
Weekend
Senangnya, akhirnya bisa istirahat sejenak melepas penat dan juga bisa bangun sesuka hati, khusus hari ini. Karena hari ini, hari libur bagi Emely.
Baru saja ingin kembali memeluk guling, tiba - tiba ponselnya berdering. Siapa lagi yang menghubunginya sepagi ini, kalau bukan kekasihnya.
" Hmm " Sahutnya malas.
" Ya ampun sayang, kamu masih tidur? " Tanya Davino pada Emely.
"Hmm " Karena Emely yakin, keinginannya untuk bangun sesuka hati hari ini, tidak akan pernah jadi kenyataan.
" Aku udah ada di depan lho. " Benarkan. Dari pada Laki - laki itu membangunkan seisi rumah, Emely lebih memilih melawan kemalasannya. Dengan gerakan malas, Emely membuka jendela kamar, benar saja di ujung sana ada seseorang yang mengangkat tangannya ketika melihat Emely.
" Kenapa sih pagi - pagi ke sini. Aku masih ngantuk. " Ucap Emely di ujung telpon.
" Kita kan mau joging. " Emely bukan lupa, tapi Emely pikir bukan hari ini.
"Buruan sayang. " Pinta nya pada sang kekasih.
"Iya bentar. " Emely langsung mengakhiri panggilan telpon itu. Kasihan juga Davino kalau menunggunya terlalu lama di luar sana sendirian.
****
Selang beberapa menit, dapat Davino lihat Emely keluar dari pintu. Wanita itu terlihat sedang menahan tawanya, ketika melihat Davino.
" Iya, kalau mau tertawa, tertawa saja. Sudah aku bilang kan, warna hitam saja. " Protes Davino pada kekasihnya itu. Davino tahu apa yang Emely tertawakan. Hodie yang di pakainya.
" Nggak kok, kamu terlihat menggemaskan. " Emely memperhatikan penampilan Davino dengan seksama. Kalau di pikir - pikir, Davino memang sangat tampan. Emely kali ini kagum dengan wajah kekasihnya itu. Memang suatu pahatan karya yang sempurna.
" Kita mau joging ke mana? " Tanya Emely. Saat Davino hendak membuka pintu mobil.
"Kali ini aku yang akan menentukan tempatnya. " Emely pikir mereka akan joging di seputaran tempat tinggalnya atau di taman dekat tempatnya. Tapi sepertinya Davino sudah punya pilihan sendiri.
__ADS_1
***
" Semuanya aman? " Di tengah perjalanan, Davino menghubungi seseorang.
"Sebentar lagi saya akan sampai. Pastikan semuanya beres. " Setelah mengatakan itu Davino mengakhiri panggilan telepon.
Emely di sampingnya sedang fokus membaca salah satu Novel Karya Rani Sara.
Davino membiarkan wanitanya itu, pasalnya percuma bicara panjang lebar kalau Emely sedang fokus membaca seperti itu. Jawabannya hanya iya, nggak, hmm. Kadang dia tersenyum dan tersipu sendiri.
Davino hanya menggeleng kan kepala, tidak mengerti mengapa perempuan selalu mendramatisir sesuatu. Contohnya Mommy Magdalena kalau drama yang dia ikuti tidak sesuai dengan yang dia harapkan, dia akan marah - marah di depan Televisi dan sering mengajari sang aktris seharusnya begini dan begitu. Sepertinya dulu dia punya cita - cita ingin menjadi sutradara.
****
" Kita sudah sampai. " Kalimat itu membuat Emely mengalihkan perhatian nya yang semula pada bacaan nya kini menatap Davino, lalu menatap ke depan dan ke samping.
"Ayo turun. " Ajak Davino.
Emely bingung, pasalnya mereka bukan di tempat yang biasa di datangi orang - orang yang akan joging. Mereka saat ini berada di di pesisir pantai.
"Joging. " Jawab Davino santai. Emely jadi tambah bingung.
" Ayok. " Ajak Davino ketika salah satu dari penumpang Speed Boat tadi, naik bersama temannya. Davino kemudian naik di Speed Boat satunya. Laki - laki itu mengulurkan tangannya pada Emely. Emely menggelengkan kepalanya. Sungguh dia tidak pernah naik benda itu sebelumnya.
"Aku takut Davi, aku tidak bisa berenang. " Masih enggan memberikan tangannya pada Davino.
" Ayolah Mel, aku di sini. Semuanya akan baik - baik saja. Oke!. " Davino mencoba meyakinkan kekasihnya itu.
