Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
Bab 22


__ADS_3

Disinilah Emely, atap rumah sakit.


"Ray, kenapa kamu jahat banget sih sama aku. "


"Kenapa kamu pergi tanpa memberitahuku, Ray. "


" Aku butuh kamu Ray. "


Emely memukul dadanya yang terasa sesak karena sedari tadi menangis.


"Hmm" Lagi - lagi suara deheman seseorang menghentikan tangisan Emely. Seperti dejavu, pria yang sama duduk tidak jauh dari posisi Emely berdiri dan kenapa pria itu selalu melihatnya menangis di atas atap.


Emely lagi - lagi memilih pergi, namun sekali lagi ucapan pria itu menghentikan langkah kakinya.


"Kenapa berhenti menangis? Apa aku mengganggumu? " Tanya pria itu yang kali ini mendekati Emely.


" Iya, kamu mengganggu. " Ucap Emely menatap pria yang sama sekali tidak terganggu dengan ucapan Emely barusan.


"Haruskah aku meminta ijin padamu untuk bisa ke sini? " Tanya pria itu masih dengan senyum yang mengembang di wajah tampannya. Namun Emely tidak menjawab, dia juga tidak boleh egois, bisa saja sebelum dia datang ke rumah sakit ini, pria itu memang sudah lebih dulu suka atau sering menghabiskan waktu di atap itu.


"Kamu tidak perlu izin dari aku, tapi kenapa kamu selalu datang disaat yang tidak tepat. " Emely ingat pria ini sudah dua kali memergokinya menangis di atas atap.


"Tidak tepatnya seperti apa? " Tanya pria itu dengan mengerutkan dahinya. Sedangkan Emely, dia tidak mungkin kan menjawab kalau pria itu selalu datang disaat dia sedang mengeluarkan uneg - uneg sambil menangis.


Emely memilih tidak menjawab tentunya.


" Jika aku mengganggu, aku akan pergi. Aku akan mengijinkan mu menggunakan atap rumah sakit ku untuk menangis sepuasnya hari ini. Karena besok aku tidak akan mengijinkan hal itu lagi. " Ucap pria itu berlalu meninggalkan Emely yang mematung mendengar ucapan pria yang ternyata pemilik rumah sakit ini.


***


Hari ini jadwal radioterapi untuk ibunya, Emely berharap dengan pengobatan menggunakan radioterapi ini bisa setidaknya membuat ibunya bertahan lebih lama disisinya.


" Apakah nona keluarga dari pasien bernama Elisa Sri Wahyuni? " Tanya seorang perawat yang masuk keruangan ibu Emely.


"Iya sus, saya anaknya. " Jawab Emely


"Kalau begitu bisa ikut saya sebentar. Dokter yang akan bertugas melaksanakan radioterapi untuk ibu anda, ingin membahas beberapa hal sebelum tindakan radioterapi. "


Emely pun mengikuti kemana perawat tadi membawanya.


***

__ADS_1


"Jadi dia seorang dokter. " Emely merasa canggung sekaligus malu berada di posisi ini. Ketika tadi dia masuk keruangan dimana dokter yang akan menangani pengobatan ibunya adalah pria yang sudah dua kali melihatnya menangis di atap.


Syukurlah dokter itu pura - pura tidak mengenalnya. Padahal baru beberapa jam yang lalu mereka bertemu di atap.


" Untuk melaksanakan pengobatan dengan cara radioterapi ini, ada beberapa efek samping yaitu bisa berupa nyeri, perdarahan, pusing, mual, muntah, hilang nafsu makan, kering pada kulit dan mulut, hingga kerontokan rambut. Pada tahap ini, pasien tetap harus memiliki asupan gizi dan cairan yang cukup agar dapat menjalani penyinaran hingga tuntas." Jelas dokter itu.


"Tapi selaku keluarga pasien tidak usah kuatir. kami akan memberikan obat-obatan untuk mengurangi keluhan-keluhan yang mengganggu pasien." Emely mendengar penjelasan dokter itu dengan seksama. Setelah dirasanya penjelasan dokter itu telah cukup dan dimengerti, kali ini Emely ingin minta maaf soal kejadian tadi di atap rumah sakit.


"Dokter, maaf masalah tadi di atap. Saya harap dokter tidak tersinggung dan jangan libatkan ibu saya dalam masalah ini. " Entah dari mana Emely bisa mengucapkan kalimat itu.


