Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 35


__ADS_3

Davino harap - harap cemas menunggu Emely keluar dari rumahnya. Karena setelah dua pesan yang dikirimnya, Emely sama sekali tidak membalasnya. Namun Davino benar - benar yakin Emely akan menemuinya.


Senyumnya mengembang, ketika gadis yang ditunggunya, muncul dari balik pintu rumahnya. Berbeda halnya dengan gadis yang berjalan mendekati mobilnya itu. Tidak ada senyum, tetapi berwajah jutek.


Masuk dalam mobil Davino dalam diam. Kalau saja laki - laki itu tidak mengancamnya, mungkin dia memilih mematikan ponselnya dan menarik selimutnya. Tidur adalah pilihannya.


***


Memilih diam selama perjalanan, sesekali Davino dapat melihat Emely menguap, membuat Davino tidak enak hati. Namun mereka hampir sampai di apartemen milik Davino, tidak mungkin kan Davino langsung mengantar dia balik. Bisa ketahuan kalau pakaian keberuntungan itu, hanya alasannya saja.


Emely bahkan ragu untuk melangkah masuk kedalam apartemen laki - laki itu. Bisa saja Davino berbuat hal yang buruk lagi padanya.


"Masuklah. " Menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Emely masuk mengikuti Davino yang sudah lebih dulu masuk ke apartemennya.


" Tunggu disini aku akan mengambil pakaianku. " Emely hanya mengangguk. Davino kemudian masuk kedalam kamarnya, mengambil keranjang pakaian. "Shit, bi Ani ternyata tadi pagi sudah mencucinya." Hanya sepasang baju kotor disana, itupun baju yang dipakainya saat pulang kerja tadi. Biasanya untuk baju kerja Davino menggunakan jasa laundry. Davino meraih beberapa helai baju kerja bersih di gantungan lemari kamarnya. Membuat kusut baju yang sudah sangat rapi itu dan memasukkannya kedalam keranjang baju kotor.


"Hhmm. " Berdehem ketika mendekati Emely yang masih berdiri disamping sofa.


"Ini, cucilah sekarang. " Menyerahkan keranjang yang dipegangnya kepada Emely.


Emely mengambilnya dan berlalu meninggalkan Davino.


***


" Apa tubuhnya tidak keringatan." Menyadari bahwa pakaian Davino masih wangi. "Tapi sudahlah dia memang wangi. " Emely menutup mulutnya, tanpa sengaja dia memuji laki - laki itu.


"Bisa kegeeran dia kalau dengarnya. " Berguman pelan sambil menuangkan sabun cair kedalam mesin cuci.


"Dengar apa? " Emely memegang dadanya karena terkejut. Laki - laki itu sudah berdiri diambang pintu kamar mandi. Emely tidak tahu sudah berapa lama laki - laki itu berdiri disitu.


"Dengar apa? kau diam - diam ternyata suka membicarakan aku ya. Mengutuk aku ya? " Emely diam, tidak mengubris pertanyaan laki - laki itu.


"Kalau ada sesuatu yang ingin kau katakan padaku, katakan langsung. Jangan membicarakan aku dengan mesin itu." Menunjuk mesin cuci yang ada disamping Emely. Sementara Emely dia hanya diam saja.


"Kenapa masih berdiri disitu? " Emely bergumam pelan, namun siapa sangkah laki - laki itu bisa mendengarnya. Dia memang masih memiliki pendengaran yang bagus.


"Aku ingin memastikan kau mencuci bajuku dengan bersih. "Emely memutar matanya malas. Lagian tanpa dicuci pakaian laki - laki itu tidak kotor sama sekali. Emely tidak tahu saja kalau itu memang baju bersih.


Butuh 30 menit untuk Emely menyelesaikan pekerjaannya, tangannya dingin karena tengah malam harus memegang air. Laki - laki itu bahkan menunggunya hingga selesai mencuci.


