
Karena hari ini hari minggu, Emely tidak pergi bekerja di apartemen Davino. Menemani sang ibu sekaligus istirahat dirumah merupakan pilihan gadis cantik yang memakai dress rumahan itu.
Mendengar musik sambil berbaring sudah sangat membuat Emely bahagia. Dia bahkan bisa sejenak melupakan setiap masalah yang hadir dalam hidupnya. Mungkin gadis itu sudah mulai membiasakan diri untuk berkompromi dengan takdir yang digariskan Tuhan padanya.
Emely mematikan musik yang diputarnya, ketika ia mendengar ibunya memanggil dari balik pintu kamarnya.
"Mel, ada Sisil didepan. " Emely hampir lupa, bahwa sahabatnya itu akan datang mengunjunginya setiap hari minggu. Emely berlari kecil kearah pintu keluar rumahnya, mendapati sahabat yang menyukai adiknya itu.
"Kita ngoborol dikamar aku aja. " Ajak Emely pada sahabatnya itu. Sisil mengikuti Emely kearah kamar, namun matanya menyisir setiap sudut rumah Emely.
"Kalau kamu cari Eduar, dia tidak ada. " Sisil tersenyum salah tingkah. Sedari tadi dia memang mencari pria pujaannya itu. Lagi pula untuk apa dia malu, dia bahkan setiap ketemu Emely selalu menanyakan Eduar. Jadi kalau dia ketahuan mencari sosok pria tampan itu, dia tidak akan membantah.
"Emang dia kemana? " Tanya Sisil yang sudah merebahkan tubuhnya diranjang sahabatnya itu. Sambil tangannya sibuk membalas chat di media sosial miliknya.
" Kencan. " Satu kata yang membuat Sisil beralih menatap Emely. Dia tidak akan rela jika Eduar dekat dengan gadis manapun. Walaupun dia belum pernah menyatakan perasaannya pada Eduar, karena posisinya sebagai seorang wanita, ditambah dia yang lebih tua dua tahun dari Eduar membuat nyalinya menciut setiap bertemu Eduar. Ah, pria itu sedang kencan bersama gadis seperti apa? Membayangkan mereka makan siang romantis, rasa - rasanya Sisil ingin kesana dan menariknya.
__ADS_1
"Kenapa kamu tidak melarangnya Mel? " Sisil tahu, Eduar pasti akan menurut apa yang dikatakan kakak perempuannya. Jadi jika Emely melarangnya berkencan, Eduar tidak akan pergi bukan? Sepertinya Sisil benar - benar menyukai Eduar. Bahkan dia tidak segan - segan menunjukan kesedihannya didepan Emely, yang jelas - jelas kakak dari pria yang dia sukai.
" Eduar sudah dewasa Sil, dia bisa pacaran dan kencan layaknya pasangan muda - mudi lainnya. " Emely ini sahabatnya apa bukan sih, setidaknya kalau mau membela adiknya, jangan terang - terangan kayak gini.
"Kamu tahukan Mel, aku suka sama Eduar. " Ucap Sisil dengan lirih. Oke, untuk bagian ini tanpa Sisil mengatakannya lagi, Emely sudah sangat tahu. Karena apa? Setiap dia bertemu Sisil, pembicaraan mereka tidak akan jauh seputaran adiknya itu.
"Kalau suka kenapa tidak dikasih tahu sama orangnya. Kasih tahunya cuma sama aku aja. Terus aku dilarang juga buat kasih tahu dia. " Sisil memang aneh, kapan Eduar bisa tahu perasaannya kalau kayak gini.
"Aku malu Mel. Lagian, Eduar kan udah dewasa tanpa aku beritahu dia, dia pasti tahu kalau aku suka sama dia, Mel." Tahu gimana, kalau setiap kali ketemu Eduar, Sisil hanya malu - malu kucing. Walaupun Eduar sering sih mergokin Sisil curi - curi pandang sama dia, tapi itu bukan berarti suka kan? Orang lain saja perhatian tapi bukan berarti suka.
