
Eduar juga sama terkejutnya ketika membaca surat dari ibunya. Jadi selama ini ibunya itu masih punya keluarga? Eduar berharap suatu saat mereka bisa bertemu keluarga ibunya.
" Lalu kenapa selama ini ibu tidak pernah cerita sama kita kak? " Eduar bertanya sambil melipat kembali surat ibunya.
"Kak Emely juga nggak tahu dek. Apa mungkin ayah yang melarang ibu? " Mereka belum bisa memastikan hal itu dan Emely tidak akan menanyakan rasa penasarannya pada sang ayah. Biarlah nasib menentukan semua itu. Kalau nasib berpihak padanya, mungkin suatu saat dia dan Eduar akan bertemu keluarga ibunya. Namun Emely tidak akan berharap. Karena sudah cukup dia berharap sesuatu yang hasilnya mengecewakannya. Dia pernah berharap Rayhan tidak akan meninggalkannya, namun Rayhan tetap meninggalkannya. Dia berharap ibunya tidak pernah meninggalkannya secepat ini, tapi nyatanya ibunya meninggalkannya. Ayahnya pun demikian. Untuk itulah Emely tidak terlalu berharap, dia dan Eduar bisa menemukan keluarga ibunya.
"Tapi apa maksud... " Ucapan Eduar terpotong. Karena suara ketukan pintu didepan rumah mereka. "Biar Eduar aja kak. " Eduar beranjak dari duduknya, menuju pintu depan rumah mereka.
" Ayah. " Eduar terkejut mendapati ayahnya berdiri didepan pintu. "Eduar, ayah..."
"Untuk apa anda datang kesini? " Muncul Emely menghentikan ucapan ayahnya. Sejauh ini Eduar belum tahu, kalau ayahnya punya andil dengan keadaan ibunya yang tiba - tiba drop dan harus dilarikan ke rumah sakit dan akhirnya meninggal.
"Mel, ayah minta maaf. " Ayahnya tertunduk.
" Tinggalkan rumah ini, kami tidak butuh anda lagi. " Eduar tidak mengerti mengapa kakak perempuannya terlihat begitu membenci ayahnya. Okelah ayahnya pergi meninggalkan mereka, tapi apa harus kakaknya bersikap seolah tidak mengenal sang ayah?
__ADS_1
"Kak, kenapa kak Emely ngomong kayak gitu. Biar bagaimanapun ini ayah kita kak. " Eduar akhirnya angkat suara.
"Dia bukan ayah kita Eduar. Ayah kita udah mati. " Eduar terlihat tidak terima dengan ucapan Emely. Sedangkan sang ayah, tidak protes sama sekali dengan ucapan Emely barusan. Karena sungguh, dia memang bersalah.
"Kak, ingat kata ibu jangan membenci ayah. " Eduar mengambil surat ibunya membukanya lagi, seolah mengingatkan Emely akan perkataan sang ibu. "Di surat ini juga ibu bilang jangan membenci ayah. " Emely tidak bisa membantah, apalagi itu pesan ibunya. Jika saja Eduar tahu, apa yang sudah ayah mereka lakukan dan katakan pada ibunya. Mungkin Eduar akan melakukan hal yang sama dengan Emely. Tapi Emely tidak akan memberitahu Eduar hal itu, biarlah dia sendiri yang akan membenci sang ayah.
" Terserah kamu Eduar, yang jelas kak Emely tidak mau berurusan dengan dia lagi. Emely memilih pergi meninggalkan ayah dan adiknya itu. Masuk kedalam kamarnya dan mengunci diri disana.
***
Hari ini Davino kembali mendatangi rumah orangtuanya. Kata David ditelpon tadi, ayahnya meminta Davino untuk datang, karena ada hal penting yang perlu dibicarakan dengan putra tertuanya itu.
"Aku tidak bisa Dad. Aku sudah ada planing untuk minggu depan. Jadwal aku semuanya padat. " Dengan kata lain Davino berusaha menolak pergi ke rumah Rossa.
