Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 25


__ADS_3

Emely diam seribu bahasa. Bahkan sesekali ia menunduk, lalu melihat keluar jendela.


Yah, akhirnya Emely diantar oleh Davino. Karena tante Alea yang tidak enak hati Emely pergi sendiri, menggunakan taxi atau angkutan umum akhirnya juga meminta bantuan Davino untuk mengantar Emely. Walaupun Emely sudah berusaha menolak tetap saja tante Alea menyuruh Emely naik kedalam mobil Davino. Ditambah Davino yang juga mengatakan tidak keberatan mengantarnya. Sedangkan Alex sebelum pergi menjemput papinya, dia bahkan beberapa kali meminta maaf kepada Emely karena tidak bisa mengantar Emely pulang atau ketempat kerja yang masih ambigu menurut Alex.


"Jadi kau benar - benar tidak mengenal aku? " Tanya Davino yang tetap fokus mengendarai mobilnya. Emely diam, lagipula dia harus jawab apa sekarang. Dia terlalu takut untuk menyinggung laki - laki yang sekali kali melihatnya itu. Kalaupun ia harus menjawab bahwa dia mengenalnya, tapi apa itu disebut kenal jika pertemuan mereka sebenarnya sesuatu yang ingin Emely lupakan.


"Apa kau tidak punya mulut. " Mulai kesal sendiri karena diabaikan.


" Kemana aku harus mengantarmu? " Lagi - lagi bertanya walaupun pertanyaan tadi juga diabaikan oleh Emely. "Bar Diamont Star. " Akhirnya pertanyaan tadi dijawab Emely. Karena memang kesitulah tujuannya.


Davino berdecak. "Ck. Apa kau masih punya nyali untuk tetap bekerja disitu? Apa kau tidak sadar, bisa saja ada pria yang sama yang mengatakan kalau kau... " Davino menggantung ucapannya.


" Kalau aku apa? Murahan. " Emely yang meneruskan ucapan Davino. Emely tahu pria itu akan mengatakan hal itu. Sedangkan Davino, dia diam. Lalu dia berucap lagi. " Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku sudah menolongmu malam itu. "


"Aku harus berterima kasih untuk apa? Apakah untuk pria yang mengatakan aku murahan atau pria yang membuat aku terlihat murahan. " Emely bahkan lupa tidak seharusnya ia menyinggung laki - laki yang ada disampingnya saat ini. Namun entah mengapa dia tidak bisa menahan ucapannya barusan.


"Kau benar - benar menguji kesabaranku. " Ucap Davino memutar arah. Tadinya dia mau mengantar Emely ke tempat kerjanya namun sekarang niatannya hilang begitu saja. Emely mulai cemas dan menyesali ucapannya. Seharusnya dia diam saja, biarlah harga dirinya terluka asal dia tidak berada disituasi seperti ini.


***


Apartemen Davino


"Kenapa kamu membawaku kesini? Kamu mau apa? " Emely memundurkan langkahnya ketika Davino mendekatinya.


"Hanya ingin membuatmu mengingat kejadian yang selama ini tidak bisa aku lupakan. Kau bilangkan kalau kau tidak mengenal aku. Jadi aku akan membantumu mengingatnya. " Ucap Davino yang berusaha mendekati Emely.


"Jangan mendekat. " Pinta Emely pada Davino. Namun Davino tetap mendekat kearahnya yang sudah tersudut.


***


Emely menangis menutup tubuhnya dengan selimut. Sedangkan Davino sudah keluar kamar meninggalkannya. Davino mengambil air mineral dilemari es. Sesekali ia merutuki kebodohannya. Dia sudah dua kali meniduri Emely secara paksa. Tidak bukan dua kali, tapi tiga kali karena tadi dia melakukannya dua kali.

__ADS_1


" Pertama dia mengatakan kepada gadis yang dibawanya, ini hukuman karena kau berani melupakan aku. "


"Kedua kalinya disaat dia melakukan hal yang sama pada Emely, dia berucap "Ini hukuman karena kau mendekati sahabatku. Jadi jauhi sahabatku sebelum aku bertindak lebih kejam padamu. "


Dan yang paling Davino sesali kalimat terakhirnya "Alex terlalu sempurna untukmu. " Seakan - akan Davino ingin mengatakan kepada Emely bahwa Emely tidak pantas bersanding dengan sahabatnya itu. Ini yang dipikirkan Emely sewaktu Davino mengatakan itu.


Disaat Davino sibuk dengan pikiran yang sudah tidak sejalan dengan hatinya. Davino tidak menyadari jika diam - diam Emely pergi dari apartemennya. Yang harus Emely syukuri, Davino tidak merobek pakaiannya seperti waktu pertama kali Davino menidurinya. Bahkan dalam kemarahan, Davino sangat lembut melakukannya. Tapi apa Emely merasakan hal yang sama, tidak tentunya. Karena gadis itu semakin terluka dan membenci sangat banyak pada Davino.


