Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 65


__ADS_3

Emely yang tengah membersihkan apartemen Davino, begitu terkejut mendengar suara berisik dari arah pintu apartemen. Setahu Emely hanya Alex yang mengetahui pass key pintu apartemen Davino. Tapi dari suaranya ini bukan suara Alex.


Apa ada maling?


Emely mengambil sapu dan mengendap - ngedap menunggu maling itu masuk. Syukur Emely belum keluar dan memukul ketiga orang itu.


David dan juga dua temannya masuk sambil membawa tas kresek yang berisi minuman.


"Dav, Ini nggak apa - apa ? " Tanya salah satu temannya.


"Iya Dav, kalau ketahuan kakak kamu, habislah kita. " Tambah teman yang lain.


" Kak Davi kan, nggak ada. Lagian kak Davi nggak bakalan tahu kalau nggak ada yang kasih tahu dia. Kak Davi nanti balik besok. " David menjelaskan. Keduanya mengusap - ngusap dada, lega.


"Jadi aman nih? " Tanya yang pria yang mulai membuka kaleng soda.


"Aman. Tenang aja. Habis ini kita beresin terus pulang. " Mengeluarkan beberapa kaleng bir keatas meja. "Tunggu disini, aku mau ambil batu es. " Berjalan kearah dapur. Emely yang posisinya berada didapur, langsung mencari tempat untuk bersembunyi.


David menatap heran lantai dapur yang masih agak basah karena memang Emely sedang mengepel tadi.


Apa bibi kesini yah? Tapi tadi bibi baru nyampe rumah.


David berjalan melihat - lihat seisi dapur. Emely yang berada dibawah meja, hanya bisa menahan nafasnya. Jangan sampai David melihatnya di apartemen Davino. Bisa - bisa adik laki - laki Davino itu, mengira dirinya maling.

__ADS_1


Ingat, gara - gara David dia harus terikat dengan Davino sampai saat ini.


David yang tengah berjalan kearah lemari es, menghentikan langkahnya ketika melihat ada yang bergerak dibawah meja. David mendekatinya, ingin melihat apa yang ada dibawah meja.


"David, kamu ambil batu es apa tidur. Lama banget. " Datang salah satu temannya, menyusul David.


" Eh, iya sabar. " David beralih kearah lemari es. Mengambil wadah dan menaruh batu es didalamnya. Berjalan meninggalkan dapur, lupa sudah dengan apa yang ingin dilihatnya tadi. Emely mengelus dadanya lega. Dia harus segera pergi dari situ. Tapi kemana? Keluar dari apartemen pun dia tidak bisa.


Emely akan menunggu sampai mereka pulang. Mengendap - ngendap Emely lantas masuk kedalam kamar Davino. Bersembunyi disana. Sesekali Emely mengintip lewat pintu kegiatan David dan kedua temannya. Mereka hanya minum - minuman beralkohol kadar rendah saja.


Saat Emely masih mengintip ponselnya tiba - tiba berdering. Emely buru - buru mematikannya. Bisa gawat kalau sampai didengar ketiga orang didepan sana.


"Woi kalian dengar suara nggak? " Tanya salah satu teman David. Ternyata dia mendengarnya tadi.


Mendengar sebentar, David dan satu temannya sontak menjawab bersamaan. "Nggak tuh. "


"David, ayo kita cek kesana. " Ajak salah satu temannya.


" Jangan berani memasuki ruangan itu. Itu ruangan privasi kak Davi. Tidak ada seorang pun yang diijinkan Kak Davi masuk kedalam kamarnya. " David sudah tahu karena Davino sering sekali memperingatinya, jika David datang ke apartemen itu.


" Kan kakak kamu nggak bakalan tahu. " David berfikir sebentar. Apa yang dikatakan temannya ada benarnya. Tapi ini Kak Davi, dia bahkal tahu. Sehelai rambut saja yang jatuh dilantai kamarnya yang bukan miliknya, dia pasti tahu. David dulu pernah diam - diam memasuki kamarnya, tanpa sepengetahuan kakaknya. Tapi tetap saja Davino mengetahuinya hanya karena menemukan rambut milik David diatas kasurnya. Karena memang David numpang tidur disana. Selain dapat pemotongan uang jajan selama sebulan, mobil David juga ditarik. l


Hanya karena masalah itu. Itulah sebabnya David tidak akan menggulangi kesalahannya. Walaupun kakaknya tidak ada saat ini, namun David tidak akan memasuki kamar kakaknya itu, apapun yang terjadi.

__ADS_1


" Kalian tidak kenal kak Davi. Dia akan tahu jika ada yang masuk ke kamarnya. Dia juga pasti tahu kalau kita kesini. Tapi dia tidak akan marah selama kita tidak memasuki ruang privasinya. "


"Tapi kamu kan adiknya. Pasti dia juga sering bawa cewek tidur dikamarnya. "


" Nggak bahkal. Aku berani bertaruh. Jika kak Davi sampai bawa cewek kekamarnya, itu artinya tuh cewek beruntung. Beruntung karena mendapatkan hatinya kak Davi. " Emely jadi ingin tahu banyak tentang Davino. Apakah benar yang dikatakan David tadi?


Apakah benar dia wanita pertama yang masuk kedalam kamar pria itu? Bahkan dikamar itu ... Emely tidak jadi mengingat kejadian waktu itu.


"Bukannya kabar diluar sana, kakak kamu sering gonta ganti wanita? " Kata salah satu temannya. Disusul ucapan teman yang lainnya. " Iya David, aku juga dengar. Kakak kamu juga katanya tidak suka barang bekas. Jadi dia nggak suka tidur lagi dengan wanita yang sudah pernah ditidurinya. " Kali ini Emely merasa takut, takut karena sudah menerima cinta Davino. Apakah Davino akan melakukan hal yang sama padanya? Tapi Emely bahkan masih ingat, sudah tiga kali Davino menidurinya. Tapi kenapa Davino malah semakin mengikatnya. Benarkah Davino benar - benar mencintainya?


Memilih menunggu David dan kedua temannya pulang. Barulah Emely akan keluar dan pulang. Berjalan kearah ranjang, gadis itu duduk ditepi ranjang milik Davino.


***


"Mel, jaga diri kalian baik - baik. Ibu pergi dulu. "


"Ibu, jangan tinggalin Emely. "


"Ibu... " Emely ternyata hanya bermimpi. Dia ternyata ketiduran diranjang Davino. Mengusap keringat dingin diwajahnya, Emely menatap jam di dinding kamar Davino, waktu sudah menunjukan pukul 5 sore. Itu berarti dia sudah tertidur sangat lama. Berjalan mendekat kearah pintu, memastikan kalau David dan kedua temannya sudah pergi.


Syukurlah mereka sudah pergi.


Emely yang baru berjalan mendekati pintu apartemen, meraih ponselnya ketika benda itu bergetar di saku celananya. Tertera nama Eduar disana.

__ADS_1


"Hallo Dek. "


" Kak Emely dimana? Ibu kak, ibu masuk rumah sakit. "


__ADS_2