Perjuangan Emely

Perjuangan Emely
BAB 56


__ADS_3

Emely tidak memiliki keberanian untuk membela diri. Apa yang dikatakan Ana benar. Tidak ada yang bisa membenarkan seorang wanita jika dia sudah ternoda. Menunduk antara malu dan tidak berdaya. Emely tidak percaya, Ana sahabatnya bisa bicara setajam itu padanya.


"Jangan bilang kamu bayar pake tubuh kamu. "


"Ana. " Sisil dan Rayhan bersamaan membentak Ana. Karena suara tegas mereka, membuat sebagian pengunjung Mall, menatap kearah mereka. Termasuk pria yang baru saja akan keluar Mall.


"Emely. " Gumamnya.


Rossa yang kalah itu ada didepan Davino, menyadari bahwa Davino berhenti berjalan, dibelakangnya. Melihat Davino yang sedang fokus mengamati beberapa orang yang berdiri dekat stand kue. Rossa segera meraih tangan Davino. Karena dia sudah tahu alasan Davino menghentikan langkahnya.


"Ayo. " Rossa tahu, Davino sedang melihat gadis yang waktu itu ditemuinya di Butik. Kali ini Rossa tidak akan membiarkan Davino menghampiri gadis itu.


"Benarkan dugaan aku. Bukannya kamu nggak baik yah Mel, tapi memang nggak mungkinlah pria sekeren dan sepopuler dia bisa jatuh cinta sama kamu. Lagi pula yah Mel, kalau kamu dapatin dia pasti kamu beruntung banget. " Samar - samar Davino dapat mendengar apa yang diucapkan Ana.


Davino sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga jarak dengan Emely, untuk tidak lagi membuat Emely menderita setiap kali ada didekatnya. Davino tidak akan ikut campur lagi tentang kehidupan gadis itu. Davino berusaha melepaskan. Bukan karena tidak cinta, tapi lebih kepada berhenti untuk saling menyakiti.


"Apa dia tidak bisa membungkam mulut temannya. " Geram sendiri melihat Emely yang hanya bisa menunduk dan dia membenci melihat Emely menangis.


"Aku harus bisa menahan semua ini. " Berusaha sekuat hatinya, mengabaikan Emely dan juga teman - temannya. Davino menutup matanya, mulai melangkahkan kakinya, disaat Rossa menariknya. Rossa tersenyum, Davino lebih memilih mengikutinya. Sampai dia menyadari Davino menghempaskan tangannya. Berbalik dan berjalan kearah dimana ada Emely disana.


"Siapa bilang aku tidak jatuh cinta padanya? Aku bahkan tergila - gila padanya. Bukan dia yang beruntung mendapatkan aku, tapi aku yang paling beruntung mendapatkan gadis sebaik dan secantik dia. Andai saja dia memberi kesempatan itu, betapa beruntungnya aku. Sayang dia menolakku. "

__ADS_1


Semua mata mencari asal suara itu. Begitu juga Emely, dia mengangkat kepalanya. Suara ini sudah sangat dihafalnya. Suara Davino Swam. Sisilia tersenyum bahagia, saat melihat perubahan raut wajah Ana yang berubah pias mendengar perkataan Davino barusan.


"Davi... " Rossa mengikuti Davino dan merangkul lengannya. Bukan Emely yang tidak suka melihat itu, tapi Sisil.


" Ayo kita pulang. " Rossa berucap sambil memandang Emely tidak suka.


Melepaskan tangan Rossa yang melingkar dilengannya, Davino malah meraih tangan Emely. Menariknya keluar Mall.


Rossa menatap kesal kearah kedua orang yang baru saja keluar pintu Mall. Sedangkan Sisil, gadis itu malah senang melihat kedua orang itu.


"Ayo Ray. " Ana meraih lengan Rayhan, hendak mengajaknya. Namun Rayhan malah menghempaskan tangannya


" Aku mau pulang. Kau bisa pulang sendiri naik taxi atau nebeng sama Sisil. " Setelah mengatakan itu Rayhan berlalu meninggalkan Ana yang mematung ditempatnya. Dia tidak percaya Rayhan meninggalkannya.


Sementara Rossa, gadis itu juga pulang dari Mall dengan wajah kesal.


"Aku akan membuat perhitungan dengan wanita itu, lihat saja. " Ucapnya dengan mengempalkan tangan.


***


"Kamu itu kenapa sih diam aja, saat dikatain seperti itu. " Sambil menyetir mobilnya, Davino memarahi Emely.

__ADS_1


" Emang aku harus jawab apa? " Emely berucap lirih. Apa yang dikatakan Ana pada dasarnya adalah benar.


"Kau harus jawab apa saja, sesuai dengan apa yang kamu rasakan. Kalau kamu marah katakan marah, kalau kamu tidak suka ucapan gadis itu, kau bisa menamparnya." Davino sepertinya sangat kesal, dari suaranya saja sudah sangat jelas pria itu, sedang menahan kekesalannya pada Emely.


Masih bergeming, Emely ingin sekali mengatakan sesuatu.


" Jangan pendam sendiri hanya karena kamu menjaga perasaan mereka. Tho, mereka belum tentu menjaga perasaan kamu... Kalau kamu... "


"Aku rindu padamu. " Memotong ucapan Davino. Emely sudah berusaha menahan kalimat itu dari bibirnya. Sungguh, dia sangat rindu pria itu. Emely juga tidak mengerti, apa yang sebenarnya terjadi dengannya. Seminggu tidak bertemu Davino, seminggu pria itu tidak menghubunginya, seminggu tidak mengunjungi apartemen pria itu, membuat harinya hampa. Ada yang seolah hilang selama seminggu ini dan Emely sadar dia sudah terbiasa dengan sosok pria yang sekarang menatapnya tidak percaya.


"Mel, aku... " Davino bahkan tidak tahu ingin merespon seperti apa. Lalu yang selanjutnya dia lakukan adalah mengangkat satu tangannya, menaruhnya diatas kepala Emely. Dia mengelus rambut Emely dengan lembut.


"Aku jauh merindukanmu..." Ucapnya dengan binar bahagia dimatanya.


____________


Dukung Emely dan Davino yah...


Kalau ada Typo abaikan dulu yah.


Semoga kalian suka part ini...

__ADS_1


Vote, rate dan share yah.


__ADS_2