
Karena kehadiran kedua sahabatnya, Davino tidak jadi mengejar Emely. Memilih berjalan kearah sofa dan menjatuhkan tubuhnya diatas sofa panjang itu. Alex dan Haizel hanya mengikuti sahabatnya itu dan ikut duduk di sofa lainnya.
"Apakah kau juga mengenal Emely men? " Tanya Alex yang sedari tadi sudah penasaran.
"Jadi yang tadi itu Emely yang kau bilang pernah dinodai Davino? " Haizel balik bertanya dan Alex mengangguk, mengiyakan.
"Pantas aja namanya seperti pernah dengar dimana gitu, aku ingat sekarang dia gadis yang kubeli dipelelangan wanita. " Oh tidak, Alex akan sangat malu jika sampai Emely juga bekasnya Haizel.
"Jadi Emely dia... " Alex tidak meneruskan kata - katanya. Alex masih tidak menyangkah, gadis seperti Emely bisa ada di tempat pelelangan wanita. Tempat dimana para gadis rela menjual tubuhnya hanya untuk mendapat uang yang lebih banyak. Apakah biaya pengobatan ibunya, membuat Emely menjual diri? Sampai disitu Alex menyimpulkan.
"Dia tidak seperti itu. " Akhirnya Davino angkat bicara. Membela gadis itu tepatnya.
Davino tahu arah tuduhan Alex pada Emely.
"Tidak seperti itu gimana? Haizel membelinya Davi. Otomatis Emely menjual tubuhnya pada Haizel. " Haizel ingin menjelaskan. Namun Davino lagi - lagi yang menjawab Alex.
"Dia dijebak Lex dan bukan Haizel yang membelinya tapi aku. Aku yang menyuruh Haizel. " Alex tidak bisa menutupi keterkejutannya.
"Jadi disaat kau menyuruh aku membeli Emely waktu itu, kau sudah mengenalnya Davi? " Tanya Haizel.
" Hhm. "
" Pantas saja, kau niat membeli gadis yang sudah tidak virgin itu. Jangan bilang kalau dia kehilangan..." Sebelum Haizel melanjutkan kata - katanya Davino sudah menyela.
"Kalian ini kenapa sih? Kok bawel banget. Pengen tahu banget." Sudah duduk sambil menatap kedua sahabatnya dengan kesal.
"Ayolah men, kita ini sahabat. Sebrengsek - brengseknya kita..."
"Kalian aja kali, aku nggak. " Potong Alex cepat.
"Terserahlah. Jangan menyela men. Aku mau ngomong serius sama Davino. " Tumben - tumbennya Haizel bicara serius.
"Sebrengsek - brengseknya kita, diluar Alex. " Alex tertawa kecil, mendengar penuturan Haizel yang mengecualikan namanya.
" Kita adalah sahabat. Suka dan duka, kita harus sama - sama. Kebahagianmu adalah kebahagiaan kita juga. Jadi tiada salahnya kita tahu apa yang terjadi sama kamu men." Wah Haizel benar - benar sahabat yang baik yah, atau dia hanya ingin tahu saja makanya dia menggunakan kalimat itu.
"Wah aku terharu. " Alex menimpali. "Tapi benar tuh, kata Haizel. Aku setuju."
"Oke. Aku memang pria pertama yang menyentuh Emely dan entah mengapa aku tidak ingin ada pria lain yang menyentuhnya. Itulah sebabnya aku menyuruh kamu membeli dia waktu itu. " Haizel kali ini percaya akan kata - kata Alex kalau gunung es ini telah mencair.
" Kau gila men, kau tidak ingin pria lain menyentuhnya. Tapi bagaimana denganmu? Kau masih menyentuh wanita lain. " Haizel berdecak.
"Aku sudah tidak pernah menyentuh wanita lain semenjak nyentuh dia. " Haizel dan Alex sontak tertawa, membuat Davino kesal sendiri. Ini seperti bukan Davino yang mereka kenal. Dia tidak bisa jauh dari kata wanita.
"Pantas aja waktu itu Mawar ngamuk. nggak disentuh benaran ternyata. " Haizel ingat bagaimana model yang bernama Mawar memarahinya waktu di pemotretan, karena Davino tidak menyentuhnya. Begitu katanya pada Haizel.
" Terus udah berapa kali kau nyentuh dia? Pasti tiap hari yah, secara kau kan sudah tidak pernah nyentuh wanita lain. Jadi dia yang jadi korbannya dong? " Tanya Haizel dengan senyum liciknya.
