Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 86


__ADS_3

Benar kata Alex, dia harus berjuang. Misalnya seperti sekarang, dia harus berjuang mengejar Taxi yang membawa gadisnya. Davino bahkan tidak perduli, kalau dirinya sampai kecelakaan.


Tapi tunggu, bukankah ini arah Apartemennya? Davino bisa bernafas lega. Dia bahkan menurunkan kecepatan mobilnya. Setelah melihat Taxi yang ditumpangi Emely mengarah kearah Bassment apartemennya. Dari jauh dia bisa melihat Emely turun dari Taxi itu dan menyerahkan beberapa lembar uang pada sang supir Taxi.


Davino memarkirkan mobilnya, setelah itu dia menghampiri Emely yang memang terlihat menunggunya. Davino meraih tangan gadis itu, menariknya lembut kearah lift. Emely masih enggan berbicara.


"Kamu mau minum apa? " Tanya Davino setelah keduanya sampai didalam Apartemen Davino. Emely masih diam, tidak menjawab pertanyaan Davino.


Sungguh bukan bidang Davino dalam hal merayu dan membujuk perempuan.


"Mel, kamu marah ya? " Sudah tahu masih bertanya. Ingin rasanya Emely mengatakan itu. Namun lagi dan lagi Emely memilih bungkam. Sungguh Davino lebih memilih Emely mengomelinya dari pada mendiaminya. Davino tidak akan mengerti jika tidak diberitahu.


Apa dia cemburu ? baguslah kalau dia cemburu. Itu artinya dia juga mencintaiku.


Davino tersenyum dalam hati.


Mendekati Emely yang tengah duduk di sofa, gadis itu tertunduk. Ada yang mengganjal dihatinya. Kenapa dia begitu marah melihat gadis tadi terlalu dekat dengan Davino. Apa karena Davino saat ini sudah berstatus pacarnya atau karena dia sudah sangat dalam mencintai pria itu? Emely menarik nafasnya perlahan dan membuangnya kasar. Dia baru saja menerima Davino menjadi pacarnya, namun kenapa perasaannya sudah terlalu dalam pada pria itu? Apa dirinya sudah mencintai Davino jauh sebelum mereka resmi pacaran ? Emely benar - benar takut dengan perasaannya, takut kalau selama ini Davino hanya terobsesi saja bukan cinta pada cinta padanya. Bagaimana nanti dengan dirinya, yang sudah terlanjur mencintai Davino.

__ADS_1


" Mel, kamu mikir apa sih? " Davino bisa melihat ada kecemasan dimata gadis itu. Bukan lagi kemarahan.


"Kamu mikir apa sih sayang, hm." Davino mengelus pipi gadisnya dengan lembut. Walaupun Emely membalas tatapannya, namun gadis itu masih memikirkan sesuatu, entah mengapa Davino sadar akan hal itu. Sepertinya saat tengah mabuk, dia mudah mengerti.


Berbicara tentang mabuk, sepertinya mabuknya sudah hilang saat dia dikejutkan suara Alex memanggil nama Emely, ditambah dia mengejar Emely tadi.


"Kamu kemana aja sih? kenapa dari kemarin nggak ngabarin aku. " Akhirnya lolos sudah apa yang ingin dikatakannya dari tadi, lolos bersama airmatanya.


"Aku nyari kamu. " Tambahnya sambil memukul lengan pacarnya itu.


Davino menghapus air mata gadisnya itu.


" Kamu sudah makan? " Emely menggeleng perlahan.


"Hebat ya, kamu kerja di Restoran tapi jam segini kamu belum makan. " Sudah sedikit meninggi suaranya. Emely memang melewatkan makan malamnya, karena ingin secepatnya menemui Davino.


"Aku nyari kamu. " Itu artinya, sudah dari tadi Emely mencarinya.

__ADS_1


"Kamu itu... ah sudahlah. " Davino mengajak gadis itu kearah dapur miliknya.


"Masih banyak hal yang akan kita bicarakan. Jadi sebaiknya kita makan dulu. Bi Ani sudah memasak tadi sore sebelum pulang, kamu tunggu disini. " Menyuruh Emely duduk dimeja makan. "Aku akan menghangatkan makanannya sebentar." Setelah itu, Davino terlihat tengah sibuk mengeluarkan beberapa masakan Bi Ani yang memang semenjak Emely berhenti bekerja di Apartemen Davino, sudah kembali membantu di Apartemen milik Davino. Itupun atas suruhan sang Mommy. Mommynya memang ibu terbaik didunia.


***


"Maaf. Sepertinya aku sudah menghanguskan makanannya. " Muncul Davino dengan wajah lemasnya. Membawa masakan Bi Ani yang sudah menghitam. Emely menahan senyumnya. Sungguh kasihan ayam yang dimasak Bi Ani dengan cantik harus berakhir menggelikan. Kalau bukan karena memberi makan Emely, Davino tidak mungkin susah - susah memasak. Memanaskan makanan maksudnya.


"Kita makan diluar aja, ya? " Emely menggeleng. Gadis itu berdiri dari duduknya. Menghampiri lemari es, membukanya dan mencari bahan yang bisa dia olah menjadi masakan. Ada telur, beberapa botol susu, buah segar dan juga sayuran. Emely memilih membuat salad buah dan juga nasi goreng. Mereka memasak bersama.


" Akhirnya bisa makan masakan kamu lagi. " Ucap Davino yang sudah selesai dengan makan malamnya. Sementara Emely, gadis itu lebih memilih makan salad buah saja. Ya, walaupun sesekali Davino menyuapinya nasi goreng.


***


Mereka sudah dalam perjalanan menuju rumah Emely. Mengantar Emely tepatnya.


Eduar tadi sudah menghubungi Emely menanyakan keberadaan kakak perempuannya yang tak kunjung pulang. Mendengar Emely bersama Davino, entah mengapa Eduar merasa lega. Walaupun Eduar tidak bertanya mengapa Emely bisa bersama Davino, namun Eduar yakin, ada sesuatu diantara kakak perempuannya dan pemilik kampus dimana ia kuliah itu. Eduar tidak ingin ikut campur urusan pribadi Emely, dia berharap kakak perempuannya bisa menjaga diri dan bisa menemukan kebahagiaan. Itu yang terpenting bagi Eduar.

__ADS_1


Davino bahkan sudah menjelaskan pada Emely bahwa yang dilihatnya di Sweet Room tadi, tidak seperti yang ada dipikiran gadis itu. Saat mengambil minuman dan hendak meminumnya, gadis yang ada disampingnya tidak sengaja menyenggol lengan Davino dan seketika sebagian minuman itu tumpah dan mengenai pakaian Davino. Sudah paham sifat Davino, gadis yang ketakutan itu refleks mengambil tisu dan mencoba membersihkan bekas minuman yang mengenai bagian dada Davino. Namun sebelum menyentuh tubuh Davino, tangan gadis itu ditahan Davino. Saat bersamaan Emely melihat hal itu. Davino bahkan bersumpah bahwa yang dikatakannya adalah benar adanya.


Untuk masalah Arlan, Davino tidak ingin membahasnya sekarang. Tapi yang pasti, Davino tetap mengijinkan Emely bekerja di Restoran dengan syarat, dia akan mengantar dan menjemput gadis itu selama dia tidak sibuk.


__ADS_2