Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 32


__ADS_3

"Besok aku tunggu jam 7 pagi. Jangan terlambat. "


"Tunggu. kau tahukan dimana apartemenku? "


Emely merasa geram dengan dua pesan yang diterimanya malam itu. Siapa lagi pengirimnya kalau bukan laki - laki iblis berwajah malaikat itu.


"Aku tidak akan bekerja padamu. " Gerakan jarinya bahkan ikut kesal ketika membalas pesan dari nomor tanpa nama itu.


" Ok, baiklah." Jawaban singkat yang membuat Emely merasa lega. Laki - laki itu tidak akan memaksanya bukan?


" Jika kau tidak ingin bekerja denganku. Biar aku yang kerja padamu. Mau di rumahmu atau di apartemenku? " Apa sih maksud nih orang, Emely bahkan tidak mengerti.


"Maksud kamu apa? " Tanyanya. Sudah merasa tidak enak. Pesan itu seperti ancaman baginya


" Aku akan bekerja di ranjang untukmu. " Deg, kalau saja Emely memiliki riwayat penyakit jantung kronis, mungkin saat ini dia telah dilarikan ke rumah sakit.


"Mau di kamarmu? Atau di apartemen aku? " Ya Tuhan, kenapa sih bisa ada orang segila ini. Kenapa takdir harus mempertemukan Emely dengan pria itu.


"Sialan. " Umpat Emely sambil membanting ponselnya ke ranjang. Apa Emely harus mengatakan kalau dia hanya mengancamnya? Emely sudah mulai hafal karakter laki - laki itu, ucapannya adalah ya.


"Apakah mulai malam ini aku bekerja? " Satu pesan yang semakin membuat Emely gugup sendiri.


" Tidak perlu. Aku akan datang besok jam 7." Lagi - lagi Emely harus mengalah.


" Anak pintar. Walaupun aku suka kau menolak untuk kerja padaku " Apa coba, Jadi yang dia mau, dia yang akan bekerja untuk Emely. Emely rasanya ingin mengucapkan sumpah serapah didepan laki - laki itu.

__ADS_1


***


Ragu - ragu Emely menekan bel apartemen milik pria yang ingin dihindarinya itu. Tapi entah kenapa takdir sepertinya selalu mengikatnya dengan laki - laki itu.


Pintu terbuka dan seorang wanita mempersilakan Emely masuk. Emely ingat, wanita itu adalah Bi Ani yang memberikan dia pakaian dan menyediakan sarapan atas perintah Davino. Saat pertama kali Davino membawanya secara paksa ke apartemen itu.


"Tuan Davi sudah menunggu nona." Ucapnya dengan lembut.


"Dia sudah memiliki pelayan, kenapa masih mencari pelayan lagi. "


"Tuan, tamunya sudah datang. " Ucap bi Ani kepada pria yang sudah terlihat rapi dengan baju kerjanya.


"Terima kasih bi. Sekarang bibi bisa kembali ke rumah dan mulai sekarang bibi tidak usah datang ke apartemen. Bibi fokus saja sama pekerjaan di rumah. Dia akan menggantikan bibi. " Bahkan dia mengatakannya sangat lembut. Dasar serigala berbulu domba.


"Baik tuan. Kalau begitu bibi permisi. " Mulai melangkah keluar. Namun berbalik lagi karena ada pesan dari ayah Davino yang lupa dikatakan bi Ani pada tuan mudanya.


Davino seperti malas menanggapinya. Namun dia hanya mengangkat tangannya, memberi isyarat untuk bi Ani pergi.


" Duduklah. " Ucapnya kemudian. Emely pun ragu - ragu duduk disalah satu sofa tidak jauh dari tempat duduk Davino.


"Mulailah bekerja hari ini. Gajimu 5 juta perbulan. " Emely membulatkan matanya, baginya gaji yang diberikan Davino cukup besar, sangat besar untuk ukuran sebagai asisten rumah tangga. Apa orang kaya semuanya memang seperti itu, membayar gaji seorang asisten rumah tangga saja bisa menghabiskan uang sebanyak itu.