" Urusan ranjang aja diotak kamu. " Cibir Davino. Haizel dan Alex langsung terkekeh.
" Tapi tunggu dulu. Kenapa dia pergi sambil menangis? Jangan bilang kau memaksanya lagi? " Kali ini Alex yang bertanya. Dia ingin bertanya hal ini dari tadi, tapi dia lupa.
" Kamu ingat kan Davi, kalau kamu nyakitin dia aku bahkal rebut dia. " Ancam Alex dengan serius.
"Wah, kayaknya bahkal seru kalau kalian jadi saingan. Tapi Lex bukannya kamu nggak suka bekasnya Davi? " Sialan, Haizel ingat aja kata - kata Alex waktu itu. Alex jadi gelagapan sendiri.
__ADS_1
" Emely pengecualian. " Davino merasa Alex beneran serius akan merebut Emely jika Davino menyakiti gadis itu. Jangan sampe Alex tahu kalau baru saja Davino menyakiti Emely dengan ucapannya.
"Kalian sudah makan? Emely masak opor ayam tadi. " Memilih mengalihkan pembicaraan dan alhasil kedua sahabatnya itu langsung berlari ke meja makan. Mereka memang belum makan siang, jadi ketika ditawarin makanan langsung deh, pada lupa dengan pembahasan tadi.
***
Sebelum pulang kerumah Emely memilih menemui Sisilia sahabatnya.
Sudah seminggu ini, dia tidak bertemu Sisilia maupun Ana.
Memilih bertemu di caffe sekalian minum kopi, begitu kata Sisilia ketika Emely menghubunginya tadi.
"Kamu mau pesan apa mel? " Tanya Sisilia kepada sahabatnya itu.
"Apa aja Sil. " Jawab Emely sambil tersenyum.
"Mbak Cappucinonya dua yah. " Ucap Sisilia kepada pelayan caffe. Setelah pelayan itu pergi, Emely membuka suara.
" Ana kemana Sil? dia nggak ikut? " Tanya Emely.
"Loh, emangnya Ana nggak kasih tau kamu? " Emely menggeleng. Dia bahkan sudah seminggu ini tidak mendapat kabar dari sahabatnya itu. Kalau dengan Sisilia masih sering telponan dan chatingan. Beberapa kali sih Emely mengirim pesan buat sahabatnya itu tapi hanya diread saja. Ditelpon juga kadang tidak nyambung.
"Kasih tau apa Sil? " Sudah menduga kalau terjadi sesuatu sama Ana.
"Ana udah pindah kuliah ke London. Katanya permintaan bokapnya. " Emely terkejut. Ana bahkan tidak pernah cerita kalau dia bahkal pindah kampus dan juga dia pergi tidak pamitan pada Emely.
" Kok Ana nggak kasih tau aku Sil, aku juga belum ganti uangnya Ana. " Emely terlihat sedih. Biar bagaimana pun Ana adalah sahabatnya, sama seperti Sisilia. Jadi dia merasa kehilangan.
" Aku nggak tahu Mel, tapi kayaknya dia langsung pergi pas urusan kampusnya selesai. Ditambah bokapnya yang antarin dia kesana. Kau tahu kan gimana bokapnya. Kalau udah memutuskan, yah gitu jadinya. " Sisilia menjelaskan sambil mengambil minuman yang dibawa pelayan caffe.
" London? Bukannya Ray juga di London ya? Kenapa Ana nggak kasih tahu aku sih? Setidaknya kan aku bisa titip pesan sama Ray. Siapa tahu aja mereka ketemu disana. " Emely jadi rindu sama Rayhan.
" Tapi tunggu, kau masih ingat Rayhan yah Mel? " Emely mengangguk. Biar bagaimana pun Rayhan pernah jadi orang yang istimewa di hatinya. Bukan pernah, tapi masih.
" Kamu musti lupain dia Mel, masa dia mutusin kamu secara sepihak gitu? belum juga dia dengarin penjelasan kamu, udah main mutusin aja. Abis itu ninggalin kamu disaat terberat kamu lagi. " Kenapa sih kata - kata Sisilia ngenah banget dihati Emely. Tapi biar begitu Emely juga tidak akan menyalahkan Rayhan dengan apa yang terjadi dengan hubungan mereka. Secara Emely merasa sudah tidak pantas untuk Rayhan.
