Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 55


__ADS_3

Janjian dengan Sisil untuk bertemu disalah satu pusat perbelanjaan. Sejam yang lalu, Emely menghubungi sahabatnya itu. Emely butuh seseorang untuk sekedar bicara saat ini. Lagi pula, Emely akan mengatakan yang sebenarnya kepada Sisil, mengenai Davino yang bukan calon suaminya.


Emely masih menunggu Sisil yang katanya terjebak macet. Memilih menunggu di lobby, Emely masih sesekali menghubungi Sisil yang katanya sebentar lagi sampai. Diluar sudah mulai turun hujan. Jadi Emely memilih menunggu didalam Mall, sambil melihat - lihat beberapa kue yang ada dietalase toko kue.


"Emely... " Emely mencari arah suara perempuan yang memanggilnya.


"Hei, An. " Yang memanggilnya adalah Ana. Menghampiri Emely, Ana menggandeng seorang pria yang tak lain adalah sang tunangan.


" Kamu kok bisa ada disini? " Ana berucap tanpa melepaskan lengan Rayhan. Memamg Emely tidak boleh yah, datang ketempat seperti ini.


" Aku janjian sama Sisil disini An. " Jawabnya jujur. Sedangkan Rayhan, pria itu sesekali menatap Emely.


"Oh kirain kamu ngikutin Rayhan sampai kesini. " Emely terkejut mendengar ucapan Ana barusan. Rayhan juga menatap Ana, tidak suka dengan pernyataan Ana barusan.


" Maksud kamu apa An? Aku nggak ngikutin siapa - siapa kesini. Aku serius janjian sama Sisil disini. "


" Kalau begitu Sisilnya mana? " Tanya Ana. Sambil mengamati sekitarnya.


"Ana jangan keterlaluan. Emely itu sahabat kamu. " Rayhan mencoba mengingatkan.

__ADS_1


"Dan dia itu mantan pacar kamu Ray. Wajar dong aku itu curiga, dia ngikutin kamu sampe kesini. " Emely tidak menduga, Ana bisa berfikiran seperti itu.


"Kata Sisil sebentar lagi dia nyampe. " Emely berharap Sisil segera sampai, agar Ana tidak berfikir kalau Emely membohonginya.


"Oh yah, Mel. Kenapa kamu tidak datang ke acara pertunangan aku sama Ray? " Ana sepertinya belum percaya ucapan Eduar waktu itu, kalau Emely tidak bisa datang karena dirinya berada di rumah sakit.


"Oh, itu. Maaf An, aku sakit waktu itu. Jadi nggak bisa datang. Maaf yah An. " Masih bersikap lembut seperti biasa.


" Itu alasan kamu aja kan Mel, kamu hanya tidak ingin melihat aku tunangan sama Ray. " Jadi Ana, berfikiran Emely membohonginya? Walaupun Emely pada dasarnya belum sepenuhnya melupakan Rayhan, tapi Emely sudah iklas Rayhan tunangan sama Ana, sahabatnya. Kalaupun dia tidak sakit waktu itu, dia akan datang ke acara pertunangan mereka, bahkan Emely akan mengucapkan selamat dengan tersenyum bahagia.


"Dia beneran sakit. Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri, dia dirawat dirumah sakit waktu itu. Bahkan malam itu, aku sendiri datang menjenguk Emely ke rumah sakit. " Emely bersyukur, Sisil akhirnya datang.


"Maksud kamu apa Sil, ngomong kayak gitu? " Ana melepaskan lengan Rayhan, menatap tidak suka pada Sisilia. Sedangkan Sisilia hanya mengangkat kedua bahunya, tidak ingin menjelaskan kembali ucapannya. Ana cukup pintarkan untuk menyimpulkan ucapannya barusan.


Disaat yang bersamaan, Ana melihat Davino yang baru keluar toko perhiasan dengan seorang wanita. Namun Davino tidak menyadari keberadaan Emely yang tidak jauh darinya.


" Calon suami yah? Kok calon suami jalannya sama wanita lain? " Ana melipatkan kedua tangannya didada. Berucap sombong sambil menunjuk Davino dengan ekor matanya. Sontak Rayhan, Sisil dan Emely melihat kearah yang ditunjuk Ana. Walaupun Davino tidak terlihat mesra dengan wanita itu, namun dia tetap bersama seorang wanita bukan? Emely ingat wanita itu, pernah sekali ia temui di butik.


