Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 43


__ADS_3

Like sebelum membaca


__________________________


"Yakin kamu nggak mau ke rumah sakit? " Tanya Emely pada Davino.


Disaat Emely masuk tadi, laki - laki itu sedang berbicara dengan dua orang polisi.


Terakhir Emely mendengar bahwa Davino harus memberi keterangan ke kantor polisi.


Walaupun hanya sobekan diujung bibir dan sebuah luka sayatan di lengannya, tapi dia masih terlihat baik - baik saja.


Davino menggeleng "Aku akan ke kantor polisi terlebih dulu. " Ucapnya sambil berjalan kedepan.


" Aku juga ikut. " Biar bagaimana pun semua yang terjadi karena dirinya. Setidaknya jika rentenir itu menuntut Davino dan Davino dinyatakan bersalah maka Emely yang seharusnya menggantikan pria itu bukan? Secara Davino hanya berusaha membelanya.


Davino menghentikan langkahnya, berbalik kearah Emely. "Tidak usah, kamu disini saja. "


"Tapi bagaimana kalau..."


"Jika kamu kuatir sama aku, kamu tenang saja. Aku akan baik - baik saja. " Ucapnya tersenyum, niatnya ingin menggoda Emely.


"Aku tidak kuatir sama kamu, tapi bagaimana jika pria - pria itu akan kembali kesini. " Kuatir dan rasa bersalah itu beda yah, Emely memang hanya merasa bersalah saja. Karena masalah keluarganya, Davino ikut terlibat.


"Kamu tenang saja, aku bisa pastikan kalau dalam waktu dekat ini, mereka tidak akan kemana - mana selain tiduran di rumah sakit." Melihat kondisi mereka tadi, Emely percaya apa yang dikatakan Davino. Setelah mengatakan itu, Davino langsung menuju kantor polisi.


***


"Kak, sebenarnya kak Emely ada hubungan apa sih sama kak Davi? " Eduar ragu - ragu bertanya. Pasalnya dari kejadian yang diceritakan ibunya tadi, Eduar bisa mengambil kesimpulan kalau hubungan keduanya bukan hanya sebatas majikan dan pelayan saja. Segitunya Davino membela kakak perempuannya.


" Maksud kamu? " Emely yang masih membereskan sisa pecahan diruang tengah rumahnya langsung menoleh kearah adiknya.


"Kakak nggak pacaran kan sama kak Davi? " Entah dari mana adiknya itu, punya asumsi seperti itu.


"Kamu ngomong apa sih dek? Kak Emely tidak ada yah, hubungan khusus sama dia. Pacaran? Tidak akan mungkin." Emely tidak tahu saja, jika Davino sudah mulai menulis takdir untuk mereka.


" Kalau begitu, kak Davi berarti menyukai atau sudah jatuh cinta sama kak Emely. " Kenapa adiknya ini selalu berpikir kejauhan. Suka? Cinta? Semua itu tidak mungkin.


Emely tertawa menanggapi pernyataan adiknya barusan. Seorang Davino menyukai dan jatuh cinta pada gadis sepertinya? Itu sama seperti berharap minyak dan air akan menyatuh.


"Kamu selain suka nonton bola ternyata juga suka nonton drama korea yah? " Emely menarik kursi didepan adiknya dan duduk disana.


"Kan banyak tuh drama korea yang cowoknya tajir, trus suka sama cewek yang dari kalangan bawah gitu. Kayak drama The Heirs, BBF, um... " Emely berusaha mengingat judul drakor yang pernah di nontonnya namun adiknya itu sudah memotong ucapannya.

__ADS_1


" Kalau kak Davi nggak suka sama kak Emely tapi kenapa kak Davi segitunya belain kak Emely? " Ini yang tidak bisa dijawab Emely. Karena dia sendiri tidak tahu alasannya.


Apa sebenarnya alasan Davino selalu ada disaat dia membutuhkan bantuan dan kenapa Davino sangat tidak suka jika ada pria lain mendekati dan bersikap kurang ajar pada Emely. Emely ingat bagaimana Davino menusuk tangan pria yang coba bersikap kurang ajar padanya di Bar milik kak Boy. Tadi juga Davino seperti tidak suka Emely berlutut pada rentenir itu dan dia tidak suka pria itu mengucapkan kata - kata menjijikan didepan Emely dan Davino bahkan mematahkan tangan rentenir itu disaat berusaha menyentuh Emely.


" Kakak nggak tahu Eduar. Jangan aneh - aneh deh, mikirnya. Sudah beresin sisanya kakak mau melihat ibu dikamar dulu. " Lebih baik menghindar dari pertanyaan Eduar. Tapi kenapa dia harus menghindar? Sudahlah Eduar memang jika bertanya selalu mendetail. Menghindar lebih baik. Lagi pula Emely harus menjelaskan apa.


