
Davino kembali bertanya pada Boy, memastikan bahwa yang dilihat Boy tadi itu benar - benar Emely. Dengan sangat yakin Boy mengatakan bahwa itu memang Emely karena mereka tadi sempat berbicara, walaupun tidak begitu lama, karena Emely tidak enak hati ketika Arlan dan juga karyawan lain sedang menunggu dirinya.
Berlari kearah parkiran, Davino lebih memilih mengecek sendiri keberadaan Emely. Rumah wanita itu menjadi tujuan utama Davino. Tidak butuh waktu lama untuk Davino sampai di jalan dekat rumah Emely. Memilih mengetuk pintu rumah Emely, dari pada masuk secara diam - diam ke kamar Emely. Syukur yang membukakan pintu adalah Eduar karena ayah Emely sudah tidur sejam yang lalu.
" Kak Emely tadi pergi. " Itu merupakan jawaban yang tidak ingin didengar Davino. Itu artinya Emely memang sudah membohonginya. Dia berharap Eduar mengatakan bahwa kakak perempuannya sudah tidur dari tadi.
" Emely ngomong kalau dia mau kemana?" Tanyanya berharap Eduar tahu dimana keberadaan kakak perempuannya itu. Karena keberadaan Emely sama sekali tidak ada di Bar milik Boy. Mungkinkah Emely pergi setelah melihat dia dan Rossa? Entahlah, Davino merutuki kebodohannya. Dia hanya memberi pelajaran pada Rossa agar gadis itu tidak mengganggunya lagi. Tapi kenapa harus ada Emely disana.
Setelah pamitan dengan Eduar, Davino kembali melajukan mobilnya. GPS di ponsel Emely juga tidak terdeteksi. Davino frustasi sendiri.
***
Haizel bergidik geli ketika melihat nama si pemanggil yang sepertinya sudah ketiga kalinya menghubunginya. Haizel baru menyadari ketika benda yang ada di sakunya itu bergetar.
__ADS_1
"Kenapa tidak diangkat? " Arlan menyadari bahwa Haizel berusaha mengabaikan panggilan telpon di ponselnya.
"Tidak apa - apa. " Jawabnya sambil meletakan kembali ponsel dibalik jaket kulitnya.
Sudah dua jam mereka menghabiskan waktu di Sweet Room. Karena bosan Emely tanpa sadar mengaktifkan ponselnya. Saat benda itu baru saja aktif, suara notif diponselnya berbunyi beberapa kali, menandakan ada beberapa pesan masuk di ponselnya.
"Kamu dimana? "
"Kamu dimana? " Disusul ikon marah.
Itu artinya Davino sudah tahu bahwa Emely tidak ada di rumah. Bukannya takut ketahuan berbohong Emely justru menyalahkan Davino. Pria itu juga membohonginya.
"Seharusnya yang marah itu aku. " Bela Emely dalam hati. Mengingat apa yang Davino lakukan tadi di Bar Diamont Star. Dadanya seakan panas mengingat adegan tadi. Adegan yang seperti sebuah film yang berulang - ulang diputar di pikirannya.
__ADS_1
Karena kemarahan yang merasuk pikiran dan hatinya, Emely tanpa sadar mengambil gelas yang ada didepannya. Meminumnya hingga tandas. Bahkan Emely kembali meraih botol minuman yang sudah berjejer di meja mereka. Menuangnya dan sekali lagi meminumnya hingga tandas.
" Kamu yang pembohong. " Tanpa sadar Emely berdiri dan memukul meja didepannya.
Semua yang tadi sibuk dengan obrolan mereka, langsung fokus kearah Emely yang tiba - tiba histeris sendiri.
"Mel, kamu baik - baik saja? " Ele langsung ikut berdiri dan menuntun Emely untuk duduk kembali.
"Maaf. " Sebelum duduk, Emely membungkukkan badan, meminta maaf dengan apa yang dilakukannya barusan. Emely bahkan tidak sadar melakukannya. Suhu tubuhnya mulai keringat dingin, namun berbeda dengan tubuh bagian dalamnya yang tetap saja merasa panas dan gerah. Haizel yakin ada masalah diantara Davino dan Emely dan tidak baik juga kalau Emely terus - terusan ada ditempat itu. Kalau soal menjaga Emely, Haizel bisa melakukannya. Tapi kalau sampai Davino tahu Emely minum, minuman beralkohol , Haizel tidak bisa membayangkan semarah apa pria itu. Apalagi dirinya sudah tentu terlibat.
"Kenapa sih pria gunung es itu bisa jatuh cinta. " Gerutu Haizel.
Haizel berdiri dari duduknya, pria itu memberi berbagai alasan kepada Arlan untuk cabut duluan dari tempat itu. Setelah mendapat persetujuan Arlan, Haizel mendekati Emely, Haizel hendak mengajak Emely untuk pergi dari tempat itu. Haizel ingin menyelamatkan Emely dan tentu saja menyelamatkan dirinya dari kemarahan Davino.
__ADS_1
" Ternyata kamu disini? "
___ Abis baca like yah_____