Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 83


__ADS_3

"Itu karyawan baru kenapa? " Sepertinya apa yang dilakukan Rossa pada Emely menyita perhatian pengunjung Restoran dan juga beberapa karyawan Restoran lainnya.


Mendengar sebutan karyawan baru, membuat Ele, yang pada dasarnya merupakan teman dekat Emely semenjak pagi tadi, langsung menoleh kearah pandang teman sekerjanya itu.


"Apa yang coba wanita itu lakukan. ?" Ucapnya yang tidak terima dengan apa yang dilakukan Rossa pada Emely.


Ele beranjak, namun sebelum sampai dimana Emely berada, gadis itu menghentikan langkahnya. Sudah ada yang mendahuluinya ke sana.


"Ada apa ini? " Rossa menghentikan aksinya, ketika mendengar suara seorang pria yang saat ini tengah mendekat kearah mejanya.


Arlan yang saat itu berkeliling Restoran bersama dengan manager dan juga asisten pribadinya, tidak sengaja melihat tamu Restorannya bertengkar dengan salah satu karyawannya.


Menyadari siapa pria itu, Emely membungkukkan badannya, kearah pria itu. "Sepertinya aku akan dipecat dihari pertama aku bekerja." Emely menutup matanya, menarik nafasnya kasar, Emely sudah siap menerima kemungkinan terburuk sekalipun. Emely sudah berusaha menjaga sikap dengan tamu Restoran. Melayani tamu Restoran dengan sebaik mungkin, namun Rossa nya saja yang memang punya niatan jahat dari awal saat dia melihat Emely.


"Kamu tidak perlu ikut campur urusan saya. " Rossa berucap sambil meletakan gelas jus yang hampir tandas isinya. Dia bahkan tidak tahu, siapa pria itu dan dia juga tidak mau tahu.


"Maaf nona, jika menyangkut Restoran ini, sebagai pemilik Restoran saya harus ikut campur bukan? "


Oh jadi dia pemilik Restoran ini?


"Baguslah kalau begitu." Mungkin ini peluang juga bagi Rossa agar Emely dipecat sekalian dari pekerjaannya.


"Karyawan macam apa yang kalian pekerjakan? " Mengambil sapu tangan yang diberikan managernya, Rossa membersihkan tangannya dengan gaya anggun.


" Dia berencana meracuni saya. " Ucapnya mendramatisir.


"Saya tidak . . . " Emely ingin membela diri, namun Arlan selaku pewaris tunggal Restoran itu, mengangkat tangannya. Seperti meminta Emely diam. Emely menurutinya, Emely bungkam.


Rossa seperti mendapat lampu hijau. Wanita itu tersenyum dalam diam.


"Kamu urus masalah tamu ini. Berikan saja apa yang dia inginkan. " Perintahnya pada sang manager. Manager Restoran itu menjawab dengan suara bergetar. Pasalnya dia takut, takut karena dia yang mempekerjakan Emely di Restoran itu. Takut karena dia menerima karyawan yang bisa membuat reputasi Restoran itu buruk.


Takut karena masalah ini dia akan kena imbasnya.

__ADS_1


"Kenapa sih gadis itu membuat masalah saat pak Arlan sedang berkunjung ke restoran. " Sesal sang manager.


"Dan kamu ikut saya. " Menunjuk kearah Emely. Dengan tarikan nafas kasar, Emely mengikuti Arlan. Kehilangan pekerjaan dihari pertama bekerja, sungguh diluar dugaannya. Wanti - wanti dirinya sudah bertekad untuk bekerja dengan baik, namun siapa sangka Rossa bisa mengacaukan semuanya.


Arlan masuk ke ruangannya, sementara Emely, gadis itu hanya berdiri diambang pintu.


Menyadari Emely yang hanya berdiri diambang pintu, Arlan menghentikan langkahnya, berbalik menatap Emely.


"Kenapa kamu masih berdiri disitu? " Setelah mengatakan itu, Arlan beranjak lagi ke meja kerjanya. Duduk di kursi kebesarannya. "Kemari lah. " Perintahnya.


"Baik. " Emely masuk dengan langkah takut - takut. Berdua dengan seorang pria di ruangan itu membuat Emely takut. Takut kalau Arlan melakukan hal yang buruk padanya, seperti Davino dulu.


Emely berdiri di depan meja kerja Arlan.


"Duduklah. " Sungguh Arlan mengatakannya dengan lembut. Seperti Emely tidak melakukan kesalahan. Padahal Emely merasa sebentar lagi dia akan diadili.


