
Like sebelum membaca.
_________
Emely sudah pulang dari rumah sakit dua hari yang lalu. Elisa ibunya dan Eduar yang membawanya pulang. Sebelum itu Alex sudah memberitahu Emely perihal segala administrasi rumah sakit yang sudah dibayar Davino pagi itu disaat dirinya meninggalkan rumah sakit.
Semenjak malam Davino datang keruangannya dan tidur disana. Emely sudah tidak lagi melihat Davino. Bahkan disaat Emely bangun pagi itu, Davino sudah tidak ada diruangannya.
Emely berencana akan mulai bekerja kembali besok hari. Haruskah ia mengabari Davino terlebih dulu? mengabarkan bahwa dia akan kembali bekerja besok?
Emely meraih ponselnya di nakas. Mencari kontak bernama Devil disana. Panggilan pertama tersambung namun tidak diangkat.
Menghubungi lagi dan akhirnya diangkat juga.
"Mel... "
***
Emely setengah berlari memasuki bassment apartemen Davino. Bahkan lift yang membawanya terasa sangat lama untuk sampai diunit apartemen milik Davino. Menekan angka pembuka pass kode apartemen, yang memang diberitahu Davino padanya saat dia pertama kali bekerja.
Mencari sosok pria yang terdengar kesakitan diujung telpon tadi. Tidak ada disegala ruangan apartemen. Hanya satu ruangan yang belum Emely lihat. Yaitu kamar pria itu.
Dengan langkah perlahan, Emely melangkah ke pintu kamar yang merupakan awal kebenciannya pada Davino. Kamar dimana dirinya kehilangan kehormatannya sebagai seorang wanita.
Memutar handle pintu perlahan, sambil menarik nafasnya panjang dan menghembuskannya perlahan Emely mulai masuk kedalam kamar itu. Emely bahkan masih ingat dengan jelas bagaimana Davino memperlakukannya waktu itu. Air matanya jatuh tak terbendung. Namun ia berusaha kuat dan menghapus air matanya. Karena melihat Davino terbaring lemah diatas ranjangnya.
"Davi... " Duduk ditepian ranjang sambil menaruh punggung tangannya didahi Davino.
__ADS_1
"Ya Tuhan, kau panas sekali. " Davino perlahan membuka matanya.
"Mel..." Hanya itu yang keluar dari bibirnya.
"Bertahanlah aku akan menghubungi Alex. " Ucap Emely mulai beranjak. Namun Davino menahan pergelangan tangannya dan menggeleng. Lalu kembali menutup matanya.
" Lalu aku harus apa? " Emely berlari kearah dapur. Kembali lagi dengan baskom air es dan kain kompresan. Menempelkannya di dahi Davino, beberapa kali.
Emely ingat, sebelum pembelokan arah apartemen Davino, ada apotik. Emely pun pergi kesana untuk membeli obat untuk Davino.
***
"Davi, ayo makan dulu. " Membangunkan Davino. Menaruh dua bantal untuk dijadikan sandaran Davino, Emely pun dengan telaten menyuapi bubur yang sudah dibuatnya, setelah membeli obat tadi.
Hanya beberapa sendok yang masuk dimulut Davino. Karena pria itu memang tidak menyukai bubur semenjak kecil. Bahkan disaat sakit, dia lebih memilih tidak makan dari pada harus makan bubur.
"Kamu harus makan." Emely kembali menyuapi bubur itu dan Davino pun perlahan menghabiskannya.
"Sekarang minum obat. " Pasrah dengan segala perlakuan Emely. Menelan semua yang Emely berikan padanya. Dia bahkan akan menolak jika ibunya memberi obat. Walaupun sesakit apa dirinya.
"Sekarang kamu bisa istirahat lagi. " Emely mengambil kembali bantal dan menaruhnya ketempat semula. Agar pria itu bisa tidur kembali dengan nyaman. Menyelimuti Davino, Emely terkejut ketika Davino memeluknya. Dapat Davino rasakan tubuh Emely menolak.
"Sebentar saja Mel. Biarkan seperti ini, sebentar saja. Aku benar - benar lelah Mel. " Ucap Davino lirih. Emely pun membiarkan Davino memeluknya. Davino pasti lelah karena harus bekerja dan membagi waktunya menjaga dirinya dirumah sakit.
Setelah beberapa saat, Davino melepaskan pelukannya dan mulai mengambil posisi tidur karena kepalanya masih terasa pening.
"Kau pulanglah Mel. Kau juga baru sembuh, jadi kau butuh istirahat juga. " Niat hati ingin menahan, namun dia juga tidak ingin egois.
__ADS_1
" Baiklah kalau begitu. Lagipula ini sudah hampir malam. Kalau ada apa - apa kau bisa hubungi Alex atau keluargamu yang lain. " Davino mengangguk sambil tersenyum. Berusaha menunjukan kalau dia baik - baik saja.
"Yah udah, aku pulang yah. " Lagi - lagi Davino hanya mengangguk. Emely pun pulang dari apartemen laki - laki itu.
***
Emely tidak bisa tidur malam itu. Entah mengapa wajah pucat Davino, selalu merasuk dipikirannya. Apakah laki - laki itu sudah menghubungi anggota keluarganya untuk menemani atau menjaganya? Begitu ia bertanya - tanya.
Davino bahkan menjaga dirinya di rumah sakit. Ah, pria itu. Emely bangun dari ranjangnya.
"Oke, aku pastikan dulu ke apartemennya. Kalau sudah ada keluarganya, aku akan langsung pulang. " Mulai mengganti pakaian tidurnya dan memesan taxi online.
"Kamu mau kemana nak? " Ternyata ibunya juga belum tidur.
" Sisil sakit bu. Emely mau melihat dia sebentar aja. Tidak ada orang juga dirumahnya. " Maaf Emely harus berbohong lagi. Ibunya pun mengijinkan.
Disinilah Emely sekarang, memasukan kembali pass kode apartemen. Emely masuk perlahan kedalam apartemen. Ruang tengah terlihat gelap. Emely yakin Davino tidak menghubungi keluarganya. Emely menyalahkan semua lampu sebelum masuk kembali mendapati Davino yang tengah tertidur.
Pakaian yang dipakainya basah karena keringat. Bahkan obat yang harusnya dia minum satu jam yang lalu, masih tidak tersentuh sama sekali.
Emely mencari baju pria itu di lemari. Setelah menemukannya, Emely membangunkan kembali Davino yang terlelap.
"Ganti baju dulu. " Setengah sadar, Davino membiarkan Emely memakaikan bajunya. Melihat Davino yang sudah tidak bisa membuka matanya, Emely kembali membaringkan tubuh Davino. Tidak memaksa pria itu meminum obatnya. Karena Davino masih sangat panas, Emely hanya bisa menaruh kompresan didahinya. Sesekali Emely menggantinya.
Menatap wajah Davino yang tertidur. Entah mengapa rasa bencinya kepada pria itu perlahan memudar. Bukan karena Emely mulai suka, tapi lebih kepada memaafkan. Setiap orang butuh kesempatan untuk memperbaiki kesalahannya bukan? Itulah Emely lakukan saat ini. Memaafkan Davino.
---------------
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak. Vote dan rate 🙏