
Hari pertama Emely bekerja semuanya berjalan dengan baik. Karena memiliki pengalaman sebelumnya, Emely tidak kesulitan dengan pekerjaannya di Restoran.
Hanya saja sepulang bekerja tadi, Davino mendiaminya. Pasalnya saat menjemput Emely tadi, Davino melihat Emely berbicara cukup akrab dengan seorang pria. Sebenarnya bukan akrab karena mereka teman dekat, tapi lebih kepada hubungan pemilik Restoran dan juga karyawannya. Davino nya saja yang menyimpulkan bahwa pemilik Restoran dan Emely cukup dekat. Padahal tadi, pemilik Restoran itu hanya sekedar menyapa Emely yang saat itu tengah berada di lobby Restoran, yang sedang menunggu Davino menjemputnya. Tadi saat makan siang, Davino menghubunginya, mengatakan bahwa dia akan menjemput Emely. Walaupun Emely sudah menolaknya karena tidak ingin merepotkan pacarnya itu, namun Davino tetaplah seorang Davino, tidak bisa dibantah.
Flashback 5 Jam yang lalu.
Semua karyawan Restoran dikumpulkan oleh manager Restoran, tidak terkecuali Emely yang merupakan karyawan baru di Restoran itu. Sesuai informasi yang Emely dengar dari sesama karyawan, bahwa hari ini pemilik Restoran akan sekedar berkunjung ke Restoran sebelum kembali ke Itali.
Emely ikut berbaris dengan barisan karyawan lain yang sudah siap menyabut bos besar mereka.
Emely tersenyum dalam diam, ketika melihat teman sekerjanya, saling merapikan penampilan mereka. Bahkan sebelum mereka berkumpul, ada yang sampai menambah perona di wajah mereka.
Untuk apa mereka berpenampilan seperti itu? Apa mereka tidak tahu kalau pemilik Restoran itu sudah setua ayah mereka.
Aku tidak boleh berpikir buruk seperti itu, bisa saja mereka melakukannya karena mereka menghargai pemilik Restoran ini. Apa aku harus menambah pewarna dibibir?
"Mel, wajah kamu polos banget, lipstik kamu juga udah ke hapus. " Ini Ele, Karyawan yang udah hampir lima tahun bekerja di Restoran ini. Dia mudah bersahabat dan dia karyawan pertama yang mengajak Emely berkenalan, saat Emely mulai bekerja pagi tadi. Bukan pewarna bibir Emely yang ke hapus, namun gadis itu memang hanya menggunakan lipstik warna nude untuk polesan di bibirnya.
Hendak menarik tangan Emely ke toilet, niatnya menambah sedikit riasan di wajah Emely. Namun sayang, langkah keduanya terhenti ketika manager Restoran menghampiri barisan para karyawan.
Bukan itu fokus para karyawan saat ini, bukan ke managernya, tapi pada dua orang yang baru saja ikut bergabung bersama sang manager Restoran.
__ADS_1
Ada yang menatap takjub, namun ada juga yang tidak berani menatap pada kedua pria itu. Emely yakin kedua orang itu adalah orang penting atau bisa jadi salah satunya ada pemilik Restoran dimana saat ini kakinya berpijak.
" Perkenalkan ini Pak Arlan, beliau adalah putra Pak Gibran pemilik Restoran ini. " Pria itu tersenyum mengangkat tangannya sebagai tanda perkenalan. " Dan ini Pak Leon asisten pribadi pak Arlan. " Ah pria yang tak kalah tampan itu hanya mengangkat tangannya, seperti yang dilakukan bosnya tadi. Namun berbeda dengan bosnya yang sedikit tersenyum saat menyapa karyawan tadi, pria itu sungguh tidak mengubah ekspresi wajahnya yang datar semenjak datang ke Restoran itu.
