
Menarik koper miliknya, Davino berjalan cepat menuju pintu apartemen. Berpikir waktunya sangat terbatas untuk terlebih dulu kerumah Emely yang berlawanan arah dengan Bandara.
" Udah mau pergi? " Suara seseorang menghentikan langkahnya. Seorang gadis dengan memakai celemek.
"Aku pikir kamu udah pulang Mel. " Bernafas lega, sambil menaruh kopernya disembarang tempat. Mendekati Emely yang berdiri dekat meja makan.
"Aku sudah memasak makanan untukmu. Setidaknya kamu bisa makan sedikit. Biar kamu nggak kelaparan saat dalam perjalanan. " Emely kan tidak tahu, kalau pria itu akan menggunakan jet pribadinya. Jadi segala sesuatu sudah tersedia disana.
Tapi Davino senang, setidaknya Emely mulai perhatian padanya.
" Kalau nggak sempat, nggak apa - apa. Aku bisa makan sendiri dan sisanya biar aku bawa kerumah. " Emely pikir Davino dikejar waktu tadi, saat laki - laki itu terburu - buru menuju pintu apartemen.
"Sempat kok Mel. Ayo kita makan sama - sama. " Menarik kursi dan mengarahkan tubuh Emely untuk duduk dikursi yang ditariknya tadi. Mereka makan dalam diam. Karena ini kali pertama mereka makan bersama di apartemen Davino.
Selesai sudah mereka dengan acara makan bersama. Emely membersihkan alat makan bekas mereka tadi. Sedangkan Davino, pria itu memilih kembali ke kamar. Entah apa yang dia lakukan dikamar mandi. Keluar kamar sambil mengeringkan mulutnya dengan tisue. Laki - laki itu ternyata kembali menggosok giginya. Davino memang suka sekali dengan kebersihan.
"Mel kamu bisa bawa mobil? " Emely menggeleng. Kalau saja Emely tahu membawa mobil sudah pasti laki - laki itu akan mengajak Emely ke Bandara, mengantarnya dan kemudian Emely bisa kembali kerumahnya dengan mobil milik pria itu. Kalau seperti ini biarkan Emely mengantarnya sampai bassment apartemennya saja. Davino tidak ingin gadis itu pulang sendiri dari Bandara. Walaupun Emely juga akan pulang sendiri dari apartemennya. Namun mengingat jarak Bandara dengan rumah Emely lumayan jauh dan jarak apartemen pria itu dengan rumah Emely tidak terlalu jauh, membuat Davino lebih memilih Emely tidak mengantarnya sampai di Bandara.
Sesampainya didepan pintu apartemennya, Davino bergeming. Menghentikan langkahnya, Davino lantas menatap Emely yang juga menghentikan langkahnya ketika Davino berhenti.
" Mel. " Rasanya Davino tidak ingin pergi kali ini. Emely menoleh mempertemukan pandangan mereka dengan jarak yang sangat dekat.
__ADS_1
Davino masih menatap Emely lekat - lekat berusaha mencari kata - kata yang tepat untuk memulai pembicaraan dengan gadis itu.
" I want you to stay here, for me. (Aku mau kau tetap disini untukku)." Davino mengatakannya dengan tulus. Meraih tangan Emely. " I want you Mel. Because I love you. (Aku mau kamu Mel. Karena aku mencintaimu)." Emely bergerak gugup saat tangan Davino mulai mengusap lembut bibirnya dengan satu tangannya. Laki - laki itu kemudian memiringkan wajahnya, berharap kali ini saja, Emely tidak menolak ciumannya.
Davino menempelkan bibirnya diatas bibir Emely, dengan debaran jantung yang membuncang. Perasaan bahagia itu muncul, ketika tubuh Emely tidak menolak ciumannya. Walaupun Emely masih bergeming dan mengedipkan matanya berulang - ulang.
