Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 47


__ADS_3

"Siapa pria tadi? " Dari ketiga orang yang ditemuinya, Davino hanya menanyakan satu orang saja. Siapa lagi kalau bukan Rayhan. Walaupun Davino sudah tahu kalau Rayhan mantan kekasih Emely, tiada salahnya dia menanyakan hal itu pada Emely.


" Bukan urusanmu. " Emely tidak ingin membahas Rayhan untuk saat ini. Hatinya masih terlalu sakit. Rayhan bisa saja mencari penggantinya karena memang hubungan mereka telah berakhir. Tapi kenapa harus Ana? Sahabat Emely sendiri. Sejak kapan mereka menjalin hubungan? Emely bahkan takut menduga - duga.


Davino tidak ingin berdebat, Davino tahu bagaimana perasaan Emely saat ini.


Bukan arah rumah Emely, Davino mengendarai mobil itu kesalah satu butik langganan ibunya.


Emely yang sedari tadi tidak fokus dengan jalanan didepannya, tidak menyadari bahwa Davino membawanya ke tempat ini.


"Turunlah... " Ucapan Davino membuyarkan lamunan Emely.


"Ini dimana? " Baru sadar, ketika kakinya berpijak sambil melihat sekeliling.


"Ayo... " Tanpa menjawab, Davino menarik tangan gadis itu. Emely berusaha mengikuti jejak langkah Davino yang membawanya kedalam butik.


" Selamat datang tuan Swam. " Manager toko bersama dua orang karyawan toko yang sudah mengenal Davino langsung menyambut kedatangan keduannya.


"Ada yang bisa kami bantu? " Tanya manager itu dengan sopan.

__ADS_1


"Aku butuh gaun pesta untuk gadis ini. " Davino berucap sambil memperhatikan Emely. Emely bingung, apa lagi yang akan dilakukan laki - laki ini.


"Ayo nona, ikutlah dengan kami. " Kedua karyawan itu langsung mengajak Emely melihat beberapa gaun sesuai intruksi manager toko tadi. Emely bergeming, namun Davino mendorongnya lembut, mengikuti dua karyawan tadi.


"Carikan gaun yang terbaik untuk ia kenakan. " Tambah Davino, diiyakan manager dan juga karyawan tadi. Emely mulai risih ketika karyawan tadi sudah menyodorkan beberapa gaun yang cocok untuk ia pakai. Sedangkan Davino, pria itu menunggu dengan sabar disalah satu sofa dekat ruang ganti.


Karyawan tadi membawa Emely kehadapan Davino, ketika gadis itu sudah memakai gaun pertama yang mereka pilih.


" Warnanya terlalu mencolok. Aku tidak suka. Ganti yang lain. " Emely ingin mengumpat laki - laki itu. Boleh kan dia mengumpat? Kenapa dia tidak suka? Emang dia yang memakainya? Emely bahkan menatap kesal kearah Davino. Emely bahkan tidak tahu kenapa Davino ingin membelinya sebuah gaun.


Emely sudah mencoba tiga potongan gaun terbaik di butik itu, tapi tidak ada satupun yang disukai Davino.


Mendekati Emely, Davino meraih tangan gadis itu. "Aku yang akan memilihkan gaun untukmu. " Davino bahkan harus turun tangan sendiri. Membuat karyawan tadi sudah menyimpulkan hubungan keduannya.


Setelah menjelajah butik itu, Davino mengambil dua gaun berwarna silver dan juga berwarna hitam polos. Menyerahkan kedua gaun itu kepada Emely dan mendorong gadis itu keruang ganti.


" Kalau tidak mau mencobannya, biar aku bantu. " Bisiknya disaat Emely bergeming. Emely langsung masuk kedalam ruang ganti, sebelum laki - laki itu benar - benar akan melakukan apa yang dikatakan barusan.


"Nah, inikan cantik. " Ucapnya ketika Emely sudah keluar dengan gaun itu.

__ADS_1


"Bungkus yang satu itu. " Menunjuk salah satu gaun berwarna Silver yang dipegang oleh Emely.


"Bukankah kau bilang yang ini cantik. " Emely merasa heran, Davino menilai gaun hitam yang dipakai Emely terlihat cantik, tapi gaun berwarna silver belum juga Emely mencobanya tapi Davino malah menyuruh karyawan itu membungkusnya. Emely benar - benar menggunakan kesabaran ekstra untuk menghadapi Davino.


"Aku yakin itu juga cantik, karena aku yang memilihnya untukmu. " Emely memutar matanya malas. Emely hendak masuk kedalam ruang ganti lagi untuk mengganti gaun hitam itu. Namun Davino malah menahannya.


"Tidak usah diganti. " Emely mengerutkan dahinya. Bingung sudah pasti.


" Pakailah itu, aku ingin mengajakmu makan malam. " Ucap Davino sambil mengajak Emely kearah kasir.


" Lalu gaun itu? " Yang Emely maksud adalah gaun berwarna Silver yang sudah dibungkus dalam paper bag didepan kasir.


" Itu bisa kau pakai besok. " Emely menatap Davino. Apakah laki - laki itu mendengar semua yang terjadi di butik tadi? Apakah Davino tahu, jika Rayhan dan Ana akan tunangan besok? Emely memilih diam. Dia bahkan berfikir untuk tidak hadir diacara pertunangan Ana dan Rayhan. Haruskah dia tidak datang besok?


______


Cukup segini dulu yah.


Masih ngambek aku. hahaha

__ADS_1


__ADS_2