Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 71


__ADS_3

Emely masuk kedalam kamar ibunya. Rasanya baru kemarin, dia bercerita dengan sang ibu dikamar itu. Mengambil kain yang biasanya dipakai sang ibu, Emely memeluk kain yang masih membengkas bau ibunya disana. "Bu, Emely rindu. " Ucapnya diiringi airmata yang mengalir dipipinya. Malam itu Emely memilih tidur dikamar sang ibu.


Keesokan harinya Emely merapikan kamar sang ibu. Ada beberapa botol obat - obatan rutin yang selalu ibunya minum sebelum tidur. Emely tidak membuangnya, dia memilih menyimpan semua hal yang berhubungan dengan ibunya. Termasuk menyimpan botol - botol obatan yang mungkin tinggal beberapa butir obat yang tersisa didalamnya.


Saat Emely hendak menutup laci dimana dia menyimpan obat - obatan tadi, Emely melihat benda yang berbentuk kotak berwarna keemasan, yang Emely yakin itu adalah milik ibunya. Kotak yang selalu dilihat ibunya diam - diam. Kotak yang seakan disembunyikan ibunya dari sang ayah. Karena setiap sang ayah memergoki ibunya melihat kotak itu, sang ayah selalu memarahi ibunya dan berusaha membuang benda itu.


Emely penasaran dengan apa yang ada didalam kotak itu. Sebuah kalung liontin yang gandulnya berupa kristal berwarna biru tua dan juga ada lipatan kertas. Emely membukanya. Sebuah surat dari ibunya.


" Teruntuk buah hatiku Emely dan Eduar.


Mungkin Emely yang bahkal menemukan surat dari ibu ini. "


Emely mengangguk seakan ada ibunya disitu. Lalu kembali membaca tulisan ibunya itu.

__ADS_1


"Nak, disaat kamu membaca surat ini, itu artinya ibu udah nggak ada disisi kalian. Hei jangan menangis. "


Emely menghapus airmatanya. Ibunya seakan tahu kalau saat ini dia senang menangis.


" Ibu minta maaf karena harus meninggalkan kalian berdua dan maafin ibu karena sudah menjadi beban untuk kalian. Terutama kamu Mel. " Emely menggeleng, dia tidak pernah merasa dibebani sang ibu.


"Ibu sudah menyusahkan kamu. Ibu tidak tahu apa yang terjadi diluar sana. Tapi ibu yakin Emely tidak pernah mengecewakan ibu. " Emely memeluk kertas itu, dia sudah tidak mampu membaca lanjutan surat ibunya itu.


Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan Emely kembali membaca surat ibunya. "Kamu tetap anak gadis kebanggaan ibu."


"Jangan menyalahkan siapapun atas apa yang telah terjadi dengan hidup ibu dan juga hidup kalian. Karena segala sesuatu yang terjadi, semua telah diaturNya. " Emely tahu ibunya sedang mengingatkan mereka untuk menjalani hidup tanpa menyalahkan orang lain. Seperti menyalahkan ayah mereka.


"Jangan membenci ayah. " Itukan, Emely sudah tahu. Tapi kali ini Emely tidak bisa. Pria itu telah sangat melukai hatinya. Bolehkan dia sebagai seorang anak membenci ayahnya sendiri? Emely membolehkan hal itu. Walaupun pada dasarnya semua itu tidak dibenarkan.

__ADS_1


" Mel, tolong jaga kalung itu untuk ibu. Itu satu - satunya benda yang ibu bawah saat ibu meninggalkan keluarga ibu. Kamu bisa memakainya. Karena jika kamu beruntung kamu akan bertemu dengan kakek dan nenek dari pihak ibu dan juga paman. Karena ibu memiliki seorang kakak laki - laki, bernama Elliot Dirgantara. " Emely baru tahu kalau ibunya masih memiliki ibu dan ayah juga seorang kakak laki - laki. Setahu Emely ibunya itu hanya sebatang kara. Karena Emely tidak pernah bertemu dengan keluarga ibunya semenjak dia lahir. Ada apa dengan keluarga ibunya?


Itu artinya ibunya juga menyandang nama belakang keluarga Dirgantara. Yang Emely tahu ibunya hanya memakai nama belakang ayahnya saja.


"Jika bertemu paman Elliot, kamu bisa bertanya tentang rasa penasaran kamu Mel." Ibunya lagi - lagi tahu apa yang dipikirkan anak gadisnya itu.


" Satu hal yang harus kalian tahu, kalian berdua adalah harta yang paling berharga melebihi apapun yang ada didunia ini. Ibu sayang kalian. Peluk cium dari ibu, Elisa Dianingsi Dirgantara. " Baru kali ini ibunya menulis nama belakang keluarganya, sudah tidak memakai nama belakang ayahnya.


Emely mengambil kalung itu, memakainya.


____________


Aku lanjut malam yah.

__ADS_1


Maaf sudah mengabaikan kalian beberapa hari ini.


__ADS_2