"Aku memang belum bisa lupain dia Sil. " Ucap Emely lirih.
Sisilia mendesah. " Bagaimana kamu bisa, kalau kamu masih memasang gembok dihati kamu. "
"It's your decision Mel. " Tambah Sisilia.
***
"Kamu harus datang Mel, awas kalau kamu nggak datang. Aku marah loh. " Satu pesan dari sahabatnya Sisilia, membuat Emely harus datang ke Restoran ini.
Sisilia hendak menjodohkan Emely dengan seniornya di kampus.
"Mel kamu udah ketemu dia kan? " Emely membaca sebuah chat dari sahabatnya
"Iya Bawel. " Emely tersenyum tidak enak kepada pria yang ada didepannya. Sedari tadi Sisilia mengiriminya pesan.
"Maaf yah. " Ucapnya tidak enak.
"Nggak apa - apa. " Jawab pria yang bernama Jonas itu.
__ADS_1
"Kamu udah punya... " Ucapan Jonas terhenti lagi, ketika notifikasi pesan masuk di ponsel Emely.
"Gimana? " Tanya Sisilia.
"Gimana apanya? " Dengan cepat Emely membalas pesan sahabatnya itu. Dia benar - benar tidak enak pada Jonas.
"Jonas. Gimana menurut kamu? Dia udah nembak kamu belum? oh yah, dia bilang dia suka sama kamu dari kita semester awal Mel. Cuma keduluan Rayhan. "
Memilih mematikan ponselnya, biar ajalah Sisilia marah.
***
Semenjak kepulangan Alex dan Haizel, Davino kembali kepikiran sama Emely. Dia bahkan berpikiran bahwa Emely tidak akan datang bekerja lagi besok.
Dia meraih ponselnya, mengetikkan sesuatu disana dan mengirimnya.
" Besok pekerjaanku sangat banyak, aku butuh sarapan bergisi. Kau datang pagi kan? " Entah apa yang dipikirkannya, bisa - bisanya dia kembali beralasan konyol seperti itu. Sebenarnya Davino hanya ingin memastikan saja.
"Say someting. " Gumamnya sambil tetap menatap layar ponselnya.
"Aku tidak bisa seperti ini. Aku harus menemuinya. Meraih kunci mobil, kemudian meninggalkan apartemennya.
***
Beralasan menanyakan dimana Emely meletakkan kemeja berwarna biru, Davino datang kerumah Emely. Alasannya selalu tidak masuk akal. Ingat Davino tidak pernah datang kerumah perempuan, siapapun itu. Baru kali ini dia seperti itu, jadi wajar jika dia menggunakan alasan yang tidak masuk akal.
Bukan Emely yang membuka pintu, tapi Eduar.
"Kak Emely pergi kencan kak Davi. Biar Eduar hubungi. " Terkejut sekaligus kesal dengan apa yang dikatakan Eduar barusan.
" Nomor kak Emely nggak aktif kak Davi. " Ucap Eduar sambil kembali mencoba menghubungi kakak perempuannya. Namun tetap sama, tidak tersambung.
"Biar kak Davi tanya langsung aja. Kamu tahu dimana mereka kencan? " Syukur Emely selalu mengatakan kepada Eduar kemana dia pergi.
Sudah mengantongi alamat restoran dimana Emely bertemu Jonas.
***
"Kamu udah punya pacar? " Tanya Jonas pada Emely. Sumpah Emely bingung mau jawab apa. Jika dia mengatakan sudah, lalu untuk apa dia datang kesini. Kalau dia mengatakan belum, Jonas pasti akan menembaknya dan Emely belum siap untuk hal itu. Dia datang kesini hanya untuk menyenangkan hati Sisilia sahabatnya.
"Hhmm aku. " Emely masih bingung mau jawab apa.
"Dia udah punya pacar dan aku pacarnya. " Ucap pria yang baru saja datang itu. Emely terkejut melihat pria yang sudah ada disampingnya sambil satu tangannya dia taruh dalam kantung celananya.
"Ikut aku. " Menarik tangan Emely keluar restoran. Jonas bahkan tidak bisa berkata apa - apa. Dia merasa gadis tadi mempermainkannya.
B E R S A M B U N G
_____________
Aku senang buat kalian ngegantung. wkwkwk
Jangan lupa like, koment, rate dan vote yah.
Itu aja.
__ADS_1
Nextnya tergantung kalian.
Kalau ada typo nanti aku perbaiki besok yah...