"Bu... " Emely mendekati ibunya yang sedang berbaring.


"Ibu tidak apa - apa kan? " Ibu Elisa menggeleng. Sambil tersenyum lembut kearah putrinya. Dia meraih tangan putrinya dan menggenggamnya.


" Bagaimana keadaan tuan Davino? " Benar, Emely lupa menanyakan kabar pria itu. Sudah sedari tadi Davino pergi tapi belum juga mengabarinya. Kok Emely jadi kuatir yah. Mana sih yang benar, merasa bersalah atau kuatir? Kali ini dia kuatir.


" Dia baik - baik saja bu. Tadi dia pergi ke kantor polisi. " Ibu Elisa menepuk lembut punggung tangan putrinya.


"Nak, sepertinya tuan Davino menyukaimu. " Kenapa sih ibunya dan Eduar selalu saja punya pemikiran yang sama. Menghindar dari Eduar tidak serta merta membuat Emely jauh dari pertanyaan seputaran Davino.


"Ibu kenapa bisa berfikir seperti itu? Itu tidak mungkin bu. Ibu tahu sendiri kalau Dia dan Emely bagai langit dan bumi. Nggak mungkin dia suka sama Emely bu, secara pasti seleranya dia setaralah sama dia. " Tahu diri jauh lebih penting dari pada berharap sesuatu yang tidak mungkin.


"Kamu benar nak, kita hanya orang kecil. Kalau memang tuan Davino menyukaimu belum tentu keluarganya juga menyukaimu. Jadi usahakan menjaga jarak darinya. " Emely mengangguk mengiyakan.


"Ibu tenang saja, Emely akan menjaga jarak darinya. " Tapi Emely tidak tahu saja, kalau Davino sedang berusaha memangkas jarak diantara mereka. Tapi pertanyaan ibunya tadi soal keadaan Davino, membuat Emely jadi ingat pria itu. Emely harus ke kantor polisi memastikan sendiri keadaan pria itu.


***


Berbekal informasi dari petugas polisi tadi membuat Emely lega. Sebelum pulang ke rumahnya Emely harus mengucapkan terima kasih sekalian melihat keadaan pria itu. Mungkinkah dia sudah ke rumah sakit untuk mengobati luka sobekan di lengannya? Emely harap sudah.


Menekan bel apartemen pria itu berulang, namun tidak ada yang membuka pintu itu. Mungkin pria itu masih dirumah sakit. Baiklah, Emely akan masuk dan memasak sesuatu untuknya. Lagi pula tadi dia juga belum sempat memasak.


Disaat dia masuk, dia melihat Davino yang sedang tiduran di sofa. Bahkan dia belum mengganti kemeja yang dipakainya tadi. Lihat saja, bekas darah yang keluar dari lengannya masih tercetak dikemeja birunya.


Memasak terlebih dulu sebelum membangunkan pria itu. Emely berlalu kearah dapur. Dia tidak butuh waktu lama untuk menyelesaikan acara memasaknya. Karena tadi semua bahan dan bumbu sudah disiapkannya sebelum dia tinggalkan kerumahnya.


"Davi..." Ah, rasanya baru kali ini Emely memanggil nama pria itu.


"Davi... " Emely setengah menggoyangkan tubuh pria itu. Davino membuka matanya secara perlahan. Kalau Emely memanggil namanya selembut ini dalam mimpi, rasanya Davino tidak ingin bangun.


"Mel, kamu bahkan hadir dalam mimpiku. " Ucap Davino sambil tangannya ia angkat menyentuh wajah Emely. "Kamu bahkan sangat nyata. " Sudah berhasil mengelus pipi gadis itu.


" Bangunlah. Aku sudah siapkan makanan untukmu. " Emely menjauhkan wajahnya dari tangan pria itu. Sontak Davino menyadarkan dirinya.


"Shit, ternyata bukan mimpi. " Malu sudah pasti. Kenapa juga dia pake acara menyentuh wajah Emely. Jadi canggung kan sekarang. Waktu dulu aja, dia nidurin Emely tidak secanggung sekarang.


"Kamu udah dari tadi Mel? " Beranjak dari sofa mengikuti langkah Emely kearah dapur. Menghilangkan rasa canggung adalah dengan memulai percakapan bukan?

__ADS_1


"Setengah jam yang lalu. " Emely mengambil alat makan untuk ia berikan kepada Davino.


Davino mengambilnya dan mulai menyantap makanan yang dibuatkan Emely untuknya.


"Aw uh. " Pekiknya, Emely menoleh mendengar ringisan keluar dari bibir Davino. Karena luka sobek diujung bibirnya membuatnya kesakitan disaat memasukan makanan kedalam mulutnya


"Kamu nggak apa - apa? " Tanya Emely mendekat sambil memberikan segelas air pada Davino.