Disaat Emely mengangkat keranjang pakaian itu, hendak membawanya ke tempat biasanya Bi Ani menggantung baju, Davino langsung mengambilnya dari tangannya.

__ADS_1


"Biar aku saja. " Ucapnya sambil berjalan mendahului Emely. Bahkan dia sendiri yang menggantungnya.


Sudah selesai dengan acara gantung baju. Emely hendak pamit untuk pulang. Karena pekerjaannya sudah selesai.


"Biar aku antar. " Ucap Davino mulai mengambil kunci mobil.


"Tidak apa - apa, aku bisa pulang sendiri. " Tolak Emely. Namun disaat Emely berjalan, tiba - tiba Davino meringis sambil memegang perutnya. Emely berbalik, walaupun Davino pernah sangat jahat padanya namun kini laki - laki itu adalah majikannya. Emely tidak ingin sesuatu yang buruk terjadi padanya.


"Kamu kenapa? " Tanyanya namun masih menjaga jarak.


"Perutku sakit, aku belum makan sedari tadi. " Alasannya lagi kan, padahal dia baru makan malam dirumahnya.


"Biasanya Bi Ani yang masak, tapi karena Bi Ani sudah tidak pernah datang kesini lagi, jadi nggak ada yang masakin aku. " Emely merasa bersalah, karena memang sudah seharusnya dia yang memasak, menggantikan Bi Ani. Tapi karena dia pikir laki - laki seperti Davino tidak pernah makan di apartemennya, makanya Emely tidak menyiapkan makanan. Kalau tahu laki - laki itu kelaparan seperti ini, sudah dia masakin tadi.


" Istirahatlah disini, aku akan menyiapkan makan malam. " Emely pergi kedapur, setelah tadi Davino sudah tiduran di sofa, sambil memegang perutnya yang tidak sakit sebenarnya. Davino melirik kearah Emely yang sudah memasuki dapur, Davino tersenyum penuh kemenangan.


Sementara Emely sibuk membuat makanan di dapur, diam - diam laki - laki itu pergi keluar membeli sesuatu tepatnya.


***


Syukur Davino kembali, Emely masih sibuk didapur. Davino kembali tiduran di sofa, menunggu Emely selesai dengan masakannya.


Emely membawa nampan berisi sup daging dan juga semangkuk nasi. Tidak lupa segelas teh hangat.


"Kau bisa makan sendiri kan? " Sepertinya dia salah bertanya, yang sakitkan perutnya bukan tangannya. Jadi bisalah laki - laki itu makan sendiri.


"Kepalaku tiba - tiba pusing, bisa tolong suapin. " Kali ini laki - laki itu menggunakan kata tolong. Bukan Emely namanya jika tidak menolong orang lain, termasuk menolong laki - laki yang sudah menodainya itu. Entahlah dia yang terlalu polos atau laki - laki itu yang terlalu pintar bersandiwara.


Emely dengan tekun menyuapi laki - laki itu. Sesekali Davino meringis. "Ini panas sekali, kau tidak ikhlas yah. " Emely menyuapinya tanpa meniupnya terlebih dulu, tapi Emely yakin itu sudah dingin karena Emely sedikit memberi jarak untuk menyuapinya. Walaupun Emely kesal karena laki - laki itu masih saja banyak maunya, tapi Emely tetap meniup sup itu merasainya dibibir kalau - kalau sup itu sudah dingin dan kemudian menyuapinya.


Katanya sakit, tapi orang sakit bisa menghabiskan semangkuk nasi dan juga semangkuk sup. Siapa lagi kalau bukan Davino orangnya. Entah karena masakan Emely yang memang enak atau karena ingin disuapi Emely membuat Davino menghabiskan semua makanannya.


"Kamu punya selera makan yang bagus disaat sakit. " Sindir Emely sambil menaruh mangkok tadi kedalam nampan.


"Aku kan tidak makan dari tadi, wajarlah jika kuhabiskan. " Pintar juga dia beralasan. Emely membawa nampan itu kedapur, membersihkannya dan kembali keruang tengah dimana ada Davino yang sudah duduk disana.