" Aku takut. " Jawab Emely polos.
" Percaya padaku Mel, semuanya akan baik - baik saja. Kamu percaya kan padaku? " Emely mengangguk.
"Kalau begitu ulurkan tanganmu dan naiklah perlahan. Kamu bisa memelukku setelah itu. " Emely menarik nafas panjang, menghembuskannya perlahan, memberanikan diri dan kemudian mengikuti setiap instruksi dari Davino kekasihnya itu.
__ADS_1
Memeluk Davino sekencang mungkin saat mereka sudah mulai meninggalkan pesisir.
Semenjak naik ke atas Speed Boat Emely menutup matanya, tidak berani menatap sekitar.
"Apakah kamu gugup? " Tanya Davino, saat merasakan perutnya ikut bergetar karena tangan Emely yang melingkar di perutnya.
"Aku takut Davi. Aku takut, aku akan jatuh ke dalam air." Benar, Emely belum bisa mengalahkan ketakutannya itu. Bagaimana kalau sampai dia jatuh, apakah Davino akan menolongnya? Bagaimana kalau semuanya terlambat dan Davino tidak bisa menemukannya. Bagaimana kalau dia langsung tenggelam ke dasar laut atau di makan ikan Hiu.
" Jangan berpikir bodoh. " Entahlah mungkin Davino bisa tahu apa yang di pikirkan kekasihnya itu.
" Tidak akan terjadi apa - apa padamu Mel, selama ada aku di sisimu. Sekarang buka matamu perlahan, kita hampir sampai. " Memang kecepatan Speed boat melambat. Berarti benar mereka akan segera sampai. Emely bernafas lega, pasalnya mereka hanya memakan waktu kurang lebih dari 20 menit di atas Speed Boat itu.
Emely membuka matanya perlahan, namun ternyata dia salah. Mereka masih berada di tengah lautan. Emely bisa melihat ada sebuah kapal di depan mereka. Ternyata tujuan mereka adalah ke kapal pesiar itu. Kapal dengan panjang 100 meter, di lengkapi fasilitas super Lux.
"Katanya kita mau joging! " Protes Emely saat keduanya baru saja naik ke atas kapal itu.
" Iya memang kita mau Joging. " Jawab Davino tanpa melepaskan genggaman tangannya pada Emely.
Mungkin hal itu mustahil bagi Emely. " Joging di atas laut?" Sahut Emely tanpa melihat dulu isi di setiap kabin kapal itu.
Emely tidak tahu, bahwa setiap kabin kapal itu, dilengkapi fasilitas yang super mewah. Ada kolam renang terbuat dari kaca di dek paling atas. Kolam itu akan transparan sampai di dek bawah. Kapal itu juga memiliki gudang anggur, Spa, Bioskop dan pusat kebugaran. Jadi memang apa yang dikatakan Davino itu benar, mereka akan joging sekalian fitness di pusat kebugaran di dalam kapal itu.
Segala sesuatu sudah Davino siapkan di sana, termasuk pakaian untuk Emely. Karena sejak beberapa hari ini, Davino sudah merencanakan semuanya itu.
Mereka tidak hanya berdua di kapal besar itu, Beberapa orang yang memang bekerja sebagai Koki, penjaga keamanan, beberapa orang yang bertugas menjaga kebersihan dan semua fasilitas di kapal itu, mereka bertugas di masing - masing kabin. Dan dua orang polisi air, penanggung jawab penuh atas kapal itu juga ada di sana. Mereka baru saja melaporkan pada Davino bahwa semuanya aman terkendali.
Emely kadang - kadang menatap Davino saat pria itu berbicara dengan polisi dan juga petugas keamanan di sana. Kekasihnya itu walaupun mengenakan Hoodie berwarna pink namun dia tetap terlihat berwibawa saat berbicara, dia disegani dan di hormati oleh banyak orang. Emely sungguh menyesal membeli Hoodie warna pink itu, dia seolah olah ingin menjatuhkan wibawa kekasihnya itu. Sengaja menyuruh Davino memakai itu saat joging bersama, agar pria itu menjadi bahan tertawaan orang - orang yang melihatnya.
Sungguh Emely menyesal, dia akan lebih menghargai dan menghormati Davino. Dia seharusnya bersyukur Davino mencintainya, wanita dengan segudang kesederhanaan.
____BERSAMBUNG_____
Lagi malas nulis, peraturan baru membuat aku tersesat dan ingin lari dari kenyataan 😄😄
__ADS_1
sehari dapat 1000 Rupiah bersyukur.
Kasih semangat dong. . .