
Selama Emely bekerja, pria itu seperti bayangan. Kadang dia kedapur hanya sekedar mengambil air, dikala Emely sibuk membuat sarapan didapur. Pura - pura menonton tv diruang tengah, jika Emely membersihkan ruang tengah.
"Kalau sakit itu tidur dikamar. " Gerutu Emely, sengaja supaya didengar Davino.
" Emangnya kenapa? Biasanya aku sakit juga tiduran di sofa. " Emely malas berdebat dengan pria menyebalkan itu. Fokus bekerja, agar pekerjaannya cepat selesai.
***
Haizel yang kalah itu menemani ibunya kontrol rutin dirumah sakit milik Alex, menyempatkan diri menemui sahabatnya itu.
"Bawa nyokap lagi? " Ucap Alex sambil memberikan sebotol air mineral kepada Haizel yang sudah duduk di sofa panjang ruangan Alex.
"hhmm."
" Woi men, kamu tahu nggak kalau gunung es yang disambar kapal Titanic, udah mencair. " Haizel mengeryit bingung dengan ucapan Alex barusan. Dia bahkan belum mendengar kabar apapun hari ini.
"Kamu tahu kenapa dia mencair? Karena ada matahari men. " Alex ini kalimatnya selalu tidak bisa ditebak.
"Kau ngomong apaan sih men? Nggak usah deh pake filosopi kayak githu. " Alex tertawa.
"Ini tuh perumpamaan men. Bukan filosopi. " Ah bodoh amatlah menurut Haizel dia tidak perduli. Dia suka langsung ke intinya saja.
" Davi jatuh cinta men. " Haizel yang baru meneguk minumannya, langsung menyembur keluar minuman itu.
"Woi men, bisa banjir ruangan aku. " Protes Alex pada sahabatnya itu.
"Sorry, aku nggak sengaja. Kaget aku dengarnya. Ini kau serius men? Ah tapi nggak mungkinlah Davino jatuh cinta. Aku lebih percaya hujan bakalan datang dimusim kemarau. Dari pada percaya dia jatuh cinta. " Yah ampun, segitu tidak percaya Haizel, kalau Davino beneran jatuh cinta. Hujan juga memang sering datang dimusim kemarau kan?
"Ini aku serius. Dia benar udah jatuh cinta men. Aku bisa pastikan itu. " Kali ini mungkin Haizel akan mencoba percaya kata - kata Alex.
"Emang dia dekat dengan gadis mana? " Haizel bertanya penasaran. Alex yang tadinya antusias tiba - tiba menunduk.
__ADS_1
"Dia jatuh cinta sama bidadariku. " Ucap Alex lirih. Sumpah, Haizel terkejut sekaligus ingin tertawa.
"Bidadarimu sih Emely, Emely itu? " Tanya Haizel, langsung diangguki Alex.
"Kok bisa? " Tanya Haizel heran. " Jangan - jangan waktu malam itu, dia cabut duluan dia pengen ketemu gadis itu. " Alex mendesah mendengar pertanyaan dan penuturan Haizel.
"Kamu ingat waktu aku pernah cerita Davi meniduri seorang gadis secara paksa? " Alex bertanya dan diangguki Haizel. Dia ingat semua hal tentang Davino, apalagi diluar kebiasaan Davino seperti itu. Sesuatu yang langkah seperti itu selalu terpatri dalam diingatan Alex maupun Haizel.
"Gadis yang dinodainya itu adalah Emely. " Ingin rasanya Haizel tertawa mengingat ucapan Alex padanya. "Aku bukan seperti kamu yang menyukai bekasnya Davino. "
Kena karma kan sih Alex, dia juga menyukai dan jatuh cinta pada Emely yang juga bekasnya Davino.
"Ah aku jadi penasaran sama Emely, Emely ini. " Haizel meneguk kembali minumannya.
" Kau bisa menemuinya, dia sekarang ada di apartemen Davino jam segini. " Ucapan Alex barusan kembali membuat Haizel menyemburkan air yang diminumnya keluar.
"Shit, kau benar - benar sengaja membuat ruanganku banjir yah men. " Alex sudah berdiri, memandang kesal pada sahabatnya yang masih memukul - mukul dadanya yang terasa panas.
