Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 41


__ADS_3

Didalam mobil Davino masih mengingat kejadian tadi. Kok bisa - bisanya dia mau saja disuruh membeli pembalut wanita.


"Kamu itu yah Mel, masa kamu nggak tahu jadwal kamu datang bulan? " Sudah bertanya seperti mereka akrab saja.


"Yah maaf, kadang kan nggak sesuai tanggal biasanya." Jawab Emely tanpa menatap Davino. Sebenarnya Emely juga malu dengan kejadian tadi. Bisa - bisanya dia minta tolong Davino membelikan dan membawakan pembalut untuknya di toilet. Namun kalau bukan Davino Emely akan meminta tolong siapa lagi.


Davino hendak menggoda Emely.


"Kok masih bisa yah Mel kamu datang bulan? " Emely yang mendengarnya langsung menatap kearah Davino yang juga menatapnya.


"Maksud kamu? " Emely memang tidak mengerti pertanyaan Davino barusan. Jadi dia memilih bertanya.


"Yah, kamu ingat kan Mel waktu itu aku tidak menggunakan pengaman. Jadi setahu aku sudah ada benih - benih aku didalam rahim kamu. " Kenapa sih Davino mengingatkan hal yang bahkan ingin sekali Emely lupakan. Lihat saja mimik wajah Emely langsung berubah.


Emely memalingkan wajahnya kearah jendela mobil. Niat Davino yang hanya menggoda Emely jadi bomerang untuknya.


"Maaf Mel, aku hanya bercanda. " Tidak seharusnya Davino mengatakan hal yang menyakiti hati Emely atau membuat wanita itu mengingat perlakuan kasar Davino padanya dulu. Lagi pula walaupun kadang ketus, Emely sudah mulai bisa berbicara selayaknya pada Davino. Namun sekarang mungkin Emely akan kembali bersikap dingin seperti dulu. Lihat saja, Emely bahkan tidak menoleh lagi.


Sampai di apartemen, Emely tetap diam saja. Sesekali Davino mengajaknya bicara namun wanita itu hanya sekedar menganguk dan menggeleng saja sebagai jawaban.


"Mel, kamu masih marah yah?" Davino yang saat itu membantuh memasukan bahan makanan dan juga beberapa minuman kedalam kulkas, lagi - lagi mengajak gadis itu berbicara.


"Aku tidak mau membahas hal itu. " Jawab Emely tanpa menatap lawan bicaranya itu.


" Baiklah. Aku tidak akan membahas apapun lagi. " Barang terakhir Davino letakan didalam lemari es itu.


"Oh yah Mel, hari ini kamu masak apa? " Mengalihkan pembicaraan. Agar suasananya tidak canggung seperti pertama kali Emely datang ke apartemennya.


"Kamu mau makan apa? " Akhirnya gadis itu menanggapi pertanyaan Davino, walaupun dia balik bertanya. Sejenak berpikir dan menatap Emely yang sedang menunggu jawabannya, akhirnya Davino bersuara.


"Apa aja, yang penting jangan campurin racun didalamnya. "


"Kalau aku bahkal taruh racun karena membencimu, kamu juga nggak bahkal tau. " Emely kembali mengeluarkan beberapa bahan makanan yang dibutuhkannya untuk ia masak.


"Aku bahkal tahu Mel." Jawab Davino sambil menyandarkan tubuhnya disisi meja.

__ADS_1


"Tau dari mana? " Tantang Emely.


" Kan tadi kamu yang bilang. " Laki - laki itu terlihat santai menanggapi semua ucapan Emely.


Saat Davino hendak beranjak dari dapur itu, ia kembali membalikan tubuhnya menatap Emely. "Aku tetap bakalan makan, apapun yang kamu masak Mel. Sekalipun makanan itu kau taruh racun. Karena jujur masakanmu enak. " Setelah mengatakan itu, Davino berlalu meninggalkan Emely yang sudah mulai sibuk dengan bumbu - bumbu yang perlu dia siapkan. Walaupun tidak terlalu menanggapi ucapan Davino barusan, entah mengapa bibirnya sedikit tertarik membentuk senyuman.


Semua bumbu sudah siap, tinggal Emely mengolahnya. Davino bahkan sudah tidak muncul lagi di dapur itu. Emely ingat Davino bilang, setelah mengantar Emely ke apartemen laki - laki itu akan kembali ke kantor. Jadi mungkin saja dia sudah pergi ke kantor.


Emely yang hendak memasak kembali mematikan kompor. Ponselnya berdering dan tertera nama ibunya disana. Emely langsung mengangkatnya takut - takut terjadi sesuatu dengan ibunya. Toh ibunya masih belum sembuh. Sedangkan Eduar tadi juga pergi ke kampus untuk mengambil kartu hasil studinya. Jadi ibunya sendiri di rumah.


"Hallo nak..." Benar firasat Emely terjadi sesuatu dengan ibunya itu. Emely bahkan bisa mendengar kalau ibunya itu sedang menahan tangis. Emely tambah kuatir mendengar suara pria yang sedang memarahi ibunya ditambah suara pecahan barang yang terdengar berdenting dilantai rumahnya.


"Ibu...ibu ada apa? " Tanyanya mulai kuatir.


