
Memaafkan adalah cara terbaik untuk melupakan. Itulah yang dilakukan Emely saat ini. Memaafkan setiap masa lalu yang pernah mampir dihidupnya. Memaafkan sang ayah yang meninggalkan ibunya, Eduar dan dirinya.
Memaafkan Davino yang menodai kesuciannya, memaafkan Rayhan yang memutuskan hubungan mereka secara sepihak dan meninggalkannya disaat dia membutuhkan pria itu. Mungkin sekarang memaafkan Ana yang selalu menyudutkannya. Mencoba menjalani hidup yang lebih baik, karena Emely sadar tidak ada gunanya berlarut - larut meratapi yang telah hilang. Karena pada dasarnya waktu tidak bisa mengembalikan semuanya.
Hari ini Emely bertekad untuk menata lagi hidupnya. Memulainya dengan lembaran yang baru. Mencoba membuka gembok dihatinya yang ditutupnya rapat untuk semua pria. Ayah, Rayhan dan Davino, ketiga pria itu pernah sangat menyakiti hatinya. Namun saat ini, Emely memberi kesempatan untuk salah satu dari pria itu. Kesempatan untuk menyatuhkan kembali kepingan hatinya yang pernah hancur.
Davino Swam, pria itu beberapa bulan terakhir, selalu ada untuknya. Meminta Emely untuk memberi kesempatan dirinya membuktikan bahwa dia tulus mencintai gadis itu.
Gadis itu tersenyum malu - malu menatap pantulan wajahnya dikaca cermin meja riasnya.
Bayangan kejadian tadi sore di pintu apartemen Davino, sungguh membuatnya tersipu malu. Apalagi mengingat dirinya yang juga menikmati dan membalas ciuman Davino. Sungguh jika mengingat itu, jantungnya selalu berdebar - debar.
"Mel... " Suara ibunya membuyarkan lamunan gadis itu. Menghampiri sang ibu dan juga Eduar yang tengah menunggunya dimeja makan. Emely lantas menarik kursi yang biasa dia duduki, duduk disitu.
"Kak Emely kenapa sih? " Tanya Eduar yang merasa aneh melihat kakak perempuannya yang semenjak pulang tadi selalu tersenyum. Seperti ada objek yang membuatnya tersenyum.
"Emang kakak kenapa? " Bertanya balik kepada sang adik.
"Kak Emely itu aneh, dari tadi itu kak Emely suka senyum - senyum sendiri. "
" Nggak kok, kak Emely nggak senyum sendiri. Kamu salah lihat kali dek. " Kilah Emely. Elisa ibunya yang sedari tadi hanya mendengar perdebatan kecil kedua anaknya hanya bisa tersenyum.
"Sudah - sudah, ayo kita makan. " Ucapan sang ibu menghentikan pembicaraan Emely dan Eduar.
Mereka pun makan bersama. Kadang Eduar masih bertanya alasan kakak perempuannya itu, senyum - senyum sendiri. Namun Emely memilih diam dan fokus dengan makan malamnya. Sudah tahu kalau adik laki - lakinya itu, kalau sudah bertanya selalu saja mendetail. Jawaban pertama tidak akan membuat adiknya itu puas, sebelum dia benar - benar yakin dengan jawaban dari orang yang ditanyainya. Jadi Emely memilih diam dari pada menjawab. Bisa - bisa ketahuan kalau dia senyum - senyum sendiri, karena terus mengingat ciumannya dengan Davino.
Menatap kedua anaknya, Elisa yang sudah lebih dulu selesai dengan makan malamnya, lantas angkat bicara.
"Mel, Eduar, kalian harus saling menyayangi. Ingat harta yang paling berharga adalah keluarga. "
Menghentikan aktivitas makannya, Emely lantas menatap sang ibu. " Berarti kita bukan harta yang berharga untuk ayah yah, bu? "
"Kok Emely ngomong kayak gitu? " Tanya sang ibu.
__ADS_1
"Kan ayah ninggalin kita bu, kalau ayah ninggalin kita itu artinya kita bukan harta yang berharga yang harus ayah jaga. Kalau kita harta berharga ayah, lalu kenapa ayah ninggalin kita bu? " Ucapnya lirih. Eduar yang mendengar ucapan Emely, hanya bisa menatap kakak perempuannya. Sedangkan Elisa ibunya, berusaha mencari kalimat yang setidaknya tidak membuat Emely berpikir seperti itu. Walaupun apa yang dikatakan Emely barusan ada benarnya.
" Kamu dan Eduar adalah harta berharganya ayah dan ibu. Apalagi kamu Mel. Kamu cinta pertama ayah setelah ibu. Karena kedatanganmu saat itu, sangat dinantikan ayah dan ibu. Hadirnya kamu didunia ini melengkapi cinta ayah dan ibu. Hadirnya kamu, bukti cinta ayah dan ibu. " Elisa tidak ingin menanamkan kebencian kedua anaknya kepada suaminya, ayah dari anak - anaknya.
