Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 61


__ADS_3

Suara ketukan didepan pintu rumah Emely, terdengar nyaring dipagi itu. Entah siapa yang bertamu sepagi itu. Emely membuka pintu itu tanpa lebih dulu melihat siapa tamu yang datang kerumahnya sepagi itu.


Menutup pintu itu dengan cepat, setelah tahu siapa yang bertamu kerumahnya. Namun sayang, ketiga pria yang waktu itu dihajar Davino, mampu menahan daun pintu yang hendak ditutupnya itu. Membuka lebar pintu itu.


Emely bergidik geli, takut - takut Rentenir dan kedua anak buahnya akan membalas dendam padanya. Karena gara - gara dirinya mereka sampai berakhir dirumah sakit.


Elisa ibunya baru saja keluar dari dalam kamarnya, terkejut melihat tamu yang saat ini menghampiri putrinya. Elisa mendekati Emely dan memeluknya. Takut - takut, kalau pria - pria itu akan menyakiti putrinya.


"Tuan, maafkan saya. Saya berjanji akan segera membayar uang yang saya pinjam. " Mengatupkan kedua tangannya, Emely hanya bisa memohon.


Membelalak, Emely dan ibunya terkejut melihat ketiga orang itu berlutut dihadapan Emely.


"Bos, maafkan kami. Kami tidak akan melakukan kesalahan kami lagi. " Bos? Emely bahkan bukan hanya dibuat terkejut dengan kedatangan mereka, tapi juga terkejut mendengar panggilan mereka barusan. Sejak kapan dirinya menjadi bos mereka? Apa mereka sudah tidak waras?


" Ini sertifikat rumah bos dan soal hutang bos, tidak perlu dipikirkan karena bos besar sudah membayarnya dua kali lipat. " Menyerahkan map coklat. Ragu - ragu Emely mengambilnya. Emely juga belum percaya dengan Rentenir itu. Bisa saja map itu isinya kosong dan mereka hanya mempermainkan Emely. Namun siapa bos besar yang mereka maksud?


Lalu yang Emely lakukan saat itu adalah membuka map itu dan melihat isi didalamnya. Emely menutup mulutnya tidak percaya. Didalam map itu benar ada sertifikat rumah yang Emely berikan sebagai jaminan pada Rentenir itu. Tapi kenapa Rentenir itu mengembalikannya pada Emely? Siapa bos besar yang mereka maksud? Yang telah membayarkan uang yang ia pinjam?


" Kenapa kalian melakukan ini, ayo berdirilah. " Namun ketiganya masih bergeming.

__ADS_1


"Bos, katakan dulu bos memaafkan kami. Barulah kami akan berdiri. " Entahlah mereka kerasukan jin apa. Yang Emely lakukan hanya menuruti kata mereka, yaitu memaafkan.


" Terima kasih bos. " Sudah berdiri.


"Kalau begitu kami permisi dulu bos. " Emely hanya mengangguk. Emely dan ibunya saling memandang ketika ketiga pria itu mulai meninggalkan halaman rumah mereka.


" Mereka kenapa sih Mel? " Tanya ibunya yang juga terlihat bingung dengan perubahan sikap mereka.


" Nggak tahu bu. Emely juga bingung. " Emely kemudian mengunci kembali pintu rumah mereka dan mengajak sang ibu kedalam.


***


" Good job. Aku akan mentransfer bayaran kalian. " Ketiganya terdengar senang. Bekerja sama dengan pria itu, membuat mereka untung banyak.


"Oh yah satu hal lagi, kalian harus menjaga dan mengawasinya. Jika aku bersama dia maka kalian boleh meninggalkannya. Karena sudah pasti dia aman denganku. " Ucap pria itu sambil menyerahkan dokumen tadi kepada sang asisten.


"Baik bos. "


"Usahakan jangan sampai dia tahu kalian mengawasinya."

__ADS_1


"Baik bos. " Setelah itu sambungan telpon pun diakhiri.


***


" Pembangunan ressort dipulau Bali akan dimulai besok dan Bapak diminta menghadiri peletakan batu pertama pada esok hari. " Ucap asisten pribadi yang bernama Rony. Walaupun umurnya sudah 40 tahun, namun dia merupakan karyawan yang sangat kompeten dan tidak pernah terlambat datang ke kantor. Davino bahkan sudah melarangnya untuk memanggil bapak karena perbedaan umurnya diatas Davino, namun pria yang sudah dikarunia dua orang anak itu, selalu menolak. Alasannya karena Davino adalah atasannya. Yang harus dia hormati dan layani.


"Aku bahkan hampir lupa. " Padahal dia tidak ingin sehari saja jauh dari Emely. Namun karena pekerjaan, Davino terpaksa harus meninggalkan Emely selama dua hari.


_______


Maaf yah, penyakit malasku kambuh lagi. Terlambatkan bikin next chapternya. hadehh


Bukan malas ngetik yah, tapi malas berfikir dan malas berhayal. hahaha


Sungguh pikiranku buntuh dan sepertinya aku butuh liburan. hahaha Kalian juga kan? Udah pada bosan stay home kan? 😂😂😂😂


Oke liburanku cukup mandi ke pantai saja, tidak jauh dari rumahku. Kalau aku liburan ke Bali bisa - bisa aku ketemu Davino disana. Aku takut aja, Davino nggak bakal ingat sama Emely kalau udah ketemu aku. 😤 Emely kan tidak bisa berbuat apa - apa kalau Davino kutahan di Bali. 😃😃


Oke readers semoga kalian selalu mendukung novel ini. Doakan juga agar Covid 19 cepat berlalu.

__ADS_1


__ADS_2