"Bisa nggak, kamu nggak ngomong hal sepenting ini, disaat aku sedang minum. Jadi gini kan? " Haizel malah protes balik. Mereka sedikit berdebat, lalu melanjutkan cerita tadi.
"Kamu nggak sibukkan? " Tanyanya pada Alex.
" Aku free hari ini. Tapi nyokap kamu gimana? " Kali ini Alex yang bertanya.
"Gampang, aku telpon bokap buat jemput nyokap. " Setelah itu mereka benar - benad pergi ke apartemen Davino.
***
Waktu menunjukkan jam tiga sore, Emely bersiap - siap untuk pulang.
" Aku pulang dulu. Kerjaan aku udah selesai. " Ucap Emely pada laki - laki yang masih dengan santainya menonton tv tanpa memperdulikan Emely yang pamitan padanya.
__ADS_1
"Aku pamit. " Terserahlah dia mendengar atau tidak. Setidaknya Emely sudah pamitan padanya. Emely berjalan kearah pintu, namun suara Davino menghentikan langkahnya.
"Kamu nggak punya sopan santun yah, kok main pergi gitu aja, kayak maling. " Sumpah Emely ingin meneriaki nama salah satu hewan didepan wajah laki - laki itu. Dia bahkan sudah dua kali pamitan pada laki - laki yang terlihat tanpa dosa itu.
"Aku pamit tuan Davino Swam. " Emely mengucapkannya dengan lantang. Berjalan lagi mendekati pintu, Davino tiba - tiba sudah ada dibelakangnya menahan pergelangan tangannya.
" Aku akan mengantarmu. " Ucap Davino tanpa melepaskan pergelangan tangan Emely.
"Lepas. " Emely menepis tangan kekar itu.
"Aku bisa pulang sendiri. " Hampir mendekati pintu.
"Aku membenci penolakan Emely. " Ucap Davino dari balik punggung Emely.
"Dan aku membenci pemaksaan dan lebih besar dari semua itu aku lebih membencimu. " Disaat Emely mengatakan itu, entah mengapa dada Davino terasa sesak. Ada yang menghimpit disana.
"Hati - hati cinta dan benci itu kadang berjalan seiringan. Karena mereka sejenis, hanya penyampaian Caranya yang berbeda. " Apa coba maksud kata - katanya. "Apakah dia baru saja memperingati aku."
"Aku tidak akan merubah benci itu jadi cinta. Karena aku tidak akan sudi mencintai pria brengsek seperti kamu. " Entah dari mana Emely memiliki keberanian mengatakan hal yang akan menyulut kemarahan laki - laki yang sudah mengempalkan tangannya itu. Atau Emely terlalu percaya diri mengatakan hal itu, mungkin saja laki - laki itu juga tidak sudi mencintai gadis seperti dirinya. Tapi kenapa Davino terlihat tidak suka dengan ucapan Emely barusan.
"Emely. " Teriak Davino membuat Emely takut.
"Kau terlalu percaya diri yah, kau tenang saja. Aku itu tidak akan kekurangan satu wanita pun dan aku bisa mendapatkan jauh diatas kamu. Emang apa yang kau miliki sehingga kau terlalu percaya diri mengatakan hal itu? Kau punya apa? Kesucian? " Airmata Emely jatuh begitu saja. Benar kata pria itu, apa yang dia banggakan? Dia tidak memiliki apa - apa sekarang. Dia hanya gadis miskin yang ditinggalkan ayahnya.
Oh sungguh Davino tidak bermaksud mengatakan itu. Dia sedang kesal dan marah. Kata - kata itu keluar saja dari mulutnya. Emely mungkin akan semakin membencinya dan mungkin tanpa sengaja Davino membunuh kepercayaan gadis itu.
" Maaf. " Ucap Davino lirih, dia tidak ingin melihat Emely menangis.
" Anda tidak perlu minta maaf tuan. Semua yang anda katakan itu benar. Saya yang permisi dulu. " Ucap Emely dengan lirih.
Disaat Emely membuka pintu, nampak Haizel dan Alex didepan pintu.
__ADS_1
"Kau? " Ucap Haizel saat melihat Emely. Kali ini Alex yang bingung, apakah Haizel juga mengenal Emely?
Tidak mengubris pertanyaan Haizel, Emely memilih pergi meninggalkan apartemen Davino.