"Kenapa kamu belum duduk? " Kali ini suara Arlan sedikit meninggi. Mendengar kalimat perintah itu lagi, membuat Emely menurutinya.


"Jadi kamu karyawan baru? " Kalimat pertama yang dia ucapkan setelah selesai membaca dokumen tadi. Oh ya, Emely sudah tahu dokumen apa yang dia baca tadi. Karena saat meletakkannya tadi, Emely sempat membaca bagian depannya. Dokumen identitas karyawan dan Emely yakin itu miliknya.


"Iya pak. " Jawab Emely.


"Pak, maaf saya tadi..." Lagi - lagi Arlan mengangkat tangannya, menghentikan ucapan Emely.


"Aku tidak butuh penjelasan kamu. " Ucapannya seakan menyimpulkan sesuatu.


Emely yakin dia akan dipecat. Karena untuk menjelaskannya saja, Arlan tidak memberinya kesempatan.


"Aku melihat semuanya. " Arlan beranjak kearah pantry yang ada didekatnya. Menuangkan segelas air di sana.


Memberikan segelas air itu pada Emely. Ragu - ragu Emely mengambilnya.


Jangan - jangan dia akan menyiram ku.

__ADS_1


"Aku tahu kamu tidak bersalah. " Eh, Emely terkejut.


"Wanita tadi hanya ingin mencari masalah denganmu." Arlan benar - benar tahu apa yang terjadi.


" Sepertinya dia membencimu. " Emely diam. Mungkin Rossa memang membencinya. Tapi apa salahnya? Emely memang tahu, Rossa menyukai Davino, namun Davino sendiri pernah mengatakan padanya, kalau Rossa hanya salah satu wanita yang mengejarnya.


Tapi apa ini? kenapa pria itu mengatakan hal ini?


" Aku tidak tahu ada masalah apa diantara kalian, tapi aku harap kamu bisa menyelesaikan masalah itu." Kali ini Arlan kembali berdiri.


"Kamu boleh pulang sekarang. " Ini maksudnya apa? Pulang? Apa dirinya dipecat? Ragu - ragu Emely berdiri dari duduknya. Dia tidak bisa menyimpulkan ucapan terakhir Arlan.


Sebelum sampai diambang pintu, Arlan mengucapkan kalimat sebagai jawaban atas apa yang dia coba simpulkan sedari tadi.


"Kembalilah bekerja besok. " Setelah kalimat itu, Arlan tidak mengatakan apapun lagi. Emely hanya mengiyakan dan cepat - cepat meninggalkan ruangan itu.


Mengganti dahulu pakaiannya sebelum keluar dari Restoran itu. Oh ya, tadi Davino mengatakan akan menjemputnya, jadi Emely mengabari pria itu kalau dia akan pulang lebih awal untuk hari ini. Davino tentu menanyakan alasan kenapa Emely pulang di jam yang Davino yakin, bukan jam pulang kerja nya. Namun Emely hanya mengatakan bahwa dia diijinkan pulang diawal untuk hari pertamanya bekerja.


Menunggu didepan Restoran, Emely melirik jam yang melingkar ditangannya. Sudah hampir tiga puluh menit Davino belum juga sampai.


"Kamu belum pulang? " Emely terkejut. Arlan dan juga asisten pribadinya muncul tiba - tiba.


" Saya sedang menunggu jemputan pak. " Emely menjawab dengan sopan. Disaat bersamaan Emely bisa melihat mobil Davino memasuki parkiran Restoran.


"Saya permisi dulu pak. " Emely menunduk sebentar, lalu cepat - cepat pergi dari situ. Arlan memperhatikannya sampai Emely naik kedalam mobil Davino.


***


"Siapa pria itu? "


"Dia pak Arlan anak pemilik Restoran tempat aku bekerja. " Emely bahkan lupa apa yang dikatakan Davino tadi pagi. Davino tidak akan mengijinkan Emely bekerja kalau Emely memiliki atasan pria, apalagi pria itu masih seumuran dirinya. Apalagi tadi Davino melihat pria itu berbicara cukup akrab dengan Emely. Ditambah lagi pria itu cukup tampan.


"Oh jadi itu atasan kamu. " Setelah mengatakan kalimat itu, Davino sudah tidak mengeluarkan sepatah katapun. Pria itu diam, bahkan dari raut wajahnya Emely yakin Davino berusaha menahan amarahnya.

__ADS_1


__ADS_2