
"Mel, ayah akan membatalkan gugatan cerai untuk ibu kamu. " Menyentuh lengan Emely, namun gadis itu menepisnya. "Tidak perlu ayah. Semua itu tidak perlu lagi. " Ucapnya lirih.
"Tapi kenapa Mel? Apa kamu tidak ingin ayah bersatu lagi dengan ibumu? " Emely tertawa dalam tangisannya. "Ayah tanya kenapa? Apa ayah tidak pernah sadar, betapa ayah sudah sangat menyakiti hati ibu. Ayah memilih pergi dengan wanita itu, disaat ibu membutuhkan ayah. " Davino mengusap punggung gadis itu. Sedangkan sang ayah, hanya menunduk. Mungkin mulai menyadari kesalahannya. "Bahkan karena mencari ayah, aku nyaris terjual dan ditiduri oleh lelaki setua ayah. "
Sang ayah kembali mengangkat kepalanya, menatap anak gadisnya.
"Mel, maafin ayah. " Ucapnya sembari menggenggam tangan anaknya.
"Ayah tau, sampai hari ini Emely selalu memaafkan ayah. Karena ibu yang melarang Emely dan Eduar untuk membenci ayah. Bahkan suara terakhir ibu yang Emely dengar adalah saat ibu mengatakan, " menjeda ucapannya. Menatap lekat sang ayah.
"Jangan membenci ayah. " Teriaknya didepan ayahnya.
" Mel, maafin ayah. Ayah akan memperbaiki semua kesalahan ayah. Ayah akan minta maaf sama ibu kamu. " Belum menyadari ucapan Emely tentang ibunya.
"Itu semua tidak perlu. Ibu sudah tidak butuh ayah lagi. Ibu juga tidak butuh maaf dari ayah lagi. Ayah tahu kenapa? " Menepis tangan ayahnya. "Karena ibu udah meninggal. " Ucap gadis itu lirih. Ayah Emely tertunduk lemas.
"Itu tidak mungkin Mel. " Ucapnya penuh sesal.
" Ayah yang menyebabkan ibu meninggal. " Emely memukul dada ayahnya. "Ayah yang membunuh ibuku. " Tangisnya penuh sesal. Sedangkan ayahnya membiarkan Emely memukulnya.
"Emely tidak akan memaafkan ayah. Tidak akan pernah. " Ucapnya dalam isakan tangisnya. Ayahnya memeluk Emely, namun gadis itu mendorong tubuh ayahnya.
" Benda yang dibuang biasanya membusuk ayah.
Selain mendatangi pemakamanmu, sejauh itu hubungan kita. Mulai hari ini, Aku bukan lagi anakmu. " Ayahnya menggeleng.
"Kita pulang Davi. " Davino mengikuti langkah gadis yang sudah memasuki mobilnya itu. Ayahnya berusaha mengejar, namun Emely sudah menutup pintu dan kaca jendela mobil. Davino belum menyalahkan mesin mobilnya. Dia masih memberi waktu untuk ayah dan anak gadisnya itu.
"Mel, tolong maafin ayah. " Ucap ayahnya, berusaha mengedor jendela mobil. Emely menatap lurus kedepan. Tidak perduli lagi dengan ucapan ayahnya. "Kita pulang Davi. " Ucapnya lagi dan diiyakan pria itu. Davino menyalahkan mesin mobilnya, meninggalkan ayah Emely yang masih mengejar mobil mereka. Hingga Emely tidak lagi mendengar teriakan ayahnya.
Sepanjang perjalanan, Davino menggenggam tangan Emely, memberi dukungan pada gadis yang sudah tidak menangis itu. Davino tahu Emely berusaha menahan tangisnya didepannya.
Memarkirkan mobilnya didepan salah satu taman kecil yang hampir jarang didatangi orang - orang. Davino turun dari dalam mobil, membuka pintu mobil penumpang. "Ayo. " Meraih tangan Emely. Emely masih bergeming. Tidak mengerti mengapa Davino membawanya kesini. "Ayo, atau mau aku gendong. " Ucapnya lagi ketika Emely tak kunjung turun dari dalam mobil. Mendengar ucapan Davino, Emely lebih memilih turun dari dalam mobil.
__ADS_1
"Untuk apa kita kesini? " Tanya Emely pada pria itu. Tidak menjawab, Davino menarik pergelangan tangan gadis itu, Membawanya ke tengah taman. "Kamu tunggu disini sebentar. " Menyuruh Emely duduk dikursi taman. Davino pergi meninggalkan Emely.