Davino kembali kekamarnya, namun tidak ditemukannya gadis itu disana. Hanya kamar yang berantakan yang tersisa, hasil Emely yang berusaha menghindarinya tadi.


Davino mengejar Emely, namun sayang Emely sudah benar - benar pergi.


"Shit. Kenapa aku harus menyakitinya demi menutupi perasaanku. " Davino mengambil mobilnya, berusaha mengejar Emely namun Emely seperti menghilang ditelan gelapnya malam.


***


"Kak Emely sudah pulang? " Tanya Eduar melihat kakak perempuannya yang baru saja masuk kedalam rumah.


***


Sudah hampir sebulan dari kejadian itu. Emely memutuskan berhenti bekerja dari Bar milik kak Boy. Itupun dengan sangat terpaksa dia mengundurkan diri hanya lewat sambungan telpon. Dia juga sudah tidak pernah bertemu Alex. Keadaan ibunya juga berangsur - angsur membaik. Bahkan ibunya sudah bisa keluar kamar dan sesekali duduk diteras rumahnya.


Selama hampir sebulan itu, Davino diam - diam mencarinya. Namun gagal karena dia tidak bisa menemukan dimana keberadaan gadis itu. Bahkan orang - orang suruhannya, tidak bisa menemukan tempat tinggal Emely. Mungkin karena Emely berasal dari keluarga sederhana, jadi info tentang mereka juga sangat minim. Ditambah rumah yang dia tempati atas nama ayahnya. Jadi Davino benar - benar tidak memiliki bekal apa - apa untuk mencari keberadaan Emely.


"Bodoh. Kenapa aku bisa sebodoh ini kalau menyakut gadis itu. Boy pasti tahu dimana Emely tinggal. " Ucap Davino meraih kunci mobil dan menuju Bar Diamont Star yang pernah dikunjunginya tiga hari yang lalu, hanya untuk mencari sosok gadis yang dirindukannya itu.


***


Emely tidur dipangkuan ibunya, setelah tadi mereka ngobrol bersama Eduar diruang keluarga.


"Kamu ada masalah nak? " Tanya Ibunya, yang melihat perubahan sikap anaknya yang dulu biasanya ceria sekarang lebih pendiam.

__ADS_1


"Tidak ada bu, Emely baik - baik saja. Tidak ada masalah apapun. " Ucapnya lagi - lagi memaksakan senyuman.


"Baiklah kalau begitu, kembalilah kekamarmu. Ibu juga sudah ngantuk. " Sebelum Emely pergi, dia mencium pipi kanan ibunya dan megucapkan selamat malam.


Emely masuk kedalam kamarnya dan mengunci pintu kamar, namun dia baru ingin teriak karena mendapati seorang pria yang sudah berdiri dikamarnya, buru - buru pria itu membekap mulutnya. Walaupun suaranya sudah terdengar oleh Eduar tadi.


"Kak Emely, kakak kenapa? " Eduar mengetuk pintu kamar kakaknya.


"Kakak tidak apa - apa, kakak hanya kaget saja. Soalnya tadi ada kecoa." Ucapnya setelah pria itu membuka bekapan mulut Emely.


"Oh hanya kecoa saja. " Kalimat terakhir yang Emely dengar sebelum Eduar akhirnya berlalu dari pintu kamarnya.


Laki - laki tadi dengan santainya, naik keranjang Emely, tidur disana dan menepuk sisi ranjang disampingnya yang bahkan tidak cukup untuk menampung seorang lagi.


"Kemarilah. " Ucapnya dengan suara beratnya. Emely tentu tidak mendengarkannya.


"Apa aku harus berteriak memanggilmu, agar adik dan ibumu juga bangun. " Ucapnya dengan nada mengancam.


" Aku ingin tidur denganmu, bukan untuk menidurimu. Kemarilah, jangan membuatku mengulang kata - kataku. Jika aku sampai mengulang kata - kataku, maka jangan salahkan aku jika kata yang kuucapkan sebelumnya akan berbalik. " Lagi - lagi mengatakan dengan lembut namun ujung - ujungnya mengancam.


______________


Siapakah pria itu? Hahaha kalian pasti bisa menebaknya.


Dan apakah Emely ingin kata - kata pria itu berbalik. Dari hanya ingin tidur menjadi meniduri? Pilihan ada ditangan Emely.


Oke. Sejauh ini sampai disini dulu yah, tetap sabar menunggu bab berikutnya.


Dukungan kalian adalah semangat saya.


See u again... Next chapter.

__ADS_1


__ADS_2