"Sebulan lagi Beliau akan menyelesaikan studinya di luar negeri dan akan segera kembali untuk menggantikan pak Gibran mengelola Restoran ini. " Karyawan wanita, mungkin bersorak senang dalam hati mendengar kabar ini. Pasalnya Arlan walaupun pria itu terlihat tegas, namun wajahnya cukup tampan, tubuhnya tinggi tegap, hidungnya mancung dan pasti pesonanya bisa menarik banyak pelanggan wanita untuk sekedar mampir di Restoran itu.
Perkenalan dengan anak pemilik Restoran yang sebentar lagi akan menggantikan ayahnya itu telah selesai. Karyawan kembali dibubarkan dan kembali ke pekerjaan mereka masing - masing.
***
"Oh jadi wanita itu kerja disini. " Salah satu tamu VIP yang mengenal Emely, seorang wanita muda yang mungkin sangat membenci Emely. wanita itu ternyata sudah mengamati gerak - gerik Emely sedari tadi. Tadinya dia pikir dia hanya salah lihat saja, namun ternyata yang dilihatnya benar - benar Emely.
"Kamu lagi liatin siapa sih Ros? Sampe segitunya?" Sang manager yang ada disampingnya, ikut melihat kearah pandang Rossa. Sepertinya benar kata pepatah dunia tak selebar daun kelor. Buktinya di Restoran itu, Emely pernah bertemu David adiknya Davino dan sekarang Rossa, gadis yang tergila - gila pada Davino. Bahkan bisa dikatakan dia adalah calon menantu di keluarga Swam.
Rossa tersenyum, tidak menanggapi pertanyaan sang manager. Sepertinya dia sedang memikirkan sesuatu.
Rossa menyuruh managernya untuk memesan dua gelas jus dan menyuruh manager itu, meminta Emely yang mengantarnya ke meja mereka. Emely yang saat itu tidak menyadari kehadiran Rossa langsung mengikuti permintaan manager Rossa untuk mengantarkan dua gelas jus ke meja yang mereka duduki.
Mendekati meja yang diduduki Rossa dan managernya, barulah Emely sadar kehadiran Rossa di sana. Emely tersenyum sambil menata minuman yang mereka pesan keatas meja.
"Oh jadi kamu kerja disini." Emely yang hendak berbalik, menghentikan langkahnya. Dia tahu kalimat yang Rossa ucapkan itu tertuju padanya.
__ADS_1
"Apa masih ada yang anda butuhkan nona? " Tanyanya dengan sopan.
"Kamu tidak menaruh racun kan dalam jus ini? "
Apa tadi, racun?
Emely menatap Rossa, walaupun Emely tidak menyukai kalimat seperti tuduhan itu, namun Emely berusaha menahan diri.
Ingat ini hari pertama kamu bekerja Mel, mungkin begitu yang Emely katakan pada dirinya sendiri.
"Maaf nona, jus ini tidak ada racunnya. Silakan dinikmati nona. " Ah sudahlah lebih baik dia cepat - cepat pergi dari tempat itu, dia bisa melayani tamu yang lain. Emely hendak pergi. Namun lagi - lagi Rossa menahannya.
" Bisa saja kan kamu yang menaruh racun dalam jus ini, karena kamu tidak suka aku dekat sama Davi. " Wanita itu sudah mengambil posisi berdiri menatap Emely. Managernya hanya duduk, tidak ingin ikut campur dengan urusan sang model.
"Maaf nona, walaupun saya tidak menyukai seseorang, saya tidak akan menusuknya dari belakang. " Mungkin level kesabarannya sudah berkurang.
" Kamu pasti berbohong kan, minuman ini pasti ada racunnya. Aku tidak mau mati muda. " Ucapnya setengah takut dibuat - buat.
"Ini kamu coba minum kalau tidak ada racunnya. " Menyerahkan segelas jus pada Emely, namun Emely enggan mengambilnya.
"Ini minum. " Rossa yang memang punya niatan buruk, langsung memaksa Emely meminum Jus buah naga yang dipesannya. Bahkan sebagian jus itu sengaja Rossa tumpahkan di pakaian kerja Emely yang putih.
__ADS_1
"Ada apa ini? " Rossa menghentikan aksinya, ketika suara seorang pria menghentikannya.