Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 67


__ADS_3

Sejam lalu ibunya dikebumikan, saat ini Emely berada dikamarnya ditemani Sisilia. Karena belum makan semenjak kemarin, Emely merasa kepalanya pusing dan tubuhnya lemah. Bahkan tadi dia sempat pingsan, ketika jasad ibunya dikebumikan.


"Mel. " Muncul pria yang bahkan dari bandara, langsung menuju rumahnya. Davino masuk kedalam kamarnya dengan nafas yang masih tersengal. Sisil yang melihat kedatangan Davino, langsung meninggalkan kamar itu. Berharap pria itu mampu menghibur dan membujuk Emely untuk makan.


Saat mobil yang membawanya, sampai dihalaman rumah Emely, Davino langsung berlari kedalam rumah Emely, tidak perduli dengan orang - orang yang masih berada dirumah Emely. Termasuk Eduar yang tidak mengerti saat Davino menanyainya dimana Emely berada. Laki - laki itu langsung menerobos masuk ketika Eduar mengatakan bahwa kakak perempuannya itu ada didalam kamar.


"Mel. " Emely yang kalah itu tengah berbaring membelakanginya, menyadari bahwa ini suara Davino.


" Tinggalin aku sendiri Davi. " Ucapnya, tanpa mengubah posisi tubuhnya.


"Aku nggak bahkal ninggalin kamu Mel. Aku kuatir sama kamu. " Davino menyentuh punggung gadis itu, mengusapnya perlahan.


" Kamu harus kuat Mel, Eduar butuh kamu. " Tubuh Emely gemetar, Davino tahu gadis itu tengah menangis. Menangis tanpa isakan.


"Aku juga butuh kamu Mel. " Tambah Davino.

__ADS_1


Gadis itu mengubah posisinya, menatap Davino lekat. Matanya bahkan nyaris sulit terbuka karena sembab. "Aku butuh ibu Davi. " Ucapnya disusul isakan tangisnya yang tidak bisa ia bendung lagi.


"Kenapa ibu ninggalin aku. " Teriaknya dengan suara parau. "Aku bahkan belum bisa membahagiakannya. " Sesalnya. Davino langsung meraih tubuh itu, dipeluknya erat.


" Jangan ngomong seperti itu. Jangan buat ibu kamu, pergi dengan meninggalkan luka dihatimu. Ibu kamu pasti sedih dengar kamu ngomong kayak gini. " Davino kembali mengusap lembut punggung gadis itu. "Punya anak baik dan penyayang kayak kamu sudah menjadi kebahagiaan terbesar untuk ibu kamu. " Emely masih terisak dipelukan Davino.


" Kamu sayang kan sama ibu kamu? " Emely mengangguk. Dia sangat menyayangi ibunya melebihi siapapun didunia ini. "Kalau begitu iklasin ibu kamu pergi. " Mengusap lagi. "Ibu pasti sudah senang disana. Sudah tidak merasakan sakit lagi. " Emely masih menangis namun sudah tidak terisak.


Apa yang dikatakan Davino, ada benarnya. Ibunya sudah tidak merasakan sakit lagi. Sudah tidak ada jarum suntik yang terus masuk menembus kulitnya. Sudah tidak akan merasakan sakitnya saat dikemoterapi dan sesudah dikemoterapi.


"Sekarang kamu makan. " Menggeleng perlahan, Emely tidak berselera sama sekali.


"Makan Mel. " Pinta Davino sambil tetap menyodorkan sendok didepan mulut Emely.


"Ibu belum makan juga semenjak kemarin. " Ucapnya lirih. " Emely pengen makan masakan ibu dan Emely mau makan sama ibu. " Menatap nanar kedepan.

__ADS_1


"Emely, sayang. " Davino meletakan kembali sendok keatas piring. Kali ini, dia genggam tangan Emely. "Ibu kamu pasti juga makan disana Mel. Saat kamu makan, ibu kamu pasti juga makan disana dan kamu tahu Mel, semuanya sudah tersedia disana, dirumah ibu kamu yang baru. Jadi ibu kamu tidak perlu capek - capek buat masak. Semuanya bahkal tersedia disana. " Davino bahkan tidak tahu, kenapa dia dengan sabar membujuk Emely untuk makan.


"Benarkah itu? " Tanya Emely yang berusaha mempercayai ucapan Davino.


"Benar Mel. " Menghapus air mata yang jatuh dipipi gadis itu. "Sekarang kamu makan yah. biar ibu kamu juga bisa makan disana. Kasihan kan, kalau ibu kamu sampe nunggu kamu makan. Kalau ibu kamu lapar gimana? " Seperti seorang anak kecil yang percaya dengan ucapan orang dewasa, Emely mempercayai apa yang diucapkan Davino. Lalu ia mengangguk perlahan.


Davino tersenyum, ia raih kembali makanan yang ada dinampan. Dengan penuh sabar dan perhatian, dia menyuapi Emely. Hingga gadis itu benar - benar menghabiskan makanan yang ada dipiringnya.


Keluar kamar, Davino hendak pulang sebentar ke apartemen untuk membersihkan tubuhnya. Sisilia dan Eduar menghampiri Davino, ketika Davino baru saja mengunci pintu kamar Emely.


"Gimana keadaan kak Emely? " Tanya Eduar. Dia jauh lebih tegar dari Emely. Karena dia sudah berjanji pada ibunya untuk bisa menjaga kakak perempuannya itu.


"Dia sudah tidur. Tadi dia juga sudah menghabiskan makanannya. " Sisil tidak percaya, Davino mampu membujuk sahabatnya itu untuk makan. Sementara dirinya, sudah dari tadi pagi membujuk Emely untuk makan, tapi selalu ditolak Emely.


"Eduar, tolong jaga kakak kamu sebentar. Kak Davi ke apartemen dulu. " Eduar mengangguk, walaupun tidak diminta Davino sekalipun, Eduar tetap akan menjaga kakak perempuannya itu. Tapi apa sebenarnya hubungan kakaknya dengan pria itu? Pria itu begitu perhatian pada kakak perempuannya. Eduar ingin bertanya, namun ini bukan saat yang tepat.

__ADS_1


__ADS_2