
Davino kembali memutar arah, setelah beberapa kali menghubungi Haizel tadi dan mengutuk sahabatnya itu yang tidak mengangkat dan langsung menonaktifkan ponselnya. Davino hendak menunggu Emely di depan jalan dekat rumah Emely. Davino yakin cepat atau lambat Emely akan pulang kerumahnya.
Saat dalam perjalanan Davino mengecek pesan yang dikirimnya pada Emely, Davino melihat dua centang biru yang menjadi pertanda Emely telah membaca pesan darinya. Davino kembali mengecek GPS yang tersambung dengan ponsel Emely.
"Sweet Room? " Davino langsung mengerem mobilnya secara mendadak, ketika melihat titik keberadaan GPS di ponsel Emely. Pikiran buruk menjalar dipikirannya. Menghubungi beberapa anak buahnya yang ada disekitar Sweet Room untuk memastikan keamanan Emely di sana. Davino hanya takut, takut kalau Emely dibawa paksa ke tempat itu. Karena kalau mengingat kejadian buruk di tempat itu, sudah pasti Emely tidak akan pergi ke sana.
Salah satu pelayan yang bekerja di sana memberi kabar kepada Davino, bahwa Emely baik - baik saja dan bersama Haizel di sana.
Pantas saja Haizel tidak menjawab telpon darinya. Ternyata dia yang mengajak Emely ke sana, begitulah kira - kira Davino menebak.
***
Dari jauh Davino bisa melihat keberadaaan Emely dan juga beberapa orang di sana. Termasuk Haizel yang sudah mulai berdiri mendekati Emely.
"Ternyata kamu disini? " Ucap Davino, membuat Haizel memalingkan wajahnya menatap tidak percaya kepada Davino yang walaupun dari kalimatnya terdengar santai, namun Davino tidak bisa menyembunyikan kemarahan dimatanya. Emely juga demikian, kaget langsung berdiri dari duduknya. Secara bersamaan rasa marah dan takut melihat Davino yang berjalan mendekatinya. Ele dan karyawan lain juga kaget melihat Davino, pengusaha muda yang selalu menjadi topik gosip mereka setiap pagi.
__ADS_1
"OMG itu Davino kan?" Baru saja Ele mengatakan itu pada Emely, saat bersamaan Davino datang mendekati Emely.
"Ikut aku. " Davino menarik tangan Emely, yang masih mematung ditempatnya. Emely terlalu kaget dengan kehadiran Davino ditempat itu. Ele menatap Emely dengan bingung. Ada hubungan apa diantara Emely dengan Davino? Pria yang tidak suka meniduri wanita untuk kedua kalinya itu.
"Kamu tidak harus seenaknya menarik karyawan saya. " Arlan yang menyadari keberadaan Davino, langsung ikut berdiri dari duduknya. Arlan tidak tahu ada hubungan apa diantara karyawan perempuannya dengan Davino, pria yang sangat dibenci Arlan sejak lima tahun yang lalu. Siapa yang menyangka sebelum kepulangannya ke Itali Arlan harus bertemu lagi dengan Davino.
Davino melihat Arlan sesaat dan kembali meraih tangan Emely. Emely tidak akan menolak ajakan Davino, dari cara menggenggam tangannya tadi, Emely bisa merasakan bahwa kekasihnya itu sedang menahan amarah.
"Davino Swam,,, Pria kasar, arogan dan tidak punya hati. Ternyata dari dulu kamu tidak pernah berubah. Selalu memaksakan kehendak sendiri. " Mendengar itu Davino menghentikan langkahnya, kembali menatap Arlan, ada kebencian dimata keduanya.
"Adikmu yang selalu memaksaku untuk mencintainya. Tapi sayang aku tidak pernah mencintainya. " Ucap Davino dengan penuh penekanan.
"Davino. " Arlan berteriak keras. Asistennya juga ikut berdiri seperti menghadang Davino. Begitu juga Haizel, yang berusaha menghadang keduanya. Suasana ditempat itu menjadi panas seketika. Para karyawan saling berbisik, Ele juga tidak mengerti apa yang terjadi. Emely tentu lebih bingung, apalagi saat ini kepalanya tiba - tiba mulai berputar. Emely tidak menyangka kalau Davino mengenal Arlan.
" Oh ya, 1 hal lagi. Emely memang karyawanmu ditempat ia bekerja, tapi yang perlu kamu ingat diluar dari itu, dia adalah kekasihku. Yang berhak atas dia adalah aku, kekasihnya. " Ucap Davino dengan percaya diri. Ada penekanan diakhir kalimatnya. Arlan kaget mendengar hal itu.
__ADS_1
Jadi Emely kekasih Davino?
Begitu kira - kira yang terdengar dari mulut para karyawan Arlan. Mereka tidak menyangka, Emely yang terlihat sederhana, bisa punya hubungan asmara dengan Davino Swam.
"Ayo. " Davino langsung menarik tangan Emely.
Haizel ikut mengejar keduanya.
" Davi. " Panggil Haizel.
" Aku akan membuat perhitungan denganmu Haizel. " Sambil tetap berjalan kearah parkiran Davino tidak menghiraukan Haizel yang mengejarnya.
"Sebaiknya kamu siapkan alasan yang tepat Haizel. Karena kalau tidak, kamu akan tahu akibatnya. " Davino berlalu dari tempat itu.
Haizel menendang ke sembarang arah. Kalau saja secepatnya dia mengajak Emely pergi dari tempat itu, mungkin dirinya akan aman sekarang. Secepatnya Haizel menghubungi Alex, Alex harus membantunya mencari alasan yang tepat, kenapa dia bisa bersama Emely disana. Kalaupun dia mengatakan itu hanya kebetulan, kenapa dari tadi dia tidak memberitahu Davino? Bahkan saat Davino menghubunginya, dia malah mengabaikan panggilan telpon dari Davino. Habislah riwayatnya...
__ADS_1