
"Tuan silakan sebutkan nama anda "
"Haizel Dirgantara " Ucap pria yang menyunggikan senyum itu.
"Bukankah dia seorang fotografer yang terkenal itu ? ayahnya juga seorang penguasaha dibidang perhotelan dan ibunya seorang pengacara terkenal. " Ucap pria yang mungkin mengenal Haizel.
***
Haizel kemudian mengajak Emely menaiki mobilnya. Emely pun ikut karena Haizel terlihat baik menurutnya.
"Mungkin pria ini bisa menolongku. " Ucap Emely yang duduk disamping Haizel yang mengemudikan mobilnya.
"Tuan kita mau kemana? " Tanya Emely ragu - ragu.
"Hotel. " Ucap Haizel dengan tersenyum.
"Tuan bisakah tuan membebaskan saya. Saya berjanji akan melakukan apa saja untuk mengganti uang yang tuan keluarkan. Saya bisa menjadi pelayan dirumah tuan, asalkan tuan..." Ucapan Emely terpotong karena Haizel mengatakan sesuatu padanya.
"Maaf nona, bukan saya yang membeli nona. Saya hanya disuruh saja. nona bisa mengatakan apa yang nona katakan barusan pada pria yang membeli nona. Dia tidak terlalu jahat kok. Hanya saja dia suka membunuh kalau tidak puas " Ucap Haizel membuat Emely kaget dan ketakutan.
" Membunuh kalau tidak puas? " Emely mengulang kata - kata Haizel dengan pertanyaan. Terlihat ketakutan begitu jelas ketika bibirnya bergetar mengatakannya.
Haha Haizel tertawa "Saya hanya bercanda nona. Tapi sebaiknya nona jangan membuatnya marah. "
"Bicaralah baik - baik dengannya, dia akan membebaskan nona jika nona memohon. " Ucap Haizel tersenyum kearah Emely.
__ADS_1
***
"Itu kamarnya. Ingat jangan membuatnya marah. " Haizel mendorong Emely masuk ke kamar hotel yang terlihat gelap, hanya lampu tidur disisi ranjang yang memberi penerang.
"Tuan saya. " Ucap Emely terpotong ketika lampu tiba - tiba menyalah.
"Kau ... " Melihat pria yang dibencinya membuat Emely hendak membuka pintu dan keluar namun langkah pria itu lebih dulu menarik Tangannya.
"Lepaskan kumohon. " Ucap Emely yang tersudut.
" Aku telah membayarmu sangat mahal. Walaupun kau sudah tidak virgin lagi." Ucapannya membuat Emely sangat kesal.
" Kau yang membuatku kehilangan kesucianku. " Ucapnya menggebu - gebu. Pria yang membelinya adalah Davino. Sewaktu Emely berteriak dan hendak dibawah keruangan pelelangan Davino melihatnya karena pelelangan itu masih satu gedung dengan Sweet Home dimana Davino berada. Kemudian Davino meminta Haizel untuk pergi ke tempat pelelangan. Sedangkan dia hanya memantui lewat sambungan telpon dan mendengar para pria menawar Emely.
" Cepat atau lambat kau pasti akan kehilangan kesucianmu. Entah itu aku yang melakukannya atau orang lain. Buktinya hari ini kau bahkan menunjukkan seberapa murah*nnya dirimu sehingga kau menjual dirimu ditempat pelelangan wanita. " Ucap Davino. Mendengar itu Emely menamparnya sangat keras.
"Kau... " Davino berteriak dan hendak menampar balik, namun entah mengapa hatinya tidak tega melihat Emely mulai menangis.
" Walaupun aku mati sekalipun atau kelaparan sekalipun aku tidak akan menjual tubuhku. Kenapa kau selalu mengatakan aku murahan? Sedangkan kau sendiri yang meniduriku. " Emely masih terisak. Sedangkan Davino hanya duduk dipinggiran ranjang.
"Kalau kau marah karena aku menampar adikmu. Kau bisa menampar aku atau memukulku. " Emely mendekati Davino dan mengangkat tangan Davino kearah pipinya. Karena pikiran Davino sangat kacau, dia bahkan tidak sadar Emely menggunakan tangannya untuk menampar Emely. Hingga satu tamparan keras mengenai pipi Emely.
"Apa yang kau lakukan? " Tanya Davino yang sadar ketika tangannya sudah melayang dipipi Emely.
"Tampar aku lagi. " Teriak Emely kepada Davino.
__ADS_1
"Cukup jangan bersandiwara didepanku." Ucap Davino.
"Aku telah membelimu jadi lakukan tugasmu sebagai wanita yang telah dibeli. " Ucapnya tegas dan mulai menarik Emely ke ranjang.
"Ku mohon jangan lakukan ini padaku. " Ucapnya lirih disaat Davino sudah diatas tubuhnya. Davino merutuki hatinya sendiri. Perasaan tidak teganya muncul kembali disaat dia melihat Emely menangis.
"Shit apa yang terjadi denganku. " Davino bangun dari posisinya.
" Pergilah. Sebelum aku berubah pikiran. " Emely langsung mengambil kesempatan itu dan berlari dari kamar yang ditempati Davino.
"Shit ini sudah sangat malam dan dia terlihat tidak membawa apa - apa. " Davino mengambil kunci mobilnya dan berlari keluar hotel mengejar Emely yang mungkin tidak memiliki ongkos untuk pulang.
***
" Tunggu " Ucap Davino melihat kearah Emely yang mulai berjalan keluar hotel. Setelah melihat Davino, Emely berfikir laki - laki itu berubah pikiran dan mengajaknya kembali itulah sebabnya melihat Davino Emely berlari dengan cepat. Karena tidak bisa mengejar Emely, Davino mengambil mobilnya.
Emely berlari sekuat tenaga sampai tiba - tiba bugg... Emely jatuh karena menabrak dua orang preman yang sementara berjalan.
"Maaf " Emely berdiri dan hendak melanjutkan pelariannya namun preman itu malah menahannya.
"Maaf saja tidak cukup nona. Kami akan membiarkanmu pergi asalkan kau menemani kami minum. Kami bukan orang jahat jangan takut." Pria itu mulai menarik tangan Emely, tercium bau alkohol yang menyengat dari mulut pria itu. Merasa tersudut Emely menggigit tangan pria satunya dan Emely menendang alat vital pria lainnya. Pria itu meringis dan terpaksa melepaskan Emely. Emely kemudian berlari namun preman yang digigitnya langsung mengambil sebuah kayu dan melemparkannya kearah Emely. Emely jatuh tersungkur. Bibir dan dahinya berdarah membentur pembatas jalan.
"Kau wanita sialan. " Pria itu mendekati Emely dan hendak memukul Emely namun sebelum tangan pria itu menyentuh wajah Emely, dia sudah tersungkur jatuh. Emely sebelum kehilangan kesadarannya, dia melihat seorang pria menghajar kedua preman itu.
"Hei bangunlah. Tolong sadarlah. " Ucap pria yang menolong Emely sambil menopang tubuh Emely.
__ADS_1
pria itu pun membopong tubuh Emely, membawanya kedalam mobil dan melaju menuju kerumah sakit.