" Nggak apa - apa gimana sih Mel, ini tuh sakit. " Sejak kapan Davino merasa sakit hanya karena luka kecil seperti itu? Disaat dia menghancurkan lawan - lawannya saja, bahkan lukanya akan lebih parah dari saat ini. Tapi apa sekarang, apakah dia sedang mencoba bersikap manja? Okelah, sebut saja seperti itu.


"Sudah ku katakan tadi kalau sebaiknya kamu pergi ke rumah sakit. Kalau tidak mau kerumah sakit, biar aku hubungi dokter Alex untuk kesini. " Entah mengapa melihat Emely sedikit perhatian padanya, membuat Davino bahagia. Tapi tunggu, dokter Alex? Tidak, jangan hubungi dia.


Emely kembali kedapur setelah tadi mengambil ponselnya didalam tas diruang tengah.


"Aku ternyata tidak menyimpan nomor dokter Alex. " Gumam Emely namun masih bisa didengar Davino. Davino tersenyum, akhirnya Alex tidak aka datang mengganggu mereka.


"Berikan nomor dokter Alex padaku, aku akan menghubunginya. " Davino tidak berfikir sampai disini, baiklah cari cara lain untuk tidak memberi nomor ponsel Alex pada Emely. Bisa - bisa setiap malam Alex akan menghubungi Emely jika tahu nomor ponsel Emely.


"Alex kehilangan ponselnya saat..." Sejenak berpikir " Iya, saat dia pergi ke toilet rumah sakit. Jadi dia meninggalkan ponselnya disana, setelah dia kembali keruangannya barulah dia ingat ponselnya yang tertinggal. Jadi dia kembali ke toilet, tapi sayang ponselnya sudah hilang. " Menjelaskan dengan cepat. Kali ini percayalah, aku sudah susah - sudah berbohong. Aku bahkan tidak pintar berbohong. Bodohlah untuk kali ini Mel. Jahat tidak sih dia, berharap Emely jadi bodoh.


"Oh. " Satu kata itu membuat Davino berucap syukur karena Emely percaya.


"Tapi kenapa dia tidak membeli ponsel yang baru? Tidak susah kan, bagi orang kaya seperti kalian membeli ponsel baru. " Baru saja bersyukur, sekarang ia harus memberi alasan apa.


" Mungkin dia sudah membelinya, tapi aku belum sempat meminta nomornya. " Davino bernafas lega karena Emely akhirnya mempercayai ucapannya dan sudah tidak bertanya lagi tentang nomor Alex.


Setelah makan, Davino memutuskan untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia bisa mengantar Emely pulang karena hari juga sudah mulai sore. Dia juga meminta Emely untuk membantunya membersihkan luka dilengannya.


"Mel... " Emely yang sedang duduk disofa menoleh kearah pintu kamar milik Davino.


"Ada apa? " Tanya Emely mendekat kearah pintu kamar Davino.


"Aku bisa meminta tolong nggak? " Jangan bilang Davino akan minta tolong dimandikan, Emely akan sangat menolak. Tapi kejauhan sih Emely mikirnya.


"Aku tidak bisa membuka kemejaku." Ucapnya ragu - ragu. Memang kancing kemejanya sudah terbuka semua, tapi mungkin Davino kesulitan mengeluarkan lengan kemeja itu, mengingat ada luka dilengan kanannya.


"Maukan kamu membantuhku Mel? " Tanyanya dengan wajah memelas. Emely mengangguk. Siapa lagi yang bisa menolong pria itu kalau bukan dirinya. Ingat Emely dia bahkan sudah membelikanmu pembalut wanita dan juga luka dilengannya juga karena berkelahi membelamu.


Dengan sangat hati - hati Emely membantu Davino melepaskan kemeja dari tubuh laki - laki itu. Sesekali Davino meringis, disaat tanpa sengaja kemeja itu bersentuhan dengan lukanya. Emely menunduk malu, ketika kemeja itu sudah terlepas dari sih pemakainya.


"Makasih yah Mel." Sambil meraih kemeja itu dari tangan Emely. Kenapa juga Davino sudah bersikap manis seperti itu, membuat Emely lupa kalau dia sangat membenci laki - laki itu.


Sebelum Davino mengantarnya, terlebih dulu Emely membantuh membersihkan dan mengobati luka dilengannya. Dia juga membantuh memakaian kaos untuk Davino. Karena kata pria itu, dia sudah tidak akan kemana - mana setelah mengantar Emely. Jadi kaos oblong adalah pilihan yang tepat untuk ia pakai.

__ADS_1


__ADS_2