Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 88


__ADS_3

Syukurlah tadi Arlan memanggil mereka bukan karena mendengar apa yang Emely dan Ele bicarakan, Arlan hanya memastikan keduanya ikut nanti malam.


Ele pastinya terlihat antusias dan memastikan akan ikut. Sedangkan Emely, dia ingin sekali menolak, tapi karena Arlan yang mengajak mereka langsung, Emely tidak punya pilihan lain selain mengiyakan.


"Aku kasih tahu Davi nggak ya? "


"Kasih tau, jangan, kasih tau jangan." Kalimat itu yang Emely ulang-ulang sambil mondar mandir di kamarnya. Sudah setengah jam yang lalu dia sampai di rumah. Ele masih terus mengiriminya pesan, pesan untuk mengingatkan Emely tentang acara malam nanti.


Setelah bergulat dengan pikirannya, Emely akhirnya memutuskan untuk tidak memberi tahu Davino.


"Tapi kalau Davi telpon aku, aku harus bilang apa? " Mondar mandir lagi.


" Apa dari sekarang aja, aku telpon Davi dan bilang kalau aku udah mau tidur. " Berhenti dan meraih ponselnya.


"Berarti aku bohongin Davi. " Meletakan kembali benda pipih itu. Saat bersamaan Davino menghubunginya. Emely jadi salah tingkah sendiri, seolah - olah dia sudah ketahuan berbohong.


"Hallo Davi. "


"Oh ya, Mel. Hari ini aku nggak bisa jemput ya, Mami datang ke Apartemen. Tapi aku udah nyuruh Haizel buat jemput kamu. "


Emely bahkan lupa mengabari Davino kalau hari ini seluruh karyawan dipulangkan lebih awal dan dia sudah sampai di rumah hampir setengah jam yang lalu.


"Nggak usah Davi, aku udah di rumah. "


" Oke baiklah, aku tutup ya Mel. Aku kabari nanti. "


Disaat Davino hendak mematikan ponselnya, Emely memanggilnya diujung telpon.


"Davi..."


"Ada apa Mel? "


"Aku mungkin akan tidur lebih awal. "


"Kamu kenapa? Apa kamu sakit? " Belum juga Emely menyelesaikan ucapannya, nada kuatir itu terdengar diujung sana. Walaupun Davino sedari tadi terdengar buru - buru dan ingin segera mengakhiri panggilan telponnya, namun mendengar Emely yang ingin tidur diawal, membuat pria yang hendak melangkah keluar kamarnya itu berhenti.


"Kamu sakit? Aku ke sana sekarang. " Kalau sampai Davino kerumahnya, Emely yakin dia tidak akan kemana - mana malam ini.


"Nggak kok Davi. " Buru - buru Emely mengucapkan kalimat itu. Sebelum Davino memutuskan sambungan telpon dan pastinya akan pergi ke rumah Emely. Emely sudah mulai hafal pria itu.

__ADS_1


"Aku baik - baik saja. Hanya saja aku lelah dan ingin tidur lebih awal, itu aja. " Dalam hati Emely meminta maaf kepada Davino, karena terpaksa membohongi pria itu.


"Baiklah kalau begitu Mel, kamu istirahat ya. Aku tutup telponnya. " Emely mengiyakan dan sambungan telpon itupun berakhir.


****


"Davi, kamu lama banget sih sayang. Mommy udah ditelpon Daddy dari tadi. " Baru saja keluar dari kamarnya, Davino segera mendekati wanita yang sudah berdiri dari duduknya, wanita dengan setelan mini dress brokat senada dengan sepatu yang dikenakannya. Wanita yang tetap cantik diusianya yang tidak muda lagi.


"Mom, Davi pokoknya hanya anterin Mommy sampai parkiran. Urusan makan malam sama Daddy, Davi nggak bisa. Apalagi ada Rossa dan ayahnya. " Protes pria yang mengenakan setelan bawahan jeans dan kaos casual yang biasanya dia pakai kalau jalan - jalan bersama Emely.


" Serius sayang, apa penampilanmu harus seperti ini? " Tanya sang ibu sambil memperhatikan penampilan putra sulungnya.


Davino hanya mengangkat kedua bahunya, tidak perduli apa pendapat ibunya


"But, okelah kau terlihat cool and handsome. " Davino mengangkat jempolnya, mengiyakan pernyataan ibunya barusan.


****


Ini memang terlihat seperti pertemuan keluarga. Awalnya Davino hanya ingin mengantar ibunya ke parkiran hotel karena di Restoran hotel itulah mereka akan makan malam. Namun ibunya memohon untuk Davino memperbaiki hubungannya dengan Fransisco, ayahnya.


Davino diam, kalaupun dia bicara itupun hanya seadanya. Sungguh dia sudah sangat bosan ditempat itu, dia harus mencari cara untuk bisa pergi dari tempat itu.


"Ajaklah Rossa bersamamu. " Terdengar suara tegas ayahnya, yang langsung disambut senyuman manis Rossa.


