Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 78


__ADS_3

Emely menghampiri Davino yang masih belum beranjak dari tempatnya.


"Ayo." Ajak Emely.


"Mel, apa iya kita harus naik bis seperti ini? " Davino masih enggan mengikuti wanita itu.


"Aku telpon Haizel atau Alex yah buat ngantarin kita. " Setahu Emely mobil Davino ada di bengkel karena begitu Davino mengatakan padanya. Emely belum tahu apa yang terjadi dengan Davino.


"Jangan merepotkan orang lain Davi. Kalau kamu tidak mau, kamu bisa pulang. Aku bisa pergi mencari pekerjaan sendiri. " Emely hendak melangkahkan kakinya, menaiki bis yang sepertinya tengah menunggu mereka.


"Mel, tunggu. " Davino akhirnya menyusul wanita itu. Emely hanya bisa tersenyum dalam diam.


"Mel, kita nggak duduk. " Ucap pria itu ketika sudah berada didalam bis.


"Kamu sih lama naiknya, kita nggak kebagian tempat duduk jadinya. " Gerutu gadis itu. Davino mengendarkan pandangannya. Benar saja semua kursi bis itu full dengan penumpang, sama seperti mereka.


" Kalau nggak kebagian tempat duduk, kenapa kita naik Mel. " Protesnya. "Sampai kapan kita bergantungan kayak monyet gini. " Ucapnya sebel. Penumpang lain yang mendengarnya hanya bisa menahan senyum.


"Nunggu bis lainnya lama Davi. Bisa - bisa sampai malam aku nggak bakal dapat pekerjaan. " Davino hanya menarik nafas kasar. Seumur hidup baru kali ini dia menaiki angkutan umum seperti sekarang.


***


" Kenapa kamu liatin pacar aku kayak gitu. " Tiba - tiba Davino memarahi salah satu penumpang pria yang semenjak tadi melirik kearah Emely. Pria itu menunduk takut. Takut karena pandangan tajam Davino padanya.


" Davi... " Emely berusaha menenangkan pria yang memang tidak bisa mengendalikan amarahnya itu. Bahkan Davino hendak mendekati kursi pria itu. Emely berusaha menahan dan menenangkannya.


"Dia ngelihatin kamu dengan tatapan mesum Mel. Aku nggak suka liatnya. " Davino sadar nggak sih kalau mereka didalam bis. Bukan hanya mereka berdua didalamnya. Ada banyak mata yang saat ini menahan senyum kearah keduanya. Antara malu bercampur kesal, Emely meminta sang supir menghentikan bis yang mereka tumpangi.


Turun mengikuti Emely, Davino meraih tangan wanita itu. "Mel, kenapa kita turun ditengah jalan kayak gini. "


"Kita jalan kaki aja. " Berusaha menjawab menahan kesal, Emely terus berjalan.


"Tapi Mel, bukannya ini masih jauh. " Protes Davino, Emely masih berusaha menahan kekesalannya. Tidak menjawab Emely terus berjalan, Davino tetap mengikutinya sampai Emely melihat ada lowongan pekerjaan disalah satu restoran.


"Aku coba melamar disini yah. " Davino hanya bisa mengiyakan. Lagi pula Emely terlihat antusias.


"Kamu tunggu aku disini. " Davino lagi - lagi mengiyakan. " Dengan setia dia menunggu Emely disalah satu kursi di restoran itu.

__ADS_1


***


"Kak Davi. " David adiknya ternyata sedang mengerjakan tugas dari kampusnya di restoran itu bersama teman - temannya. Mendekat kearah kakak laki - lakinya yang sudah hampir seminggu ini tidak pernah menghubungi keluarganya.


"David, kamu makan disini? " David mengiyakan pertanyaan kakaknya.


"Kakak sedang apa disini? Kata Mommy, kak Davi berantem sama Daddy. Kak Davi ..... " Belum selesai David dengan ucapannya, Emely muncul tanpa memperhatikan David.


"Davi, aku diterima. " Ucapnya penuh girang.


"Kamu? " David menatap Emely penuh tanda tanya. Emely baru menyadari keberadaan David ketika David berbicara tadi.


" Apa dia yang membuat kak Davi bertengkar dengan Daddy dan memilih meninggalkan semua fasilitas yang kak Davi miliki? " Emely tidak tahu apa maksud ucapan David.


"Kamu. " David mendekati Emely. " Apa yang kamu lakukan sehingga kak Davi, rela meninggalkan keluarga Swam, meninggalkan kemewahan yang dia miliki hanya untuk gadis pekerja BAR sepertimu. "


"David. " Satu tamparan keras mendarat di pipi adiknya itu. "Kamu jangan keterlaluan. Emely tidak ada hubungannya dengan semua ini. " Ucap Davino yang sudah mulai tidak bisa mengendalikan amarahnya.


" Kak Davi, nampar adik kak Davi hanya karena gadis ini. " David memandang tidak suka pada Emely.