" Kamu pikir saya akan menyakiti ibu kamu? Ya ampun nona, saya seorang dokter. Tugas saya adalah menolong, menyembuhkan dan mempertahankan hidup seseorang. Sekalipun pasien saya itu musuh saya, saya tetap dan harus menolongnya karena itu sumpah dan tugas seorang dokter. "


"Maafkan saya dok, saya hanya takut terjadi sesuatu yang buruk pada ibu saya. Saya tidak ingin kehilangannya dok. " Ucap Emely lirih sambil memilin ujung baju yang dipakainya, merasa tidak enak dengan dokter yang didepannya.


"Baiklah saya akan memaafkan mu dengan satu syarat. " Emely menunggu apa syarat yang diberikan dokter itu padanya.


" Setelah selesai radioterapi ibumu, temani saya minum kopi ditempat biasa." Ucap dokter itu tersenyum kearah Emely.


Tempat biasa, dimana itu?


"Maaf dok, tempat biasa? " Tanya Emely yang memang tidak mengerti.


***


"Ini kopi anda nona. " Menyerahkan segelas kopi untuk Emely.


"Terima kasih dokter. " Ucap Emely tulus sambil meraih gelas yang diberikan dokter tadi.


"Oh yah nama kamu siapa? " Pura - pura bertanya padahal waktu Emely mencari Eduar di Sweet Room, Alex ingat nama gadis disampingnya ini.


"Emely dok. Emely Valery. " Sama rupanya, Emang sejak kapan nama seseorang bisa berganti hanya hitungan hari.


" Alexander Hardian."


"Siapa? "


"Saya. Kamu bisa panggil dokter Alex kalau di rumah sakit dan bisa panggil Alex kalau ditempat seperti ini. " Ucap Alex tersenyum kearah Emely.


" Walaupun di atap, inikan masih tetap di rumah sakit dok. " Protes Emely.


Alex hanya tersenyum. "Saya lebih senang melihat kamu protes seperti ini. Dari pada harus melihat kamu menangis ditempat ini."

__ADS_1


"Terima kasih dok. "


"Untuk? "


"Karena waktu itu kata - kata dokter bisa membuat saya sedikit tenang. "


"Hanya sedikit? " Alex tertawa melihat perubahan wajah Emely, setelah mendengar ucapannya.


"Emely, saya tidak tahu masalah apa yang menimpah kamu selain masalah penyakit ibu kamu tentunya. Tapi percayalah setiap manusia diberi pilihan untuk memilih. Jika kamu memilih berlarut larut dalam kesedihan dan terus menyalahkan takdir, maka hidup kamu akan terus berputar disitu saja. Hanya jalan ditempat bahasa kerennya. " Tertawa lagi, walaupun lagi serius. "Tapi kalau kamu memilih menghadapi hidup ini dengan selalu bersyukur dan berbahagia maka yakin deh, perlahan kamu akan menikmati hidup ini. yah walaupun banyak masalah yang harus dihadapi tapi setidaknya kamu sudah punya seribu satu cara untuk menghadapinya. "


"Saya bahkan sudah berusaha ikhlas dok dengan semua yang menimpah saya. Tapi ini terlalu sakit dok. "


"Iya dok, saya mengerti. " Berusaha tegar didepan dokter Alex.


***


Apartemen Haizel


"Woi Men, katanya kamu mukul orang semalam? " Tanya Haizel pada Davino yang lagi - lagi melamun.


"Davi ditanya Haizel tuh? " Alex menggoyangkan lengan Davino, membuat Davino menatapnya seperti bertanya ada apa?


"Kata Haizel semalam kamu menghajar orang di Bar Diamond Star, apa iya? " Kali ini Alex yang bertanya. Namun yang ditanya lagi - lagi hanya mengangkat kedua bahunya.


"Lagian kenapa kamu bisa pergi ke Diamond Star sih? "


"Tunggu. Bukankah gadis yang kau tiduri secara paksa itu kerja di sana? Jangan - jangan... " Belum juga menyelesaikan ucapannya, Davino sudah memotong ucapannya.


" Jangan sok tahu." Bantah Davino.


"Oh yah men, waktu di rumah sakit aku ketemu bidadari. "


"Serius men? " Davino tidak tertarik dengan cerita sahabatnya itu, dia hanya fokus dengan media sosial miliknya. Hanya Haizel yang menanggapi.


"Serius men, udah aku ajak kenalan. Namanya Emely. "


"Emely Valery? " Davino yang akhirnya bertanya.


________


Jangan lupa like, koment dan di vote

__ADS_1


__ADS_2