" Apa ayah masih ingat sama kita bu? " Tanya gadis itu lagi. Entah mengapa pembicaraan itu selalu mengarah kepada sang ayah.
"Dimana pun ayah kalian berada pasti ayah tetap mengingat kalian berdua. Ada yang namanya mantan istri nak, tapi tidak ada yang namanya mantan anak. " Ucap Elisa lirih. Menyadari ada kesedihan dibalik ucapan sang ibu, Emely tidak lagi bertanya.
"Mel, jangan membenci ayah nak. " Ucap Elisa kembali.
"Berjanjilah pada ibu, kalian tidak akan membenci ayah kalian. " Antara mengiyakan dan tidak. Namun karena hari ini tekad Emely memaafkan, maka dia hanya mengangguk saja. Sementara Eduar, adiknya itu diam tanpa mengiyakan.
Menatap kearah Eduar. Elisa kembali berucap. " Kalian harus saling menjaga. Eduar, walaupun Emely kakakmu, tapi kamu harus bisa menjaga kakakmu. Karena kamu anak lelaki. " Kali ini Eduar mengiyakan.
Makan malam mereka pun diakhiri dengan nasehat - nasehat sang ibu.
***
Pagi tadi saat membuka matanya, Davino langsung meraih ponselnya berharap Emely memberinya kabar. Semenjak Davino tiba di Bali, gadis itu benar - benar membuat Davino kesal. Kesal karena Emely sama sekali tidak membalas pesannya, telpon dari Davino pun tidak satupun diangkat oleh Emely.
Mencoba menghubungi Emely sepagi itu, Davino berharap gadis itu mengangkat telpon darinya. Agar setiap acara penting yang akan dilaluinya hari ini bisa berjalan lancar. Coba saja Emely mengabaikan panggilan telponnya lagi, Davino bisa pastikan bahwa peletakan batu pertama untuk pembangunan resort di Bali akan berubah menjadi pelemparan batu pertama dirumah gadis itu.
"Hallo. " Akhirnya gadis itu mengangkat telpon dari Davino.
"Hallo Mel kamu kemana aja sih? Kenapa kamu nggak pernah ngabari aku? Kamu ketemu cowok lain yah Mel? " Astaga, cowok mana yang Emely temui sepagi ini. Emely hanya berpapasan dengan beberapa orang saja saat dalam perjalanan tadi.
Memilih diam, Emely masih mendengarkan omelan pria itu.
"Tadi aku udah bersumpah loh Mel, kalau kamu nggak angkat telpon aku, detik itu juga aku akan balik kesana. Menemui kamu langsung. Biar aku itu nggak harus nahan rindu kayak gini. " Kenapa sih Davino selalu bisa buat hatinya meleleh. Namun Emely masih Enggan menjawab sampai suara bip terdengar.
"Mel kamu lagi diluar yah? Kemana kamu sepagi ini Mel? " Curiga 180 derajat. Emely tidak menjawab, dia hanya mengalihkan panggilan ke mode video. Tidak menunjukan wajahnya, Emely memilih menunjukan posisinya saat ini. Agar laki - laki itu berhenti mencurigainya.
Pria itu tersenyum melihat dimana Emely saat ini.
__ADS_1
"Kamu di apartemen aku, Mel? " Sudah tahu masih bertanya.
Kali ini Emely menunjukan wajahnya.
"Iya. Aku datang kesini pagi - pagi buat bersihin apartemen kamu. " Davino bahagia bisa melihat wajah itu lagi.
"Bilang aja kalau kamu rindu aku, kan Mel? " Kumat lagi tingkat kepedeannya.
Emely mencibir. "Kamu tuh yah, pede banget. Yang telpon aku semenjak semalam siapa? " Davino tersenyum ditanyai seperti itu.
"Aku. " Jawabnya kemudian.
" Berarti yang rindu siapa? " Tanya Emely lagi.
"Kamu. " Menjawab semaunya.
"Kok aku? "
"Biar aku senang Mel. " Kalau sudah begini, baiklah Emely akan mengalah.
Telpon pagi itu diakhiri lagi dengan permintaan Davino, permintaan untuk Emely selalu mengabarinya. Okelah Emely mengiyakan. Karena Davino sudah mengancamnya, jika Emely tidak mengabarinya dan mengabaikan telpon darinya, maka bisa dipastikan pria itu akan menginap semalam dirumah Emely, jika dia pulang nanti.
__________________
Duh maaf ni aku baru muncul lagi.
Ada pengisian nilai lapor untuk siswa - siswaku. Abis itu harus bagi lapor kerumah - rumah siswa. Aku sempatin nih buat bisa up hari ini semoga bisa mengurangi rindu kalian sama Emely dan Davino.
Untuk segala typo, tata bahasa yang tidak teratur dan kekurangan lainnya, nanti aku perbaiki kalau sempat yah.
Makasih selalu sabar dan selalu dukung novel ini.
Buat readers "Aku Ternyata Sangat Mencintaimu " Yang juga mampir disini. Sabar yah untul ATSM belum bisa up malam ini. Besok deh, aku usahakan.
__ADS_1