Beberapa saat, Davino datang dengan seikat balon ditangannya. Sampai didepan Emely, pria itu menyerahkan semua balon itu pada Emely.
" Aku bukan anak kecil, yang bisa kamu bujuk dengan balon. " Emely tahu, Davino sedang berusaha menghiburnya.
" Emang siapa yang bilang kamu anak kecil. Kalau kamu anak kecil, nggak mungkin aku nidurin anak kecil. " Davino berucap cuek. Emely memelas. Davino tersenyum.
" Ada yang kurang. " Ucap Davino kemudian kembali kedalam mobilnya. Mencari benda yang dibutuhkannya. Kembali ketika yang dibutuhkannya sudah ditemukan.
"Ini. " Davino menyerahkan sebuah botol bekas air mineral, kertas dan juga sebuah alat tulis.
"Untuk apa? " Emely bertanya bingung.
"Sini balonnya. Aku pegang dulu. " Ucap Davino, mulai mengambil balon dari tangan Emely. "Sekarang kamu tulis surat buat ibu kamu didalam kertas itu. " Menunjuk kertas yang dipegang Emely. "Setelahnya kamu masukan dalam botol itu. " Menunjuk botol yang tadi dia bawa. "Jika sudah selesai, kita bisa menerbangkannya bersama balon ini. " Emely mengerti sekarang.
"Aku kesana dulu, biar kamu enak nulis suratnya. Jika sudah selesai, kamu bisa panggil aku. " Emely mengangguk dan Davino meninggalkan Emely di kursi taman itu. Dia menunggu Emely dan berjalan kearah samping taman.
Ibu, Emely rindu.
Maafin Emely juga karena mungkin Emely akan membenci ayah.
Emely belum sempat mengucapkan terima kasih yang tulus untuk ibu, selama ibu hidup.
Bu, terima kasih sudah susah payah melahirkan Emely dan Eduar.
Terima kasih karena sudah menjadi koki hebat, untuk memasak makanan Emely dan Eduar semenjak kita kecil hingga dewasa ini. Terima kasih telah menjadi perawat yang handal, saat Emely dan Eduar sakit.
Terima kasih karena tidak pernah tidur, saat Emely dan Eduar cengeng saat sakit.
Terima kasih karena sudah menjadi alarm yang selalu bangunin Emely dan Eduar untuk sekolah.
Terima kasih selalu nyiapin semua keperluan keluarga kita.
__ADS_1
Terima kasih ibu.
Banyak pekerjaan yang bisa ibu lakukan, namun ibu tidak pernah mengeluh dan tidak pernah minta untuk dibayar.
Aku dan Eduar akan selalu cinta ibu.
Menghapus airmatanya, Emely menggulung kertas itu dan memasukannya dalam botol. Davino mendekatinya, tanpa Emely panggil. Karena Davino mengawasi gadis itu dari kejauhan. Jadi dia tahu, jika Emely sudah selesai dengan suratnya.
"Sekarang kita ikat disini. " Mengikat botol tadi diujung tali balon. Setelah terikat mereka menerbangkan balon itu. Mereka melihat balon itu ditiup angin keudara dan menghilang entah kemana.
" Apa surat itu bisa sampai ke ibu? " Tanya Emely, sembari menatap langit.
" Apa yang sudah kamu tulis, ibu kamu pasti tahu. " Ucap Davino penuh keyakinan.
"Sekarang jangan sedih lagi yah. Aku akan selalu ada untukmu. " Davino merangkul gadis itu. Sungguh Emely mulai nyaman berada disisi Davino. Davino selalu bisa membuatnya tenang.
"Makasih Davi. " Ucapnya tulus. Davino tersenyum, mengiyakan.
Melepaskan pelukannya, Emely menatap benda yang dipegang Davino.
"Itu apa? " Tanya Emely pada Davino.
"Oh ini tadi aku beli disana. Kata penjualnya ini gelembung balon. " Jawab Davino.
"Ini buat kamu. " Davino menyerahkan benda yang berisi air berwarna biru itu pada Emely. Emely mengambilnya dan mulai meniup benda yang menghasilkan balon - balon tipis nan bening itu. Emely terlihat antuis menyentuh balon yang pecah diujung jarinya.
"Ini seru Davi. " Ucapnya senang. Davino tersenyum bisa melihat Emely yang sejenak bisa melupakan semua masalah yang menimpahnya.
Apapun yang membuatmu senang, aku akan melakukannya Mel. Itu janjiku padamu.
B E R S A M B U N G
___________________
__ADS_1
Mohon dukungannya. Gbu