Sisil menyenggol lengan Emely yang sepertinya tidak terusik dengan pemandangan didepannya. Kalau Davino benar calon suaminya, sudah pasti Emely akan mengejar pria dan wanita itu. Menjambak wanita yang berjalan didepan Davino saat ini. Tapi siapa Davino baginya? Calon suami itu hanya bualan semata.

__ADS_1


" Kamu bayar berapa sih Mel, supaya cowok sekeren dan setajir dia bisa ngaku jadi calon suami kamu? " Emely masih bergeming. Sedangkan Sisil, ingin rasanya dia menyumbat mulut Ana pake sepatunya. Rayhan memandang Emely dengan tatapan yang tidak bisa dimengerti. Entah mengapa Rayhan tidak suka, melihat pria itu bersama wanita lain dan menyakiti Emely.


"Jangan bilang kamu bayar pake tubuh kamu. " Ana sudah keterlaluan.


"Ana. " Sisil dan Rayhan bersamaan membentak Ana. Karena suara tegas mereka, membuat sebagian pengunjung mall, menatap kearah mereka.


" An, kenapa kamu tega banget sih ngomong kayak gitu. Serendah itu kah aku dimatamu? Kau cukup kenal aku An." Air mata yang coba Emely bendung, akhirnya lolos dari pelupuk matanya. Rayhan mengepalkan tangannya. Kenapa hatinya ikut sakit, melihat Emely menangis.


"Kamu keterlaluan Ana. Kamu tahu sendiri apa yang menimpa Emely. " Sisil berucap tegas. Ana terlihat gugup. dia lupa, Rayhan tidak tahu kalau Emely sebenarnya di perkosa. Yang Rayhan tahu dan dengar waktu itu dirumah sakit, kalau Emely tidur dengan seorang pria. Ana juga pernah bilang pada Rayhan selama Emely di Bar, Emely suka melayani pria hidung belang. Rayhan percaya, karena Rayhan tahu, Ana adalah salah satu orang terdekat Emely waktu itu.


"Lalu jawab kami dengan jujur Mel, Pria itu calon suami kamu atau bukan? " Mengalihkan pembicaraan. Ana sangat yakin, Emely tidak memiliki hubungan yang khusus dengan Davino dan Ana yakin wanita yang bersama Davino tadi adalah pacar sesungguhnya Davino. Karena selevellah sama Davino. Ana juga pernah melihat dia dimajalah dan juga di Tv.


"Dia sebenarnya memang bukan calon suami aku. " Untuk apa Emely menutupi semua itu. Cepat atau lambat Ana dan Sisil pasti tahu kebenarannya. Ana tersenyum puas dengan jawaban Emely. Karena dia bisa membuktikan kepada Sisilia dan Rayhan, kalau Emely berbohong. Sementara Rayhan, pria itu tersenyum mendengar pengakuan Emely. Dia sudah menduga sebelumnya, kalau pria itu bukan calon suami Emely. Sisilia juga terlihat santai mendengar pengakuan Emely.


"Benarkan dugaan aku. Bukannya kamu nggak baik yah Mel, tapi memang nggak mungkinlah pria sekeren dan sepopuler dia bisa jatuh cinta sama kamu. Lagi pula yah Mel, kalau kamu dapatin dia pasti kamu beruntung banget. " Emely menunduk, mendengar ucapan Ana yang memang sedari tadi sudah menyudutkannya.


"Siapa bilang aku tidak jatuh cinta padanya? Aku bahkan tergila - gila padanya. Bukan dia yang beruntung mendapatkan aku, tapi aku yang paling beruntung mendapatkan gadis sebaik dan secantik dia. Andai saja dia memberi kesempatan itu, betapa beruntungnya aku. Sayang dia menolakku. " Jadi Emely menolak pria itu? Sisil dan Ana bahkan tidak percaya. Ini Davino lho, cowok yang diimpikan oleh para gadis untuk bisa dijadikan pahtner diatas ranjang saja sudah sangat beruntung.


Tapi Emely menolaknya?

__ADS_1


Meraih tangan Emely, Davino membawa gadis itu pergi dari sana.


__ADS_2