
Biasanya Davino setelah memenuhi undangan makan malam tante Alea langsung pulang dengan alasan ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada janji dengan klien dan sebagainya. Namun malam ini, dia bahkan punya waktu untuk sekedar ngobrol bersama diruang keluarga tante Alea.
Alex bahkan mulai menyadari bahwa sahabatnya ini benar - benar mengenal Emely. Tapi Alex bahkan tidak bisa menyimpulkan bagaimana hubungan Davino dan Emely.
"Dokter Alex. " Panggil Emely namun sepertinya Alex tidak menghiraukan panggilan Emely padanya. Bukan karena Alex tidak mendengar tapi karena lagi - lagi Emely memanggilnya dengan embel - embel profesi didepan namanya. Padahal laki - laki itu sudah beberapa kali mengatakan kepada Emely jika diluar rumah sakit, Emely harus memanggilnya dengan sebutan Alex saja.
" Alex dipanggil Emely tuh.. " Kali ini Alex menoleh kearah maminya yang memang duduk bersama Emely. Sedangkan Alex duduk di sofa satunya bersama Davino.
" Apa kamu tidak dengar Emely memanggilmu. " Tambah tante Alea menatap putranya tersebut. Sedangkan Davino tahu jelas bahwa Alex bisa mendengar panggilan Emely tadi, karena jarak duduk mereka juga tidak terlalu jauh. Davino saja bisa mendengarnya, namun mengapa Alex tidak?
"Aku dengar mam, hanya saja aku tidak suka jika Emely memanggilku dengan panggilan yang dia panggil tadi. " Emely yang mendengar ucapan Alex barusan, tidak pernah menyangka jika Alex bisa sejujur itu menjawab pertanyaan maminya. Lalu kenapa dia begitu tidak suka jika Emely memanggilnya dengan sebutan dokter Alex.
Pria disamping Alex pun sama halnya dengan Emely, berusaha mencerna ucapan Alex barusan. Sejak kapan Alex mempermasalahkan panggilannya? Setahu Davino, Alex selalu membanggakan profesinya dan sangat mencintai perannya sebagai seorang dokter. Namun kenapa mendengar Emely hanya menyebutnya dokter Alex, Alex seperti tidak suka. Ada apa dengannya?
"Aku ingin dia memanggil Alex aja jika diluar rumah sakit. " Jadi itu masalahnya. Tante Alea mengangguk mengerti. Tidak sama halnya dengan Davino.Sedangkan Emely dia memang sudah tahu jika Alex memang suka dipanggil hanya namanya saja kalau diluar rumah sakit. Namun Emely tetap memanggilnya dokter Alex karena dia memang belum terbiasa memanggil hanya dengan sebutan nama saja.
"Alex. " Akhirnya Emely memanggil dengan sebutan itu saja. Karena dia butuh laki - laki itu untuk segera mengantarnya ke Bar Diamond milik kak Boy.
"Yup. " Kali ini Alex menjawab, mengalihkan pandangannya pada Emely.
__ADS_1
" Aku pamit sekarang yah, aku harus kerja soalnya. " Alex menatap Emely bingung. Emang Emely kerja apa disaat jarum jam menunjukkan pukul delapan malam. Tante Alea pun sama bingungnya dengan Alex. Berbeda halnya dengan laki - laki yang tengah fokus dengan ponselnya itu, dia tidak terkejut bahkan bingung. Karena dia tahu Emely memang kerja di atas jam tujuh malam dan dia juga tahu dimana Emely bekerja.
"Emang Emely kerja dimana? " Dari pada tante Alea penasaran dan menerka - nerka sendiri, lebih baik dia bertanya langsung. Memang seperti itukan maminya Alex, mendetail.
Emely ragu - ragu menjawab, dia takut keluarga ini akan memandang rendah dirinya jika tahu dimana ia bekerja. Tapi apa dia harus berbohong.
"Emely kerja di... " Ucapan Emely terpotong ketika ring tone ponsel milik tante Alea berbunyi.
"Ia Pi.. "
"Kok bisa? "
"Papi tunggu aja didalam mobil. " Ternyata telpon dari suami tante Alea yang tak lain papinya Alex.
"Alex, mobil papi mogok dijalan dekat kantor papi. Papi minta kamu jemput papi. Di Daerah sana juga lagi turun hujan. " Mendengar ucapan tante Alea membuat Emely tidak enak hati untuk meminta Alex mengantarnya. Tapi lebih baik seperti itu, agar Alex juga tidak tahu dia kerja dimana.
"Tapi mam, Alex harus antar Emely. " Alex tidak enak jika harus membiarkan Emely pulang sendiri. Toh dia yang udah jemput gadis itu, jadi dia juga yang harus mengantar Emely.
"Alex, tidak apa - apa aku bisa balik naik taxi atau angkot aja. Kamu jemput om saja. " Tante Alea sebenarnya juga tidak tega membiarkan Emely pulang sendiri atau pergi ke tempat kerja sendiri tapi mau gimana lagi.
__ADS_1
" Biar aku yang anterin dia. " Setelah lama bungkam akhirnya Davino bersuara dan ucapannya barusan merupakan angin segar untuk tante Alea tapi tidak untuk gadis yang berada disebelah tante Alea yaitu Emely. Dia terlihat gugup dan berusaha menekan jemarinya yang mulai gemetar.
"Oh yah Mel, aku lupa menanyakan ini. " Alex menjeda ucapannya. Sedangkan Emely menunggu apa yang akan ditanyakan Alex padanya.
"Apakah kau mengenal Davi? " Tanya Alex akhirnya.
"Iya. "
"Tidak. "
Iya Davino yang menjawabnya sedangkan tidak merupakan jawaban dari Emely. Davino menatap Emely dengan tatapan yang tidak bisa Emely tebak.
"Kalian gimana sih? " Alex bahkan bingung sendiri.
" Anggap saja dia yang benar. " Ucap Davino akhirnya.
"Alex papi nak. " Kali ini suara tante Alea memperingatkan Alex untuk segera menjemput papinya.
_________
__ADS_1
Jangan lupa di like, di rate dan di vote yah gays. Terima kasih. 😘