
Walaupun matanya masih sangat mengantuk, namun Davino harus menghadiri pertemuan penting di kampus milik keluarganya. Pertemuan itu berlangsung hampir dua jam. Dia tidak fokus sama sekali, matanya seakan tidak bisa diajak kompromi lagi. Yang dia lakukan adalah menyetujui apa saja yang disarankan oleh pihak kampus agar urusannya cepat selesai dan dia bisa segera kembali ke apartemen untuk mengistirahatkan tubuhnya yang tidak terlelap sejak semalam. Urusan perusahaan pun hari ini diserahkan kepada sekertarisnya.
Setelah pertemuan itu, Davino bergegas meninggalkan ruangan dimana pertemuan itu diadakan.
Davino menyusuri halaman kampus, dimana sebagian mahasiswa sedang duduk disana. Menunggu jam kuliah lanjutan tepatnya.
"OMG calon suami masa depanku. "
"Dia Davino Swam kan? "
"Jangan terpikat oleh pesonanya, menurut rumor yang beredar, dia tidak memiliki hati. "
"Benar, dia bahkan tidak akan meniduri wanita yang sama untuk kedua kalinya. "
"Tapi dia benar - benar tampan. "
" Love you oppa. "
Sederet kalimat yang diucapkan sekelompok gadis yang melihat kearah Davino. Ada yang mengaguminya, ada juga yang takut berurusan dengannya dan ada yang membencinya. Yang membencinya adalah beberapa gadis yang pernah tidur dengannya, namun tidak bisa memilikinya untuk kedua kalinya.
Sebelum mendekati mobilnya dihalaman parkir kampus, Davino berhenti sejenak. Sepertinya dia sedang berusaha meyakinkan diri, kalau yang dilihatnya adalah adik gadis itu. Tapi sepertinya dia salah mengenali, tidak mungkin pria itu kuliah di kampus ternama di kota ini. Yang biaya semesternya, bisa dua sampai tiga kali lipat dari kampus lainnya.
Davino kembali melangkah kearah mobilnya, namun dia menghentikan langkahnya ketika salah seorang mahasiswa memanggil nama pria tadi.
"Eduar. Kamu dipanggil Pak Jimmy. "
Ternyata Davino tidak salah orang. Itu benar - benar pria yang pernah kenalan dengannya dirumah sakit.
__ADS_1
" Ada apa yah Ger? " Tanya Eduar yang tidak mengerti kenapa dia dipanggil oleh pak Jimmy selaku bagian pengurusan beasiswa mahasiswa. Gery hanya mengangkat kedua bahunya tidak tahu juga mengapa Eduar dipanggil. Pesan yang disampaikan pak Jimmy padanya, hanya memanggil mahasiswa yang bernama Eduar Qian Huzein.
Dengan ragu - ragu Eduar melangkah menuju ruangan dimana pak Jimmy sedang menunggunya. Hanya butuh 15 menit untuk Eduar didalam sana. Ia keluar dengan wajah murung, bahkan dia langsung pulang dari kampus.
Davino yang tadinya ingin cepat pulang ke apartemen, mengurungkan niatnya. Dia menuju ruangan dimana Eduar tadi dipanggil. Kali ini penasarannya sudah terjawab, mengapa Eduar bisa kuliah di kampus miliknya. Karena Eduar mendapat beasiswa. Tapi kenapa wajahnya tadi sangat murung? Davino harus mencari tahu sendiri.
"Eh pak Davino, silakan duduk pak. " Ucap pak Jimmy yang sebelumnya menunduk memberi hormat pada pria yang berjalan kearah sofa yang ada diruangan itu. Pak Jimmy juga heran mengapa Davino masuk keruangannya. Setahunya pria itu sangat sibuk, untuk bisa datang ke kampus ini saja harus beberapa kali membuat janji dengannya.
"Ada yang bisa saya bantu pak Davino? "
" Kenapa mahasiswa tadi dipanggil keruangan ini? " Tanya Davino langsung pada intinya.
Sejenak pak Jimmy berpikir.. "Oh itu mahasiswa yang mendapatkan beasiswa berprestasi dari kampus ini. Tapi beasiswanya di cabut. " Davino mengerutkan alisnya, mencoba meminta penjelasan lebih.
" Minggu kemarin dia beberapa kali absen dan orangtua mahasiswa lainnya pernah melihat dia bekerja di club malam. Jadi mereka mengusulkan hal itu pada petinggi dikampus ini. Kata mereka jangan sampai anak mereka ketularan hal buruk dan mereka juga mengancam akan mengeluarkan anak - anak mereka jika Eduar tidak dikeluarkan dari kampus ini. Karena pihak kampus tidak ingin mengeluarkannya secara terbuka, jadi pihak kampus mengambil kebijakan dengan terpaksa menghentikan beasiswanya. " Davino tersenyum menyerigai, pak Jimmy tahu betul karakter pria ini. Walaupun dia tersenyum tapi sorot matanya berkata lain.