Tanpa menunggu lama, Davino beranjak dari tempat itu, diikuti Rossa tentunya. Davino masih menghargai ayahnya, Dia tidak akan berdebat dengan ayahnya ditempat umum. Karena memang sedari dulu Davino sangat menjaga keluarganya.


"Pergilah bersenang - senang. " Kalimat terakhir yang Davino dengar dari ayahnya Rossa.


Davino masuk kedalam mobilnya, diikuti Rossa tentunya. Dalam perjalanan, tidak ada pembicaraan apapun diantara keduanya. Davino memilih diam, Rossa pun berusaha membuka percakapan namun, Davino malah mendiaminya.


Entah mengapa Davino berkendara sampai didepan Bar milik Boy. Bar tempat dimana sejarah cintanya dan Emely mulai ditulis.


" Ros, kenapa sih kamu tetap ngotot buat ngikutin aku? " Rossa tetap saja mengikuti Davino yang mulai memasuki Bar tersebut.


" Aku nggak akan tertarik sama kamu Ros, aku sudah punya gadis lain di hatiku . " Apa Davino harus sejujur itu? Tapi memang begitulah Davino.


"Getaran ini " Menunjuk ke dadanya. "Hanya bergetar setiap kali aku dekat dengannya."


Rossa mematung ditempatnya, namun hanya sebentar. Karena yang dia lakukan selanjutnya adalah mendekati Davino. Melingkarkan tangannya dileher Davino.

__ADS_1


" Hei apa yang kau lakukan?" Tanya Davino sambil berusaha melepaskan tangan Rossa. Namun tak berhasil.


"Membuat kamu bergetar. " Rossa mengarahkan wajahnya ke wajah Davino dan menempelkan bibirnya dibibir Davino. Awalnya Davino tidak merespon, Rossa berusaha memasukan lidahnya kedalam rongga mulut Davino, berhasil. Davino mulai merespon ciumannya. Rossa bahagia, karena Davino membalas l*matan bibirnya.Itu artinya Davino juga menyukainya. Tidak mungkin dirinya kalah dengan Emely. Apalagi dalam pandangannya, Emely tidaklah selevel dengan Davino. Gadis itu terlihat biasa saja.


Mereka mengakhiri ciuman itu, Wajah Rossa bersemu, Dia bahagia.


"Kau ingin tahu apa yang aku rasakan? " Davino bertanya pada Rossa dan gadis itu mengiyakan.


"Aku merasa muak dengan tipe wanita sepertimu. Wanita yang akan melakukan apa saja untuk memikat pria yang mereka sukai. Aku pikir kau wanita terhormat, ternyata kau tidak lebih baik dari gadis - gadis yang pernah aku bayar tidur denganku. " Kalimat terakhir Davino ucapkan sedikit berbisik.


"Jika sekali lagi kau berani menyentuh atau mencium ku, akan ku pastikan bagian tubuh yang menyentuhku itu, tidak akan berada pada tempatnya." Davino kali ini berbisik ditelinga Rossa.


Dengan gemetar Rossa menelan saliva nya.


Ternyata Davino bisa sekejam itu.


Davino berlalu meninggalkan Rossa yang masih mematung ditempatnya. Tangannya bahkan bergetar, takut kalau - kalau apa yang dikatakan Davino itu benar adanya. Kenapa dia tidak bisa menaklukan pria itu.


****


" Kau sepertinya berjodoh dengan gadis itu. " Sambil menuang wiski kedalam gelas Davino, Boy yang duduk di samping Davino mulai angkat bicara.


"Aku tidak akan berjodoh dengan Rossa. " Protes Davino. Dari nadanya saja sudah jelas bahwa Davino memang tidak menyukai Rossa.


"Bukan, bukan wanita yang datang denganmu."


Davino menatap Boy dengan serius, siapa yang dimaksud Boy.


"Emely. " Apa Davino tidak salah dengar. Tapi sepertinya nama itu yang baru saja diucapkan Boy.


"Emelyku? " Tanya Davino membuat Boy bingung. Memang Boy belum tahu kalau sebenarnya Emely sudah menjalin hubungan dengan Davino. Karena Boy ingat bagaimana dulu Davino memperlakukan Emely.


"Maksud aku Emely yang pernah kerja disini? " Tanyanya lagi memastikan.


"Iya, dia. Dia datang kesini bersama atasan dan juga teman - teman sekerjanya. Aku bahkan sangat senang bisa melihat dia lagi. Syukurlah dia sekarang sudah bekerja di Restoran." Dari dulu Boy berharap Emely akan mendapat pekerjaan yang lebih baik dari pekerjaan yang dia tawarkan.


"Apa ? Emely ada disini? " Tanya Davino memastikan lagi. Bukannya apa - apa dia hanya takut, takut kalau Emely melihat apa yang dilakukannya dengan Rossa tadi. Takut Emely salah paham.


"Iya. Kamu kenapa sih Davi? " Boy agak bingung dengan kepanikan Davino.

__ADS_1


"Oh ****. " Davino melangkahkan kakinya mencari keberadaan kekasihnya itu.


__ADS_2