Tidak mendapat penolakan, Davino lebih berani mulai mengecup bibir itu dengan lembut secara berulang. Sampai Davino menyadari Emely mulai membuka mulutnya. Kesempatan itu digunakan Davino untuk memasukan lidahnya, menelusuri rongga mulut gadis yang mulai sedikit demi sedikit membalas ciumannya itu. Sungguh Davino bahagia. Apalagi saat dia membuka sebentar matanya tadi, gadis itu sudah menutup matanya. Davino yakin Emely juga menikmati ciuman mereka. Ciuman pertama Davino yang dia lakukan dengan penuh cinta. Emely tanpa sadar sudah melingkarkan tangannya dibagian perut laki - laki itu. Sedangkan Davino, menahan dengan
lembut tengkuk gadis itu, memperdalam ciuman mereka. Dia hanya tidak ingin moment ini cepat berakhir.
Keduanya sama - sama melepaskan ciuman itu, ketika nafas mereka tersengal. Davino tersenyum melihat wajah Emely yang merona karena malu. Gadis itu bahkan menunduk salah tingkah saat menyadari tangannya masih melingkar dibagian perut pria itu.
Mengusap kepala Emely lembut, Davino lantas memeluk gadis itu.
" Kamu itu yah. " Mencibir Emely lantas membuka pintu apartemen. Bahkan wajah meronanya hilang sekejap. Entah mengapa Davino lebih senang melihat Emely dengan wajah kesal campur cemberutnya dari pada melihat gadis itu merona malu. Mengikuti Emely yang sudah keluar duluan kearah lift, Davino meraih tangan Emely, memasukan jari - jarinya disela jari gadis itu. Walaupun Emely sedang kesal, namun dia tidak menolak. Bahkan sampai didepan mobil Davino, keduanya masih bergandengan tangan dengan jari yang masih bertautan.
Masuk kedalam mobil, Davino masih belum menghidupkan mesin mobilnya. Matanya masih menatap Emely yang berdiri disamping mobilnya.
Memilih turun dari dalam mobil, Davino kembali memeluk gadis itu. Emely berusaha melepaskannya karena sungguh ada beberapa penghuni apartemen lain yang lalu lalang di bassment itu dan melihat iri kearah keduanya.
"Ada yang lihat. " Mengingatkan Davino, namun pria yang bodoh amat itu, tidak melepaskan pelukannya. "Ayo, aku antar kamu pulang dulu. " Melepaskan pelukannya dan meraih tangan Emely menuntun gadis itu kedalam mobilnya.
__ADS_1
" Kamu bisa terlambat Davi. " Emely tidak enak, jika karena dirinya Davino ketinggalan pesawat.
Menggoda Emely. "Kan bagus kalau ketinggalan pesawat, aku nggak bahkal jadi pergi. " Sudah menghidupkan mesin mobilnya. Davino meraih ponselnya menghubungi Rony sang asisten.
" Mundurkan jadwal keberangkatanku dua jam lagi. " Mematikan sambungan telpon setelah sang asisten mengiyakan perintah pria itu. Emely menatap Davino tidak percaya, Seberapa berkuasanya sih pria itu, sampai bisa main perintah kayak begitu.
Akhirnya Davino mengantar Emely pulang. Memarkirkan mobilnya sedikit jauh dari halaman rumah Emely. Davino ingin menghabiskan waktunya selama satu jam lebih ini, hanya untuk bersama Emely. Masih belum membukakan pintu mobilnya, Davino masih menahan gadis itu.
***
Akhirnya pria itu pergi juga setelah sejam lebih menahan Emely didalam mobil. Sebelum pergi pun, ada - ada saja larangan yang harus Emely patuhi saat dirinya pergi.
" Ingat yah Mel, segala aktivitas kamu, aku harus tahu. Terutama kalau kamu keluar rumah, harus bilang sama aku. Aku nggak mau yah, kamu sampe ketemu cowok lain. Apalagi si cowok putih kayak vampir itu. "
Yang dimaksud Davino adalah Rayhan.
"Ingat yah Mel, You are mine. " Emely tersenyum mengingat kalimat terakhir Davino itu.
Ada perasaan membuncang ketika Davino mengatakan kalimat itu. Bahkan kalimat itu masih terngiang - ngiang ditelingannya.
_______
__ADS_1
Jadi githu, Emely itu sebenarnya udah mulai suka sama Davino, udah mulai cinta juga. Tapi dia belum menyadarinya. Dia juga sebenarnya belum yakin kalau Davino benar - benar mencintainya.
Jangan lupa dukung terus mereka yah.