
Disinilah mereka, tempat biasa dimana mereka menghabiskan waktu bersama. Sweet Room.
" Kamu serius Davi, soal tadi ditelpon. " Alex bertanya penuh selidik. Pasalnya tadi Davino menghubunginya, meminta Alex menjemputnya dirumah orangtuanya.
"Kamu liat sendiri tadi, mobil aku udah disita sama Daddy. " Menghabiskan minuman yang ada digelasnya, Davino terlihat tidak memiliki beban apapun. Padahal dia baru saja kehilangan semua kemewahan yang selama ini menjadi miliknya.
"Emang apa yang terjadi sampe Om Frans menyita mobilmu Men?" Kali ini Haizel yang bertanya. Kedua sahabatnya itu tidak sepenuhnya tahu apa yang terjadi dengan Davino. Tadi ditelpon selain meminta Alex menjemputnya, dia juga menghubungi Haizel dan mengajak mereka ke Sweet Home.
"Daddy maksain aku tunangan sama Rossa. Trus aku tolak. " Davino menjawab jujur. Sambil tangannya tetap memutar gelas kosong diatas meja. Jawabannya itu sontak membuat keduantmya tertawa. Davino menatap kedua sahabatnya geram. Emang ada yang lucu, sampai Haizel dan Alex tertawa.
" Kalian reseh yah, sahabat lagi sedih kalian malah tertawa. " Sedih dari mana, raut wajahnya saja santai seperti.
" Kena batunya juga kan kamu, kamu kan kadang suka maksain kehendak kamu, nah sekarang dipaksain. Gimana rasanya? " Mendengar ucapan Haizel, Davino langsung meraih bungkusan rokok dan melemparnya kearah Haizel.
" Lagian model cantik kayak Rossa kamu tolak. Kan bodoh namanya. " Tambah Haizel dan diiyakan Alex.
"Kalau kamu mau ambil aja. " Menengak minumannya, Davino menatap lurus kedepan.
__ADS_1
" Ogah, bekas kamu. " Haizel berucap santai. Kali ini Alex yang tertawa. "Bukannya kamu doyan bekasnya Davi? " Alex bahkan masih tertawa diujung kalimatnya. "Iya juga sih. " Keduanya sontak tertawa.
"Bekas apaan, aku aja belum nyentuh dia. " Ucap Davino sombong.
"Serius men? " Haizel belum tahu, kalau semenjak bersama Emely, Davino tidak pernah lagi menyentuh wanita lain. Kecuali Alex, dia tahu semuanya karena Davino pernah mengatakan hal ini padanya.
Davino mengangkat kedua bahunya bersamaan. Beranjak dari duduknya, Davino hendak pergi dari tempat itu.
"Kamu mau kemana Davi? " Tanya Alex yang juga ikut berdiri.
"Aku mau ketemu orang yang harus bertanggung jawab dengan keadaanku ini. " Melangkah pergi dan berbalik lagi. "Bayarin minumannya, aku nggak punya uang sekarang. "Setelah itu Davino pergi dari tempat itu.
"Mel, Mel... " Davino mengetuk pintu rumah Emely berkali - kali. Emely yang sedang ngobrol dengan Eduar, begitu terkejut mendengar teriakan Davino dari balik pintu. Dengan langkah cepat, Emely sampai didepan pintu dan membukanya.
"Mel... " Davino langsung memeluk Emely.
"Davi kamu kenapa sih? Kamu mabok yah. " Emely berusaha melepaskan pelukan Davino. Emely tidak ingin Eduar melihat Davino memeluknya. Bisa - bisa adiknya itu tidak berhenti menanyainya.
__ADS_1
"Aku nggak mabuk Mel, aku hanya minum beberapa botol saja. " Jawabnya asal.
"Kak Davi kenapa kak? " Eduar muncul dari arah belakang Emely. Melihat Eduar, Davino ingin mengatakan sesuatu. Namun sebelum ia berucap, Emely sudah membungkam mulutnya itu.
"Dia hanya nyasar saja dek. Ini juga dia udah mau pergi. " Emely mengajak adiknya itu kedalam dan mengunci pintu yang masih ada Davino disana.
"Kak, serius itu kak Davi hanya nyasar. " Inilah Eduar adiknya, yang selalu bertanya dan tidak pernah percaya dengan jawaban pertama, sebelum dia benar - benar yakin.
"Serius. Udah tidur sana, entar besok pagi - pagi kamu udah masuk kerja kan?" Eduar menuruti kata - kata kakak perempuannya. Memilih masuk kedalam kamarnya, Eduar ingin tidur lebih awal, biar besok pagi dia juga bisa bangun lebih awal.
Setelah Eduar sudah masuk kedalam kamarnya, Emely cepat - cepat kearah pintu depan. Dia mencari Davino tepatnya. Namun pria itu sepertinya sudah pergi. Emely akhirnya menutup kembali pintu rumahnya dan memilih masuk kedalam kamarnya.
Emely terkejut, mendapati Davino yang sudah duduk diranjangnya. Pria itu tertunduk.
"Davi..." Davino mengangkat wajahnya, hanya sebentar saja dia menatap Emely, kemudian menunduk lagi. Tidak biasanya dia seperti itu.
Emely yang awalnya ingin menyuruhnya keluar dari dalam kamarnya, malah mendekat dan duduk disamping Davino.
__ADS_1
"Kamu kenapa? " Tanya Emely. Davino masih bungkam, dia enggan menjawab. Dia tidak tahu harus mengatakan apa pada Emely. Intinya dia hanya ingin bersama gadis itu.