"Apa ada yang ingin kau sampaikan atau tanyakan? " Tanya Davino. Karena sedari tadi Emely hanya diam saja.


" Apa aku juga harus membersihkan kamarmu? " Entah mengapa dia bisa bertanya hal konyol seperti itu. Padahal seorang asisten rumah tangga kan, memang harus mengerjakan semua pekerjaan rumah. Kamar majikan pun tidak terkecuali.

__ADS_1


"Itu yang nomor satu. Karena itu tempat istirahat aku. Maka itu harus selalu bersih. " Davino bahkan bisa mendengarkan tarikan nafas kasar dari Emely. Mungkin Emely masih trauma dengan kamar yang sekali - kali diliriknya itu.


"Ada lagi yang ingin kau tanyakan? " Emely menggeleng.


"Baiklah mulailah bekerja, Bersihkan kamarku terlebih dulu. " Emely masih bergeming.


" Apa kau tidak pergi bekerja? " Tanya Emely ragu - ragu. Sumpah, Emely tidak akan masuk ke kamar laki - laki itu, jika laki - laki itu masih di apartemen. Bisa saja disaat dia didalam kamar, laki - laki itu akan masuk dan... Emely bahkan gemetar membayangkannya.


" Apakah kau mulai tertarik padaku? sehingga kau mulai perduli aku pergi bekerja atau tidak." Laki - laki ini bukan hanya brengsek tapi terlalu percaya diri. Emely hanya bisa memutar bola matanya malas, dia mungkin akan muntah sabun bubuk mendengar ucapan laki - laki itu.


"Aku tidak perduli. " Jawabnya sungut.


"Kalau kau tidak perduli, mulailah bekerja. " Emely pun beranjak dari duduknya. Ragu - ragu dia menghampiri kamar yang letaknya tidak jauh dari ruang tengah apartemen itu. Bahkan tangannya bergetar ketika mulai membuka handle pintu. Semua gerak - geriknya diperhatikan Davino.


"Aku tidak bisa. " Gumamnya. Entah mengapa air matanya ikut jatuh. Emely masih mematung didepan pintu kamar yang sudah sedikit terbuka itu. Bahkan terlihat sekali tubuhnya bergetar, tangannya bahkan keringat dingin.


" Aku takut kau melakukan hal buruk di kamarku. " Emely terkejut mendengar suara Davino yang sudah ada disampingnya, menutup pintu kamarnya.


"Kau tidak perlu membersihkan kamarku. Mulailah bekerja sesuka hatimu. Aku pergi dulu. " Davino pun pergi keluar apartemen, Emely bisa melihatnya.


***


"Kenapa dia menangis? Apakah dia masih mengingat kejadian itu? " Davino frustasi sendiri. Davino masih berada di bassment apartemennya, duduk menyadarkan tubuhnya di jok mobil.


Alasannya saja waktu dia mengatakan Emely akan melakukan hal buruk di kamarnya, dia tahu Emely belum bisa melupakan kejadian dimana dia dengan kasarnya menodai Emely. Bahkan bukan hanya sekali dia meniduri Emely dikamar itu. Wajarlah Emely masih trauma. Dia tahu gadis itu ketakutan tadi, makanya dia memilih pergi.

__ADS_1


" Aku tidak mengerti, mengapa aku harus menjaga perasaannya. Ada apa denganku? Aku tidak mungkin... " Davino memukul setir mobilnya. Selama dia meniduri wanita, tidak terselip sedikitpun rasa yang sangat dihindarinya itu. Karena ketika dia memberikan hatinya untuk seorang gadis, maka akan sulit membunuh rasa itu. Seperti saat ini, sulit untuk tidak perduli pada gadis yang bernama Emely. Davino bahkan selalu mencari cara untuk mendekatkan Emely padanya. Davino bahkan tidak pernah lagi menyentuh wanita lain. Bukan karena dia tidak mau, tapi memang tidak bisa. Tubuhnya seperti menolak wanita lain. Dia mungkin harus memeriksakan dirinya ke dokter.


Seorang Davino yang digilai banyak wanita, akhirnya mulai menggilai satu wanita yang tidak tergila - gila padanya.


__ADS_2