"Aku akan pulang sekarang. " Ucap Emely mulai meraih tas kecil miliknya. Namun Davino menariknya, untuk duduk disampingnya. "Kamu mau apa? " Emely mendadak panik sendiri. Laki - laki ini tidak akan melakukan hal yang buruk padanya kan? Emely mulai berdiri namun Davino menahannya.


"Tunggu sebentar. " Davino mengambil sesuatu dari kantong plastik.


"Berikan tanganmu. " Emely masih enggan menyodorkan tangannya. Tidak mengerti apa yang akan dilakukan laki - laki itu padanya.

__ADS_1


Karena Emely masih tidak memberikan tangannya membuat Davino yang berinisiatif mengambil tangan Emely. Ternyata laki - laki itu menaruh minyak angin ditangan Emely, mengosoknya dengan lembut kepunggung tangan dan telapak tangan Emely. Emely terkejut dengan perlakuan Davino padanya. Sampai ia menyadarkan dirinya, bahwa laki - laki yang ada disampingnya ini adalah iblis yang kapan saja bisa menyakitinya.


"Aku bisa sendiri. " Emely menarik tangannya. Dia tidak akan terbuai dengan perlakuan lembut laki - laki itu.


"Aku hanya tidak ingin kamu masuk angin terus sakit." Emely sedikit tersentuh tapi tidak untuk berapa saat. " Nanti kalau kamu sakit siapa yang bakal bersihin apartemen aku. " Tambah Davino membuat Emely ingin sekali mengutuk laki - laki itu.


" Aku pulang. " Emely berdiri setelah meletakkan minyak angin itu diatas meja. "Aku akan mengantarmu. " Davino ikut berdiri.


"Tidak usah. Aku bisa sendiri. " Sudah melangkah menuju pintu.


"Apa kau sekeras kepala itu? " Suara Davino, menghentikan langkah Emely. "Bagaimana kalau diluar sana ada preman seperti waktu itu, siapa yang akan nolongin kamu. " Suaranya bahkan sudah meninggi.


" Kalau kamu lebih jahat dari preman diluar sana, siapa yang akan nolongin aku? " Davino diam. Tidak ada pembelaan diri. Karena ucapan Emely barusan memang benar. Dia memang jahat dan brengsek.


" Kenapa kamu tidak menjawab aku. Apa kata - kataku benar? " Emely bahkan bergetar mengatakannya.


"Kau benar. Aku memang jahat, aku memang brengsek. Aku memang tidak lebih baik dari orang jahat diluar sana. Aku minta maaf. " Emely bahkan tidak percaya, laki - laki itu mengakui kesalahannya.


"Aku tidak akan memaafkanmu. " Emely berusaha menahan airmata yang hanya sekali kedip saja sudah akan membanjiri pipinya.


"Aku tidak meminta kau memaafkan aku karena aku tidak pantas mendapatkannya. " Ucap Davino lirih. Apakah Emely harus percaya bahwa laki - laki itu tulus mengatakannya? Emely tidak akan percaya mengingat bagaimana dulu Davino memperlakukannya.


" Aku pulang. " Emely membuka pintu. Turun ke bassment apartemen. Dia berjalan menyusuri malam, beberapa meter lagi halte bis. Dia bisa pulang naik bis.


Belum sampai dihalte bis, sebuah mobil menghadangnya.


"Naik. " Ucap laki - laki dibalik kemudi.


"Emely naik. " Baru kali ini Emely mendengar laki - laki itu menyebut namanya.


"Apa kau mau aku gendong sampai kedalam mobil? " Sudah akan turun dari mobil. Namun cepat - cepat Emely naik kedalam mobilnya.


B E R S A M B U N G


Emely Valery Huzein


Setiap orang berhak untuk membenci.


dan setiap orang berhak mencintai.


_____________________

__ADS_1


Jangan lupa dukungannya. Tinggalkan jejak, vote dan rate.


__ADS_2