Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 99


__ADS_3

Bukan Davino namanya kalau tidak menepati kata - katanya. Jam 8 malam pria itu sudah menunggu Emely di Lobby Restoran. Dia juga sudah mengirim pesan pada Emely bahwa dirinya sudah menunggu semenjak 15 menit yang lalu di Lobby Restoran.


Karena ramainya pengunjung Emely tidak enak hati untuk meninggalkan teman - temannya yang terlihat sangat kewalahan menghandle pesanan tamu. Itulah sebabnya jam pulang yang biasa nya dia berganti shift jam 7 malam sekarang sudah lewat satu jam.


Merasa bosan di dalam mobil dan tak kunjung melihat sosok kekasihnya, Davino memilih turun dan masuk dalam Restoran.


" Mel. " Ele yang melihat kedatangan Davino langsung memberi kode pada Emely untuk melihat ke arah pintu masuk Restoran.


" Emely " Salah satu karyawan lain juga mendekati Emely.


"Lihat siapa yang datang." Menunjuk dengan ekor matanya kepada pria yang baru saja masuk dan berjalan ke arah Emely.


"Bukan kah dia Tuan Davino. " Sepertinya suara itu dari beberapa orang yang ada di meja no 2.


" Iya, itu memang dia. " Sepertinya mereka juga mengenal pria yang datang dengan setelan Hoodie hitam di padukan dengan bawahan jeans hitam dengan jam mewah melingkar di tangannya.

__ADS_1


" Jangan ke sini. " Emely berdoa dalam hati agar Davino tidak langsung menemuinya.


Bisakah pria itu menunggunya di dalam mobil saja.


Namun sepertinya Tuhan tidak menjawab doanya.


Davino datang tepat di hadapannya.


Menghembuskan nafas kasarnya melihat penampilan wanitanya yang terlihat lusuh dan berkeringat.


" Aku datang menjemputmu. Bisakah kamu selesaikan pekerjaan mu secepatnya. " Kali ini Davino mencoba merapikan rambut Emely, menyelipkan beberapa helai ke belakang telinga. Sepertinya pria itu baru mematahkan gosip yang katanya seorang Davino tidak pernah serius dengan seorang wanita. Dari caranya memperlakukan Emely begitu lembut dan tulus.


"Jam kerjanya sudah selesai, kamu bisa membawanya Tuan Davino. " Kali ini Ele yang angkat suara. Sudah sejak tadi Ele menyuruh Emely pulang, namun Emely yang berinisiatif membantu mereka sampai tamu Restoran berkurang.


"Benarkah itu? " Tanya Davino pada Ele, namun tatapannya tetap menatap Emely.

__ADS_1


"Iya benar. " Jawab Ele dengan tersenyum. Tersenyum melihat Emely yang memelototinya.


" Ayo sayang. " Davino langsung meraih tangan Emely hendak membawanya pulang.


"Aku ganti baju dan ambil tas dulu. " Emely menunjuk kearah jalan menuju kamar ganti karyawan.


" Baiklah aku tunggu di sini. " Emely mengiyakan. Setelah itu dia secepatnya berjalan ke ruang ganti dan secepat mungkin mengganti pakaiannya. Entah apa yang ada di pikiran nya saat ini.


Saat keluar dari ruang ganti, dapat Emely lihat Davino sedang berdiri di posisinya tadi. Pria itu tersenyum melihat Emely yang saat ini tengah berjalan mendekatinya.


"Ayo. " Langsung meraih tangan Emely, menyatukan jemarinya dengan jemari Emely.


"El, aku duluan yah. " Emely berpamitan dengan Ele dan juga karyawan lain yang saat itu sedang menunggu pesanan yang akan mereka antarkan kepada tamu.


Ele mengiyakan sambil menggoda Emely. Sementara Davino pria itu mulai berjalan ke arah pintu Restoran. Tatapannya lurus badannya tegak, terlihat sekali kalau pria itu sangat berwibawa walau hanya mengenakan outfit santai.

__ADS_1


__ADS_2