Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 100


__ADS_3

Saat ini kau adalah milikku. Mungkin besok tidak lagi sama.


#Davino_Swam


Sepertinya kalimat mengantar pulang tadi harus di rubah. Karena Davino tidak mengantar Emely pulang ke rumahnya. Mampir di sebuah butik, laki - laki itu turun dari dalam mobil, ia menyuruh Emely menunggunya di dalam mobil.


Mengambil pesanan itu yang dia katakan pada Emely. Emely mengiyakan dan menunggu Davino di dalam mobil. Sambil menunggu pria itu, Emely lebih memilih membuka sosial media. Terakhir dia menggunakan akun pribadinya itu dua hari yang lalu. Emely melihat postingan Davino 12 jam yang lalu, dengan caption


" Vallery My Angel. " Emely tersenyum membacanya. Ada ribuan jejak komentar di sana. Pasalnya Davino, pria itu bukanlah seseorang yang suka mengumbar kemesraan di sosial media.


Penasaran dengan komentar - komentar itu, Emely lantas membukanya.


" Vallery itu mungkin ibunya. "


" Sad "


" Siapa wanita itu? "


Ada berbagai macam komentar di sana. Ada juga yang mengatakan kalau akun pria itu hanya lah akun fake dan bukan asli milik Davino. Hanya orang - orang tertentu mencoba mencari keuntungan pribadi dengan menggunakan nama pengusaha muda itu. Tapi Emely yakin itu adalah akun milik Davino, karena Davino sendiri yang memfollow Emely dan juga pria itu sendiri yang memfollow balik dari ponsel Emely.


Bagaimana Davino tahu nama belakangnya? Itu bukan lagi menjadi hal baru bagi Emely, karena Emely sadar Davino tetaplah seorang Davino. Laki - laki itu akan sangat mudah mendapatkan informasi yang dia butuhkan.

__ADS_1


" Apa kamu bahagia melihat apa yang aku posting? " Emely bahkan tidak menyadari kedatangan Davino. Laki - laki itu memergoki Emely yang sedang membaca komentar - komentar di akun miliknya.


Jadi salah tingkah Emely langsung menekan tombol power di ponselnya. Sehingga membuat ponselnya mengunci seketika.


" Sampai senyum - senyum sendiri. " Davino sudah masuk kedalam mobil, duduk kembali di kursi kemudi. Dia senang menggoda Emely.


" Aku tidak tersenyum. " Membela diri pun percuma, karena Davino tetap saja menggodanya. Sampai mereka tiba di apartemen pria itu.


Protes karena sudah lengket dengan tubuhnya, namun Emely tetap mengikuti langkah kaki Davino yang tetap menautkan jemari keduanya. Sementara tangan Davino yang satunya lagi menjinjing dua Paper bag berwarna hitam dengan label sebuah huruf berwarna Silver yang tercetak tebal di depan Paper bag.


***


Setelah sampai di apartemen Davino menyuruh Emely untuk membersihkan tubuhnya dan memberikan kepada Emely, Paper bag yang dibawanya tadi.


Gaun berwarna hitam tak berlengan dan sepatu berwarna senada menjadi pilihan Davino saat menyusuri butik yang di kunjungi tadi siang dan baru mengambilnya saat menjemput Emely tadi.


Kulit putihnya terlihat menonjol ketika memakai gaun hitam itu, Emely hanya menguncir rambutnya dan mengenakan lipstik berwarna nude yang biasa dia bawa dalam tasnya.


" Kita mau kemana? " Tanya nya kepada Davino yang juga sudah berganti pakaian.


" Makan malam. Mommy mengajak kita makan malam bersama. Mommy ingin bertemu kamu Mel. " Seketika Emely mematung di tempatnya. Emely belum siap dengan momen ini.

__ADS_1


" Aku belum siap ketemu orang tuamu Davi. " Emely hanya takut mendapat penolakan dari keluarga Davino. Termasuk penolakan dari wanita yang melahirkan pacarnya itu.


" Kapan kamu siap nya Mel? Mommy hanya pengen makan malam bersama kita. Pengen kenal kamu lebih dalam lagi. " Bagi Davino ini adalah salah satu cara mendekatkan Emely dengan keluarganya. Mulai dari Ibu nya kemudian ayah nya. Ibunya bisa jadi jembatan untuk hubungan Davino dan Emely pada sang ayah.


"Tapi aku takut Davi. " Emely jujur mengatakan ini karena memang Emely takut, takut dirinya akan mengecewakan ibu Davino dan tentu saja, juga mengecewakan Davino.


Mendekati Emely, Davino kemudian menatap mata kekasihnya itu.


"Apa yang kamu takutkan Mel? Aku akan selalu ada untukmu. Aku akan ada di sana bersamamu. " Kali ini Davino menggenggam tangan Emely, meyakinkan Emely bahwa semuanya akan baik - baik saja selama ada dirinya bersama Emely. Melihat ketulusan di wajah Davino membuat Emely memilih mempercayai pria itu. Dengan membuang nafas kasarnya, Emely mengiyakan. Cepat atau lambat dia pasti akan bertemu orang tua Davino.


***


Bukan Restoran mewah atau Hotel berbintang yang menjadi tempat pertemuan Davino, Emely dan juga Magdalena ibunya melainkan kediaman keluarga Swam. Jika ibunya mengundang makan malam di rumah, itu artinya sang ayah tidak ada di tempat.


Emely tidak berani turun dari dalam mobil Davino saat mereka sudah sampai di Parkiran rumah pria itu.


"Ayo sayang. " Davino sudah membuka kan pintu mobil yang ada Emely di sana.


Emely menggeleng kan kepala, nyali nya kembali menciut saat melihat pemandangan di depannya. Emely pikir istana itu hanya ada di dunia dongeng, nyatanya saat ini dia bisa melihat istana secara langsung. Rumah kediaman keluarga Swam dari jarak beberapa meter sudah terlihat betapa megahnya bangunan itu. Halamannya luas, jarak penjaga pagar dengan rumah itu berkisar 100 sampai 200 meter.


Emely merasa dirinya tidak akan pernah pantas untuk mendampingi Davino.

__ADS_1


__ADS_2