" Kau mau kuangkat jadi pimpinan tertinggi di kampus ini? " Pak Jimmy terlihat bingung. Pasalnya dia sudah bertahun tahun kerja disini dan dia belum juga mendapat promosi jabatan lebih tinggi dari jabatannya sekarang. Tapi untuk bermimpi jadi pemimpin tertinggi dikampus ini, dia belum berani memimpikannya.
"Aku mau kau mengangkat pak..." Bertanya nama lengkap dengan sorot matanya, pada pria yang masih terlalu terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Jimmy Basuki Purnomo." Ucap pria itu dengan terbata - bata.
" Pak Jimmy Basuki Purnomo menjadi pimpinan tertinggi di kampus XX. " Bahkan pak Jimmy dengan susah payah menelan salivanya. Setelah mengatakan hal itu, Davino menutup sambungan telponnya.
" Selamat." Ucapnya sembari menyodorkan tangannya pada pak Jimmy yang dengan ragu - ragu membalas uluran tangan pria yang dengan santainya mengambil keputusan besar itu.
"Sekarang karena kau petinggi di kampus ini, segala keputusan apapun itu kau harus menanyakan langsung padaku. Tidak perlu membuat pertemuan, kau bisa menghubungiku secara pribadi. " Pak Jimmy hanya mengangguk menyetujui.
__ADS_1
" Orangtua yang mengancam mengeluarkan anak - anaknya dari kampus ini, segera keluarkan anak - anak mereka. Aku tidak ingin kampusku menampung mahasiswa yang memiliki orang tua yang suka mengatur pihak kampus dan suka mengancam tidak jelas. " Dia tidak sadar bahkan dia juga seorang pengancam yang tidak jelas.
"Satu lagi, Segera hubungi mahasiswa tadi dan katakan padanya bahwa dia mendapat beasiswa kurang mampu plus mahasiswa berprestasi. Katakan itu peraturan baru dari petinggi kampus yang baru. " Pak Jimmy menduga - duga apa hubungan Davino dengan Eduar. Setahu pak Jimmy, Davino dikenal dengan manusia yang tidak perduli dengan orang lain. Kecuali keluarga dan sahabatnya.
Setelah urusannya diruangan itu telah selesai, Davino mulai berlalu meninggalkan pak Jimmy yang masih tidak percaya dengan rejeki nomplok yang ia dapatkan hari ini. Namun disaat dia membuka handle pintu, ia berbalik mengatakan sesuatu.
"Oh yak pak Jimmy, Mahasiswa itu, sebenarnya dia tidak pergi bekerja di club malam. Hanya saja saya yang mengajaknya. Dia calon adik ipar saya, jadi usahakan jangan menyusahkan dia. Saya bisa marah loh! " Setelah mengatakan itu, Davino pergi. Dia benar - benar butuh tidur sekarang. Sedangkan pak Jimmy, sudah mendapat jawaban dari rasa penasarannya tentang hubungan Davino dan Eduar.
***
"Eduar kok udah pulang dek jam segini? " Tanya Emely yang hendak bersiap -siap mencari pekerjaan baru. Ibunya susah bisa dia tinggalkan dirumah. Jadi dia berencana mencari pekerjaan tetap bukan lagi part time.
"Aku dikeluarkan kak. " Ucap Eduar lirih. Emely menatapnya tidak percaya.
"Kenapa bisa? Emang kamu bikin kasus apa di kampus? " Emely menatap adiknya dengan marah.
" Beasiswa aku dicabut kak, itu sama saja mereka mengeluarkan aku kan? " Emely melihat kesedihan dimata adiknya. Emely banyak berharap pada adiknya, setidaknya antara mereka harus ada yang sukses. Dengan menyandang gelas sarjana bisa mendapat pekerjaan lebih baik, pikirnya.
"Kok bisa Eduar? " Tanyanya lagi.
"Eduar nggak tahu kak. Eduar tiba - tiba dipanggil dan diberitahu hal itu. " Sebenarnya Eduar berbohong, dia takut kakaknya akan kembali marah dan mendiaminya. Pasalnya kata pak Jimmy Eduar ketahuan bekerja di club malam.
"Apa pihak kampus tidak memberitahu kamu alasannya? " Eduar menggeleng.
"Tidak mungkin Eduar, setiap ada asap itu pasti karena ada apinya. Beasiswa kamu dicabut juga pasti ada alasannya." Emely curiga ada sesuatu yang ditutupi adiknya.
"Kamu nggak bohongin kakak kan? " Eduar lagi - lagi menggeleng.
__ADS_1
"Yah sudah mungkin ini belum rejeki kita. Kamu makan sana. Kak Emely pergi dulu. " Setelah mengatakan itu, Emely berlalu meninggalkan adiknya.
---------