"Kosongkan jadwalmu untuk minggu depan. Kamu harus ikut kesana. Karena ini ada hubungannya dengan pertunangan kamu sama Rossa. Kita akan membahas tanggal untuk pertunangan kalian. " Davino terkejut. Apa sudah sejauh itu rencana ayahnya. Davino berdiri dari duduknya. "Pertunangan apaan sih Dad. Udah Davi bilang, Davi itu nggak suka sama Rossa. Davi mencintai gadis lain Dad."
__ADS_1
"Gadis mana yang kau cintai? Apa dia sederajat sama kita. Kalau dia sederajat sama kita, kamu bisa bawa dia kesini. Tapi jika gadis yang kamu cintai, tidak jelas asal usulnya. Jangan harap daddy akan merestuinya Davi. " Itu artinya, ayahnya tidak akan pernah merestui hubungannya dengan Emely.
"Dad, Davi tidak perduli masalah level, asal usul, bobot, bebet dan apalah itu. Itu semua tidak penting untuk Davi. Yang terpenting buat Davi adalah Emely. Gadis yang Davi cintai. " Sejauh ini Fransisco tahu, nama gadis yang dekat dengan putranya dan dari ucapan Davino, Fransisco juga yakin kalau gadis yang dicintai putranya itu tidak selevel dengan keluarganya.
" Tinggalkan gadis itu Davi. " Davino menatap ayahnya tidak percaya. "Ingat kamu selalu mengutamakan keluarga diatas segalanya. Kali ini lakukan hal itu demi keluarga Swam. " Davino menutup matanya, memikirkan ucapan Ayahnya. Benar, selama ini Davino selalu mengutamakan keluarganya diatas segala - galanya. Lalu apakah sekarang dia harus mengakhiri hubungannya yang bahkan belum terjalin dengan Emely.
"Sorry Dad, Davi tidak bisa. " Fransisco berdiri dari duduknya. Baru kali ini Davino menolak permintaannya.
" Jadi kamu lebih memilih gadis itu dibandingkan keluargamu sendiri. "
"Davi tidak memilih Dad, Daddy yang membuat pilihan itu. "
Ayahnya terlihat geram mendengar ucapan Davino. " Pokoknya kamu tinggalin gadis itu dan minggu depan kamu harus ikut kerumah Ruslan. Jika tidak, " Menjeda ucapannya, Fransisco menatap lekat Davino. "Jika tidak, maka Daddy akan mencopot jabatanmu dari perusahaan dan semua fasilitas yang kamu pake akan Daddy sita. " Fransisco yakin, Davino kali ini akan menuruti keinginannya.
Davino mendekati ayahnya, memegang tangan sang ayah, menggenggamnya. Sang ayah kaget saat melihat kunci mobil digenggaman tangannya. Menaruh semua kartu ATM diatas meja. "Ini semua fasilitas yang Davi dapat sebagai anaknya Daddy. Tapi untuk apartemen, Daddy tahu sendiri itu Davi beli pake uang tabungan Davi sendiri. " Fransisco terlihat sangat marah. Davino lebih memilih gadis itu. "Kamu akan menyesal Davi. Karena Daddy tahu, kamu itu tidak bisa pergi kalau nggak pake mobil pribadi. Kamu nggak bisa kalau nggak ada uang. " Davino tersenyum. "Semuanya bisa Davi jalani Dad, kecuali satu. " Davino melangkah meninggalkan sang ayah. "Meninggalkan Emely. "
__ADS_1
______
Aku radah bingung, mau lanjutin yang mana dulu. Novel yang ini atau yang satunya lagi. Kalau secara bersamaan, kayaknya aku kewalahan. Apalagi sekarang aku punya pekerjaan yang juga butuh waktu ekstra didunia nyata. Sepertinya aku akan mengutamakan novel yang banyak penggemarnya dulu deh. Aku bahkal lihat mana novel yang aku utamakan dulu.