" Kadang perasaan itu harus diutarakan Sil. Karenna tidak semua orang, paham dengan perlakuan kita keorang itu. Bisa aja kan, kita sudah kasih perhatian lebih ke orang itu, eh dia malah menganggap kalau perhatian itu hanya karena sebatas teman atau karena udah anggap kayak sudara sendiri. " Benar yang dikatakan Emely. Tapi Sisil masih malu dan menjaga harga dirinya sebagai seorang wanita. Masa dia yang duluan menyatakan perasaannya sama Eduar? Tapi kalau nunggu Eduar, kayaknya tidak mungkin. Eduar bahkan bersikap biasa saja setiap ketemu dia. Tambah Eduar sekarang sedang kencan, pastikan dia sudah punya pacar. Arrggh akhirnya dia sendiri yang frustasi.
Keluar dari dalam kamar, Emely menghampiri adiknya yang baru saja meletakkan map coklat diatas meja.
"Gimana? " Tanya Emely penuh semangat. Sisil yang tengah dibakar api cemburu langsung ikut keluar mendapati kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
"Lancar kak. " Ucap Eduar tersenyum, membuat Sisil kian memanas. Emely gimana sih, pake acara tanya sama Eduar tentang gimana kencan Eduar. Ini juga Eduar pake jawab lancar segala. Tidak tahu apa, ada hati yang hancur dengarnya. Ini tidak bisa dibiarkan, setidaknya Eduar harus tahu kalau dirinya suka sama Eduar. Agar setidaknya, Eduar bisa menjaga perasaannya jika memang dia sudah punya pacar dan pergi berkencan.
"Eduar, aku suka sama kamu. Jadi tolong setidaknya jaga perasaan aku. " Emely menatap takjub sahabatnya itu. Semenjak ia mengenal Sisil, Emely sangat tahu kalau Sisil tidak mudah memberitahu apa yang dia rasakan. Emely saja butuh waktu lama untuk bisa membuat Sisil terbuka padanya.
Sedangkan Eduar, dia menatap bingung sahabat kakaknya itu.
"Kalau kamu tidak suka sama aku, setidaknya jangan katakan acara kencanmu hari ini lancar. " Tambah bingung kan, Eduar. Kencan? Dia bahkan belum punya pacar. Tadi dia pergi mencari pekerjaan. Karena liburan semester, dia akan membantuh kakak perempuannya untuk melunasi hutang pada rentenir itu. Jadi disaat Emely bertanya gimana? Yah Eduar menjawab lancar. Karena dia mendapat pekerjaan.
Dalam hal ini Emely yang memutar cerita, niatnya ingin membuat Sisil cemburu, malah membuat Sisil dengan berani menyatakan perasaannya. Setidaknya Emely sudah membantuh sahabatnya itu. Kalaupun Sisil ditolak, Sisil sudah tidak menaruh harapan lebih pada adiknya dan mulai membuka hati untuk orang lain. Kalau pun Eduar punya perasaan yang sama, Emely juga akan turut senang. Secara Sisil juga gadis yang baik.
Disaat Eduar akan menjawab, Sisil menghentikannya. Dia belum siap mendengar penolakan pria itu. Yang penting baginya, Eduar itu sudah tahu perasaannya.
"Tidak usah dijawab. Aku sudah tahu jawabannya. " Emang apa yang bisa diasumsikan oleh Sisil. Secara Emely bilang Eduar tadi pergi berkencan dan pastinya Eduar akan menolaknya karena dia sudah punya pacar. Ditambah selama ini, Eduar tidak pernah sekalipun menatap suka padanya. Eduar bersikap baik padanya, semata - mata karena dirinya adalah sahabat sang kakak.
"Mel, aku pulang yah. " Bahkan suaranya sudah terdengar lirih. Emely mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
" Belum juga aku jawab sudah ambil kesimpulan sendiri. Aku harap dia tidak salah menyimpulkan jawaban yang akan kuberikan padanya." Ucap Eduar berlalu meninggalkan kakak perempuannya. Yang mungkin juga salah menyimpulkan perasaan adiknya.
____________