"Pria ini ingin kita keluar dari rumah ini. Katanya sertifikat rumah ini sudah kamu gadaikan nak. " Emely langsung berlari meraih sling beg miliknya yang dia taruh diatas sofa. Dia tahu siapa pria yang dimaksud ibunya itu.


"Ibu tenang yah, Emely segera pulang. " Menutup panggilan itu dan berlari kearah pintu.


"Kamu mau kemana? " Muncul Davino dari dalam kamarnya. Rupanya pria itu belum pergi ke kantor.


***


Berlari kearah rumahnya, ketika Emely melihat ada dua mobil yang terparkir disana.


"Ibu... ibu." Teriaknya yang masuk kedalam rumah karena pintu rumahnya sudah terbuka lebar. Bahkan pecahan pot bunga didepan rumahnya berserahkan dimana - mana. Bukan itu yang dikuatirkan, tapi lebih kepada kesehatan sang ibu.


Beberapa vas bunga yang ada didalam rumahnya juga hancur. Sekarang Emely bisa melihat keberadaan ibunya, Ibunya sedang bersimpuh dibawah kaki pria yang Emely kenal adalah rentenir itu. Sepertinya ibunya sedang memohon agar pria itu menyuruh kedua orangnya yang bertubuh besar itu untuk berhenti memecahkan barang dirumah mereka.


"Ibu. " Emely menuntun ibunya untuk berdiri.


"Ini dia yang minjam uang ke saya. " Ucap pria itu berdiri menatap Emely.


"Bukankah saya sudah membayar bunganya. Toh perjanjiannya kalau saya belum bisa bayar lunas, saya bisa membayar bunganya tiap bulan. " Pria itu memandang Emely dan tersenyum. Perjanjian mereka memang seperti itu.


"Maaf nona, perjanjiannya berubah. Saya mau uang yang dipinjam, dikembalikan sekarang juga. " Ucap pria itu menyerigai. Bersyukur kedua pria lainnya sudah berhenti memecahkan barang - barang dirumah mereka. Emang apa yang perlu mereka pecahkan lagi, toh barang dirumah Emely juga tidak banyak dan itu semuanya sudah hancur berserahkan dilantai.

__ADS_1


"Bapak tidak boleh dong, merubah perjanjian secara sepihak. Apalagi perjanjian yang sudah disepakati oleh kedua pihak." Emely masih mencoba berbicara baik - baik dengan pria itu.


"Saya yang bikin aturan, saya juga bisa mengubahnya nona. " Jawab pria itu diikuti tawa kedua pria bertubuh besar tadi.


" Tapi setidaknya beri kami waktu. Kami pasti akan membayar uang yang kami pinjam tapi tidak sekarang. Beri waktu kami sebulan lagi. " Pintanya. Sejenak pria itu berpikir dan memandang Emely dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Baiklah saya akan memberi kalian waktu, tapi dengan satu syarat." Emely menarik nafas lega, pria itu akan memberi mereka waktu, biarlah kalau syaratnya dia akan menambah jumlah bunganya. Asal kali ini dia bisa menyelamatkan rumahnya terlebih dulu.


"Apa syaratnya pak? " Tanya Emely tanpa curiga apa pun.


"Kamu temani saya malam ini. " Ucap pria itu dengan senyum yang membuat tubuh Emely merinding. Mendengar ucapan pria itu barusan membuat ibu Elisa langsung memeluk putrinya sambil menggeleng perlahan.


" Aku tidak bisa pak. Bapak bisa menambah bunganya, aku akan membayarnya. " Ucap Emely mulai takut.


"Sayangnya hanya itu syarat yang bisa saya tawari untuk kalian. Jika tidak, silakan tinggalkan rumah ini saat ini juga.Karena saya bukan orang yang sabar untuk menunggu. " Melipat tangan didadanya. Pria itu yakin Emely akan menuruti keinginannya, toh mereka tidak punya pilihan lain.


Emely kali ini bersimpuh dibawah kaki pria itu, mengatupkan kedua tangannya. Dia memohon, meminta sedikit saja belas kasih pria itu.


"Pak tolong jangan lakukan ini pada keluarga kami. Hanya rumah ini yang kami punya. " Bahkan dia sudah mulai menangis, sebenarnya tidak apa - apa baginya untuk hidup dijalanan. Tapi bagaimana dengan ibunya? Ibunya masih sakit, Eduar masih kuliah. Emely memikirkan ibu dan adiknya itu. Kalau tidak ada mereka. Mungkin dia akan memilih pergi saja dari rumah itu.


"Tolong pak. " Emely menunduk, ibunya bahkan tidak tega melihat putrinya. Uang yang dipinjam Emely pasti demi mengobatinya.


"Berdiri. " Teriak pria dari ujung pintu. Pria itu kemudian mendekati Emely yang masih bersimpuh dan menunduk.


"Berdiri aku bilang. " Ucapnya tegas. Dia menarik tangan Emely untuk berdiri. Dia menatap pria yang ada dihadapannya dengan sorot mata yang menakutkan.


Kembali melihat kearah Emely yang masih menunduk.


"Kau harus ingat satu hal didalam hidupmu. Kau hanya boleh menunduk kepada tiga hal saja." Kembali menatap pria didepannya


"Kepada Tuhanmu. "


"Kepada ibumu. "


"Dan terakhir kepada suamimu. "

__ADS_1


Emely langsung mengangkat kepalanya, menatap lurus kepada pria yang ada disampingnya itu.


__ADS_2