaha menolak dipeluknya. Emely pun membiarkan Davino memeluknya. Emely yakin Davino sedang memiliki masalah.


Melepaskan pelukannya, Davino kembali menunduk.


"Kamu kenapa? " Tanya Emely lagi.


" Aku hanya rindu kamu aja. " Mengangkat wajahnya menatap Emely. Davino memaksakan senyum dibibirnya. Setelah itu ia kembali menunduk.


Emely yakin ada sesuatu yang terjadi dengan pria itu, karena Emely tidak pernah melihat Davino yang seperti ini. Davino yang Emely kenal adalah Davino yang tidak pernah takut apapun. Namun sekarang, Emely bisa melihat ada ketakutan dimata pria itu. Davino memang takut, namun dia bukan takut karena harus hidup tanpa kemewahan yang didapatnya semenjak dia ada didunia ini. Davino hanya takut,pengorbanan yang dilakukannya hanya sia - sia. Bagaimana kalau gadis yang ada disampingnya saat ini, tidak akan bisa menerimanya?


Mengangkat wajahnya, Davino kembali menatap wajah Emely. "Mel, aku butuh jawabanmu sekarang. Bagaimana kelanjutan hubungan kita? " Davino lebih memilih memastikannya, dari pada dia harus bergelut dengan pikirannya sendiri.


"Apa yang dilanjutkan Davi? Kita bahkan belum memulainya. " Davino kesal sendiri. Pasalnya, dia sudah beberapa kali menyatakan perasaannya. Bukan cuma itu, Davino bahkan menunjukan lewat sikap perasaannya pada Emely. Walaupun Emely tidak pernah membalas perasaannya, tapi setidaknya hubungan mereka telah dimulai semenjak Emely merespon ciumannya.


Menangkup wajah Emely dengan kedua tangannya, Davino menatap kedalam mata gadis itu. "Mel, harus berapa kali aku bilang sama kamu, aku itu cinta sama kamu. Aku mau kamu Mel. Aku mau kamu jadi pacar aku, bahkan lebih dari itu."


Emely berdehem gugup, jantungnya berpacu dengan cepat mendengar lagi pernyataan cinta dari Davino. Apalagi saat mata mereka bersitatap dengan jarak yang begitu dekat seperti saat ini.


Dulu Emely membenci wajah ini, mata ini, suara ini. Semua yang ada pada pria itu Emely membencinya. Namun beberapa bulan terakhir, saat Davino selalu ada untuknya, sungguh Emely tersentuh dan Emely juga sudah jatuh hati padanya. Namun Emely takut, takut membina suatu hubungan yang akhirnya harus berakhir seperti saat dia bersama Rayhan. Takut Davino akan meninggalkannya seperti sang ayah yang meninggalkan ibunya dan juga Emely dan Eduar.

__ADS_1


"Aku takut Davi. " Ucap Emely jujur. "Aku takut disaat aku udah sayang sama kamu, kamu bahkal ninggalin aku. " Davino kini tahu, apa alasan Emely selama ini berusaha menolak dan tidak menunjukan rasa cintanya pada Davino. Davino tahu, Emely punya perasaan yang sama dengannya, saat ciuman terakhir mereka.


Kali ini Davino meraih kedua tangan Emely. "Mel, aku nggak bahkal ninggalin kamu. Aku akan melakukan apapun demi kebahagian kamu. Aku akan tebus semua luka yang pernah kamu alami. Kamu bisa pegang janji aku Mel. " Davino berucap penuh keyakinan. Emely kemudian mengangguk.


"Jadi kamu mau jadi pacar aku Mel? " Davino ingin memastikan lagi. Walaupun tadi Emely sudah menganguk. Namun Davino ingin mendengar langsung dari bibir gadis itu.


"Iya aku mau. " Davino langsung memeluk Emely. "Makasih yah Mel. " Ucapnya dengan binar bahagia dimatanya. Akhirnya Davino bisa bernafas lega, pengorbananya tidak sia - sia.