" Emang David keterlaluan dimana kak. Yang David bilang itu benar, kak Davi ninggalin semua yang kak Davi miliki hanya untuk gadis pekerja BAR yang mungkin juga ikut menjajakan dirinya. Kak Davi mungkin hanya salah satunya. " Kali ini bukan hanya tamparan tapi pukulan keras yang membuat David jatuh tersungkur.


Tamu di restoran itu, mulai melihat kearah mereka. Emely sungguh malu dengan ucapan David barusan. Dia memilih lari meninggalkan Davino.


" Mel, " Davino berusaha mengejar Emely, namun gadis itu menghilang entah kemana. Setelah kepergian Davino, barulah teman - teman David, membantu David dan mengantarnya ke rumah. Sementara Davino, berusaha menyusul Emely yang mungkin sudah pulang kerumahnya.


***


Mengetuk pintu Emely dengan tidak sabaran saat ketukan pertama tidak ada yang membuka pintu itu, Davino lagi - lagi mengetuk dengan sedikit lebih keras.


Eduar yang membuka pintu.


"Kak Davi. Masuk kak. "Ajak Eduar.


" Kak Davi mau ketemu kakak kamu. " Ucap Davino yang belum masuk kedalam rumah.


"Kak Emely tadi pamit mencari pekerjaan, belum pulang sampai sekarang kak. " Eduar memang tidak tahu kalau Emely pergi bersama Davino. Sedangkan Davino terlihat frustasi saat tahu Emely belum pulang ke rumahnya.

__ADS_1


"Kamu dimana sih Mel? "Gumam Davino. Setelah itu Davino pamit pada Eduar. Dia ingin mencari Emely tapi dia tidak tahu dimana harus mencari wanita itu. Memilih menghubungi Emely, namun Emely sama sekali tidak mengangkat telpon darinya. Davino tambah kuatir pada pacarnya itu.


"Kamu dimana sih sayang. Jangan buat aku takut kayak gini. " Davino kali ini meminta sang driver mobil online yang dipesannya mengantarnya ke lokasi pemotretan Haizel. Dia butuh mobil sekarang.


Sementara itu, Emely memilih mengunjungi makam sang ibu. Dia menangis di sana. Sementara Davino pria itu terus mencari Emely. Bahkan dia meminta Eduar menghubunginya jika Emely sudah pulang kerumah.


"Sisilia. " Davino ingat, Emely dekat dengan Sisilia. Jadi tiada salahnya dia mencari Emely di rumah Sisilia.


***


"Emely nggak kesini. Bahkan seharian ini dia nggak ngabarin aku sama sekali. " Ucap Sisilia ketika tadi pelayan rumahnya memanggil dirinya didalam kamar karena ada tamu yang mencarinya. Siapa lagi tamu itu kalau bukan Davino.


"Kamu nggak bohong kan? " Davino memang belum mengenal sahabat Emely dengan baik. Tapi beberapa kali ia bertemu Sisilia, dia tahu Sisilia termasuk salah satu sahabat Emely yang baik.


"Sumpah aku nggak bohong. Emang apa yang terjadi? " Kalau Sisilia belum tahu apa yang terjadi, berarti memang Emely belum menemui sahabatnya itu.


" Emely sekarang pacar aku." Ucap Davino membuat Sisilia sama sekali tidak terkejut. Bahkan gadis itu tersenyum.


"Jadi levelnya udah turun nih. Dari calon suami jadi pacar. " Sisilia mengatakannya dengan tawa kecil diujung kalimatnya. Davino yang mendengarnya, hanya bisa ikut tersenyum.


" Kamu tahu dimana tempat Emely biasa menenangkan diri? " Tanya Davino kali ini serius.


"Biasanya kalau ada masalah, Emely suka pergi ke taman kampus. Tapi semenjak dia putus dengan Rayhan, dia sudah tidak pernah ke taman itu. Karena taman itu tempat pertama kali mereka jadian. "


"Baguslah kalau dia sudah tidak suka datang ke taman itu. " Ucap Davino sewot. Sisilia yang mendengarnya hanya bisa tersenyum. Sisilia tahu Davino sedang cemburu sekarang.


"Aku punya ide. " Sisilia kemudian mengambil ponselnya, menghubungi Emely. Tersambung dan wanita itu menjawab panggilan telpon dari Sisilia.


"Mel, aku ke rumah yah. Aku ada tugas kampus yang susah nih. Bantuin aku yah, please. " Davino hanya diam mendengarkan. Sisilia memang menggunakan pengeras suara ponselnya.


"Aku nggak di rumah Sil. " Dari suaranya, Davino tahu kekasihnya itu sedang menahan tangis.


"Lho kamu dimana Mel, aku samperin aja yah. " Sisilia menawarkan. Davino berharap Emely mengatakan dimana dirinya saat ini.


"Aku di......"


B E R S A M B U N G

__ADS_1


__ADS_2