
Hening tercipta sesaat setelah Emely masuk kedalam mobil Davino. Gadis itu diam, menatap lurus ke depan. Davino tahu, Emely masih kepikiran ucapan David kemarin.
"Mel... " Dengan tangan satunya Davino menyentuh telapak tangan Emely, menggenggamnya.
Emely memalingkan wajahnya, menatap orang yang memanggilnya.
" Aku nggak nyangka kamu bisa secantik ini. " Bodoh amatlah kalau rayuannya terdengar basi. Davino hanya berusaha mencairkan suasana yang menurutnya terasa canggung. Padahal yang akan dibicarakannya bukan itu, namun Davino menundanya. Dia tidak ingin Emely kepikiran tentang yang dikatakan adiknya itu.
Memang sialan adiknya itu.
"Nggak mempan Davi. " Setelah mengatakan itu Emely kembali mengalihkan pandangannya ke depan. Namun setidaknya Davino lega, karena Emely mengatakannya sambil memutar bola matanya. Seperti biasa disaat Davino mengatakan hal - hal yang tidak masuk akal menurut Emely, ekspresi Emely selalu seperti itu.
"Kamu tahu kan aku bukan tipe cowok romantis, kayak oppa - oppa korea itu. " Dari mana dia tahu kalau cowok Korea romantis. Apakah Davino suka menonton Drakor seperti para remaja dan juga emak - emak. Emely menatapnya dengan tatapan penuh selidik. Ada senyum yang Davino tahu Emely sedang menuduhnya, walaupun gadis itu tidak mengatakannya secara langsung.
"Oh come on Mel, aku tahu maksud tatapan itu. " Menggeleng kepalanya. "Mommy dan David sering nonton bareng di rumah. " Memberi penjelasan, walaupun Emely tidak memintanya.
"Aku nggak nuduh yah. " Emely mengatakannya dengan mengukir senyum diujung kalimatnya. Kalau melihat gadis itu tersenyum, tuduhan apapun akan Davino iyakan, asal jangan dituduh dirinya selingkuh. Itu tidak akan dilakukannya. Berdoa saja, Davino benar - benar tidak akan melakukannya.
"Aku sayang kamu Mel. " Davino mengangkat satu tangannya, mengelus lembut pucuk kepala wanitanya. Emely hanya menanggapinya dengan senyum.
__ADS_1
Tidak butuh waktu lama untuk mereka sampai di Restoran dimana Emely mulai bekerja. Sebelum turun dari mobil, Davino menahan Emely sesaat. Karena masalah David kemarin, Davino bahkan lupa menanyakan sesuatu yang penting pada Emely, terkait pekerjaannya itu.
"Ada apa? " Tanya Emely, disaat Davino menahan pergelangan tangannya disaat gadis itu hendak turun dari dalam mobil.
" Bos kamu udah tua kan? " Pertanyaan konyol apa itu yang ditanyakan Davino. Maksudnya apa coba.
"Aku nggak mau yah Mel, kalau kamu punya bos yang umurnya masih muda. Aku nggak bakalan ngizinin kamu kerja. " Apa dia sedang terang - terangan mengatakan kalau dia sedang cemburu. Begitu Emely menyimpulkannya.
" Aku belum bertemu pemilik Restorannya. Kemarin aku hanya bertemu managernya saja dan umurnya sekitaran empat puluhan." Emely memang hanya bertemu managernya saja. Karena untuk masalah karyawan, manager Restoran lah yang mengurusnya.
"Sepertinya pemilik Restorannya juga udah tua. " Jelasnya lagi. Emely memang sempat melihat Figura seorang pria paruh baya di ruangan manager yang ditemuinya. Emely yakin pria itu adalah pemilik Restoran dimana ia mulai bekerja.
"Baguslah kalau begitu. " Ucap Davino lega. Emely hanya menggeleng kepalanya, seorang Davino, pria yang digilai banyak gadis, akhirnya tidak bisa melihat wanitanya digilai pria lain.
Davino mengambil ponselnya, mengetikan sebuah pesan untuk wanita yang telah membantunya pagi tadi. Mencari kontak Mommy, Davino kemudian mengirim sebuah pesan sebagai ucapan terima kasihnya kepada sang Mommy.
Pagi tadi, mobil miliknya tiba - tiba diantar supir pribadi keluarganya. Siapa lagi yang menyuruh supir itu mengantarnya kalau bukan suruhan sang Mommy.
" Kata Nyonya, mobil ini milik tuan Davino dan kata Nyonya tuan Davino tidak usah kuatir, karena tuan Besar sudah setuju kalau mobil ini dikembalikan kepada tuan Davino. " Begitu pesan yang disampaikan sang Mommy pada sang supir. Itulah sebabnya Davino bisa menjemput Emely sepagi tadi. Karena semalam mobil Haizel sudah dikembalikannya, setelah pulang dari rumah Emely.
__ADS_1
***
"Kalian harus cari lagi. Aku telah membayar kalian mahal. Jangan mengecewakan aku. " Perintah itu terdengar tegas dan langsung diiyakan empat orang yang bertubuh besar dengan setelan jas hitam mereka.
"Kabari aku secepatnya, jika menemukan keberadaan mereka. " Kalimat penutup sebelum pria itu mengangkat tangannya mengusir orang - orang yang ditugaskan untuk mencari seorang wanita.
Disaat empat orang bertubuh besar itu keluar ruangan kerjanya, masuk sang putra seperti biasa tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Ada apa lagi sih Pa? " Tanyanya yang langsung duduk di kursi berhadapan dengan sang ayah. Sudah sering ia melihat sang ayah marah seperti itu disaat orang - orang suruhannya tidak kunjung mendapat kabar tentang wanita yang dicarinya.
" Papa bingung harus nyari Tante kamu kemana lagi. " Sang ayah menjambak rambutnya frustasi. "Ini udah belasan tahun, papa belum juga menemukan keberadaan adik papa. " Ada nada sedih disaat sang ayah mengucapkan kalimat itu.
" Ciri - ciri Tante itu gimana sih pa? siapa tahu aku bisa bantu. Atau papa punya fotonya, biar aku buat pengumuman di TV atau majalah. "
"Kalau papa punya foto Tante kamu udah lama papa pasang di TV, koran atau majalah. Tapi semua foto Tante kamu dibakar sama ayah papa, kakek kamu. Mereka sangat marah waktu itu, karena Tante kamu menentang perjodohan dan lebih memilih kabur dengan laki - laki yang tidak direstui kakek kamu. Bahkan papa dilarang menemui Tante kamu. Kata kakek kamu, Tante bukan lagi bagian keluarga. "
"Siapa nama adiknya papa itu? " Tanya sang anak.
"Elisa Dianingsi Dirgantara"
__ADS_1
___________
B E R S A M B U N G