***


" Sekarang kamu pulang sana. " Emely mengusir pria yang sudah menjadi pacarnya itu.


"Nggak boleh. Pokoknya kamu harus pulang. " Tolak Emely.


"Malam - malam begini udah nggak ada taxi online sayang. Masa aku harus pulang jalan kaki. " Davino beralasan. Pada dasarnya dia bisa meminta tolong Haizel atau Alex yang menjemputnya. Apalagi Davino yakin, kedua sahabatnya itu masih ada di Sweet Room.


"Lho kamu nggak bawa mobil? "Emely kan tidak tahu, kalau pria itu sudah mengorbankan segala yang dia dapatkan dari orangtuanya hanya untuk bersama dengan Emely.


"Mobil aku rusak dan masih ada dibengkel. " Kali ini Davino memilih tidak mengatakannya dulu pada Emely. Dia tidak ingin Emely kepikiran. Mereka baru saja resmi pacaran, Davino mau Emely hanya merasakan perasaan bahagia saat bersama dirinya.

__ADS_1


"Aku nginap disini yah, yah, yah. Please. " Pintanya dengan mengatupkam kedua tangannya. "Kamu nggak sayang kalau aku jalan kaki, terus pas dijalan ketemu begal atau preman, aku dikeroyok dan dibunuh. " Tambahnya membuat Emely menutup mulutnya.


"Yah udah, karena ini udah malam. Kamu aku ijinin nginap disini. " Davino bersorak senang dalam hati.


"Kamu tidur disini, aku tidur dikamar ibu. " Baru saja dia senang, karena malam ini bisa tidur berdua dengan Emely.


"Kok kamu tidur dikamar lain Mel, aku janji nggak bahkal ngapa - ngapain kamu. Aku bisa tidur dibawah, kamu bisa tidur diranjang kamu. "


"Nggak. Aku tetap nggak percaya sama kamu. " Emely kemudian keluar kamar. Emely mengendap - ngendap. Emely takut kalau Eduar melihatnya, Eduar bisa bertanya kenapa sampai Emely tidur dikamar ibunya.


Davino menjatuhkan tubuhnya diranjang Emely, sungguh dia sangat bahagia. Usahanya meyakinkan Emely kalau dia mencintai gadis itu tidak sia - sia. Emely sekarang telah resmi menjadi pacarnya. Saat Davino masih menatap langit kamar Emely, tiba - tiba pintu kamar itu terbuka. Emely kembali masuk kedalam kamarnya. Emely lupa kalau ayahnya ada dikamar ibunya. Tadi siang saat ayahnya datang, Eduar memang mengajak ayahnya untuk tinggal lagi bersama mereka. Sedangkan Emely, dia memilih masuk kedalam kamarnya dan tidak ingin melihat ayahnya dirumah itu.


Mengambil selimut didalam lemari, Emely kembali keluar dari kamar itu.


Malam sudah semakin larut, namun Davino belum juga terpenjam. Dia juga haus. Memilih bangun dan hendak keluar mencari minuman, Davino yakin semua penghuni dirumah itu sudah tidur. Namun Davino masih dengan hati - hati keluar dari kamar Emely, mengendap kearah dapur, yang memang letaknya Davino sudah tahu.


Setelah menghabiskan satu gelas air, Davino kembali ke kamar, namun disaat dia melewati ruang tengah rumah Emely, dia melihat gadis itu tengah tertidur, disalah satu kursi panjang, meringkuk kedinginan. Davino mengangkat tubuh itu dengan hati - hati agar pemiliknya tidak bangun. Membawanya kedalam kamar, Davino membaringkan Emely diranjangnya.


Davino memilih duduk beberapa menit, kemudian menghubungi Alex untuk menjemputnya. Sebelum Davino pergi, Davino mencium kening gadis itu, mengusap pipinya dengan lembut dan menyelimutinya.

__ADS_1


__ADS_2